My Sunshine

My Sunshine
Terkecoh



Malam pun tiba. Raka bersiap dengan segala peralatan tempurnya. Sebagai tameng untuk menjaga diri tentunya. Dion tersenyum melihat tingkah menggemaskan Raka. Entahlah, melihat bocah tampan itu begitu serius membela sang ayah membuat hati Dion tergerak untuk terus mendukungnya. Bocah yang berusia belum genap sebelas tahun ini begitu baik hati dan tak pernah mengeluhkan apapun. Membuat Dion yakin bahwa bocah ini adalah calon penerus yang bisa diandalkan.


Beberapa menit yang lalu, mereka mendapatkan kabar gembira. Bahwa sang ayah sudah berhasil selamat dari maut dan kini telah dipindahkan di ruang perawatan. Hanya saja, belum siuman. Mungkin pengaruh obat bius. Tetapi alat vitalnya baik-baik saja. Hanya menunggu sebentar lagi dan mereka yakin kalau Zidan pasti akan segera sadar.


"Gimana Raka? Siap?" tanya Dion semangat.


"Siap Om, yang penting ayah ada yang jaga!" jawab Raka, sedikit khawatir. Sebab Ia tak mungkin meninggalkan sang ayah sendirian.


"Ada, itu mereka!" jawab Dion sembari menunjuk beberapa orang yang ia percaya untuk menjaga sang kakak.


"Oke, makasih Om. Oiya Om, kalo bisa jangan kasih tahu opa dulu. Takutnya beliau memberi tahu pada kakaknya tentang pergerakan kita. Raka yakin, saat ini opa pasti sedang ditekan oleh kakak dan kawanannya," pinta Raka, sebelum mereka memulai aksi mereka kali ini.


Dion menatap bangga pada Raka. Sebab pemikiran benar bocah ini sering tak terduga. Dion sungguh tak menyangka, jika Raka selalu memperhitungkan apa yang hendak mereka lakukan.


"Untung kamu ingetin Raka, ini udah mau balas pesan papi, aku," jawab Dion sembari tersenyum. Raka pun membalas senyuman itu. Kemudian, merasa tak ada lagi yang harus mereka bahas, ia pun segera mengenggendong tas ranselnya yang berisi barang-barang berharganya.


"Kita pastikan ayah aman dulu, Om!" pinta Raka pada Dion.


"Heemmm! Oiya, kenalin dulu, ini Dewa, ini Yogi dan ini Sapron. Mereka adalah teman kuliah Om, sekaligus sahabat Om. Kebetulan mereka tinggal di sini. Jadi Om minta bantuan mereka," ucap Dion sembari memperkenalkan ketiga temannya.


"Saya Raka, Om. Terima kasih atas bantuannya. Raka titip ayah sebentar ya Om," ucap Raka pada ketiga sahabat Dion.


"Tenang Raka, Kami pasti jaga ayahmu dengan baik," jawab salah satu dari mereka.


Lalu, setelah itu, Raka masuk ke dalam ruangan di mana Zidan dirawat. Bermaksud berpamitan dan meminta doa restu sang ayah. Karena saat ini orang yang akan ia hadapi adalah pe jahat sesunguhnya. Baginya, doa Zidan adalah sesuatu yang sangat penting baginya.


Setelah merasa aman, Raka dan Dion pun segera melangkah pergi. Mereka tak mau Nandita dan Kartika terlalu menunggu. Mereka sudah berjanji akan menjemput dua wanita yang sangat mereka sayangi itu.


Sayangnya, untuk menuju ke sana tidaklah mudah. Dalam perjalanannya, tak sengaja, sudut mata Raka menangkap dua orang yang ia curigai. Mengendarai motor, mengikuti mereka.


"Om, hati-hati. Ada yang ngikutin kita!" ucap Raka memberi tahu.


"Mana?" tanya Dion sembari terus berkonsentrasi pada jalanan yang ada di depannya.


"Tu, motor king. Bukankah itu motor yang ada di depan gudang itu!" jawab Raka, sebab ia sangat ingat nomer plat sekaligus warna motor tersebut.


"Kamu benar, tebar paku aja, Ka! Kita nggak usah buang-buang waktu ngadepin cecunguk yang nggak penting!" jawab Dion.


Melihat jalanan mulai sepi, Raka pun mencari ancang-ancang untuk menyebar paku yang siap dalam gengamannya.


"Om, dalam hitungan ketiga. Om ngerim ya, biar mereka terkejut!" pinta Raka.


"Oke!" Dion pun mulai bersiap-siap menurunkan kecepatan mobil, guna menginjak rem, tentu saja agar mobil tidak oleng dan keamanan mereka tetap terjaga.


"Satu... dua... tiga... Oke Om!" ucap Raka sembari menyebar paku. Dion pun tanggap. Dengan cepat ia menginjak rem, mengikuti arahan Raka.


Benar saja, perhitungan bocah tampan ini sama sekali tidak meleset. Melihat Dion mengijak rem mendadak, tentu saja mereka kaget. Mereka pun ikut mengerim. Sehingga tanpa sengaja, ban motor dua preman itu menginjak paku-paku yang telah Raka sebar. Dan yes.... merek berhasil.


"Mampus!" ucap Dion senang.


Raka hanya tersenyum. Namun, tak mengurangi sedikitpun rasa waspada di dalam hati dan pikiran bocah ini. Sebab ia yakin, masih ada rintangan yang mereka hadapi. Raka yakin itu.


"Om, sebaiknya kita putar balik. Feeling Raka mengatakan kalo kawanan mereka pasti ada di depan. Buktinya, pengendara itu menggiring kita ke sini. Kalo di depan nggak ada kawanan mereka, pasti pengendara itu sudah menembak kita!" ucap Raka, sesuai analisa yang ia pelajari.


"Kamu benar, Raka. Astaga! Lagi-lagi aku kalah cerdas denganmu!" jawab Dion membenarkan pemikiran sang keponakan.


Tak ada alasan lagi buat Dion untuk tidak menurut pada bocah tampan ini. Ia yakin, apa yang dikatakan Raka ada benarnya. Meskipun tidak, yang penting mereka selalu jaga kewaspadaan. Karena itu poin paling penting dalam misi ini.


***


Apa yang dikatakan Raka, nyatanya bukalah isapan jempol belaka. Nyatanya, saat ini, ketua geng besutan Ronal marah besar. Karena target yang mereka tunggu tak jua datang. Sudah dua jam mereka menunggu di tempat ini, sedangkan kedua anak buahnya tak bisa dihubungi. Dia yakin, jika pihak musuh telah berhasil mengecohnya. Atau mungkin telah menghabisi anak buahnya.


Bersambung....


Tegang ya... Oke next eps sedang dalam perjalanan yes... jangan lupa like komen dan vote yes... Boleh juga mampir di karya on goingku yang lain..


Penjara Cinta Untuk Stella


Ketulusan Hati Istri Kedua


Mereka menggemaskan loh🥰🥰🥰🥰