
Angin malam berhembus begitu lembut. Menyapu wajah-wajah pria yang kini sedang dilanda kalut. Pertemuan yang menghadirkan sejuta tanya itu, ternyata belum diharapkan oleh Zidan.
Entahlah, Zidan hanya merasa belum siap bertemu dengan ayah kandungnya. Segulung rasa kecewa yang pernah ada. Kini menyeruak sempurna di dalam sanubari nya. Rasa sakit yang pernah ia rasakan di masa kecil, seperti hadir kembali dalam ingatannya.
Zidan ingat betul. Saat baru-baru sang ayah meninggalkannya. Setiap malam Zidan kecil harus menghadapi ketakutan. Karena Ratna, sang ibunda sering menyerang tiba-tiba, mencekiknya tanpa belas masih. Ratna sering berniat membunuhnya. Jika ditanya, alasan Ratna hanya satu yaitu dia benci Zidan. Karena Zidan mirip dengan Galih.
Zidan menatap sekilas pada pria yang kini terlihat berbeda dengan pria yang ada di bayangannya. Pria itu memang masih terlihat gagah. Hanya saja ada beberapa uban yang terlihat mengkilat di sela-sela rambut hitamnya. Mata Zidan bukan hanya tertuju pada Galih. Namun juga pada Dion. Seorang pria yang selama ini ia kenal sebagai asisten pribadinya.
Namun sekarang, seakan pria itu menjelma menjadi orang lain. Aneh tapi nyata, Dion malah diakui anak oleh Galih. Mungkinkah Dion juga putri Galih, tapi dari perempuan lain. Entahlah, persentan dengan itu, batin Zidan kesal.
Sekarang, bayangan itu kembali nyata membelah angan. Zidan gemetar. Lututnya tiba-tiba lemas. Andai saat ini pertemuan mereka bukan di rumah sang calon istri. Andai pertemuan ini tidak di depan Kartika, tidak di depan Raka. Mungkin Zidan akan memilih lari. Menghindar saja. Karena jujur, luka yang ia rasakan sepertinya kembali mengangga. Zidan menangis dalam diam.
Berbeda dengan apa yang Zidan rasakan. Galih bersikap senormal mungkin. Seakan tidak pernah terjadi apapun antara dirinya dan Zidan. Membuat Zidan muak.
Zidan diam. Begitupun Galih. Membuat Kartika semakin curiga. Namun, sebagai wali dari Zidan, Galih merasa wajib mengambil langkah ini. Ia tak ingin, sang putra hanya menunggu untuk meraih kebahagiaan
Berlandaskan tujuan yang ingin melihat sang putra bahagia, akhirnya Galih pun memberanikan diri membuka suaranya terlebih dahulu.
"Emmm, begini Bu! Maksud kedatangan saya dan juga adeknya Zidan," ucap Galih sembari menunjuk Dion sebagai adik Zidan, kepada Kartika. Sedangkan Zidan menatap lepas pada Dion. Ingin langsung bertanya. Tetapi, Zidan tak ingin dianggap menyela. Dengan keteguhan hatinya, pria tampan ini pun berusaha menahan keinginannya.
"Ya, silakan. Bapak mau bicara apa?" tanya Kartika tak sabar. Sebab sedari tadi dia ingin ke belakang.
"Heem, sebelumnya perkenalkan nama saya Galih Giovano, saya adalah ayah dari Zidan sekaligus Dion." Galih menatap Zidan. Begitupun dengan pria tampan ini. Zidan juga menatap sang ayah. Namun tatapan pria tampan ini tidak seperti tatapan sang ayah padanya. Yang teduh dan penuh kasih sayang. Tatapan Zidan pada Galih seperti tatapan kesal dan rasa tidak suka.
"Ya, saya sudah tahu. Dari tadi anda sudah bilang kan. Yang ingin saya tanyakan adalah tujuan anda datang ke mari, Pak? Mau menjemput Zidan, atau bagaimana?" Kartika mulai menunjukkan rasa tak sabarnya. Membuat Galih yang sudah lama tak menghadapi wanita jadi sedikit gugup. Sedangkan Dion terus saja tersenyum menahan tawa. Sebab ia tahu bagaimana gugupnya sang ayah menghadapi ibu Kartika.
Dari pihak Zidan sendiri, masih diam. Pria tampan ini masih belum protes. masih berusaha menahan diri untuk tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Kalau soal itu saya sebagai orang tua Nandita tak bisa berbuat banyak, Pak. Zidan sudah tahu alasannya kan?" jawab Kartika. Sedangkan Zidan hanya tersenyum.
Suasana sedikit rikuh. Zidan tak menyangka jika sang ayah akan melangkah sejauh ini. Tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya. Bahkan basa-basi pun tidak. Seakan pria itu begitu tahu keinginannya. Begitu tahu apa yang sebenarnya sang putra harapkan.
"Bukan hanya pada Zidan. Kita juga harus mendengar pendapat dari calon pengantin wanitanya. Mau bagiamanpun yang akan menjalani adalah mereka. Kalau saya pribadi terserah anak-anak saja, Pak. Kita sebagai orang tua ma apa? Hanya bisa mendukung sekaligus mendoakan yang terbaik. Itu saja," jawab Kartika. Terdengar dewasa dan apa adanya.
Galih memahami apa yang Kartika sampaikan. Tak dipungkiri bahwa ia pun berpendapat sama. Sama seperti yang Kartika sampaikan. Namun, entahlah kenapa dia jadi melangkah sejauh ini.
"Baik, Bu saya paham. Oiya, di mana calon mantuku?" tanya Galih penasaran. Sebab sedari tadi ia tak melihat wanita itu.
"Dia ada, sebentar!" jawab Kartika sembari beranjak dari duduknya. Tetapi dengan cepat Zidan melarang.
"Maaf, Bu. Sepertinya Dita sudah tidur. Tadi kepalanya agak pusing katanya," ucap Zidan.
"Baiklah. Ibu mengerti, pasti dia kelelahan. Okelah, biar besok ibu bicarakan masalah ini dengannya. Maaf Pak, mengecewakan," ucap Kartika.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti kok." Galih menghela napas dalam-dalam. Sebenarnya dia kecewa. Namun ia menyadari dan mengerti tentang apa yang dilalui Nandita hari ini. Meskipun gagal, ia akan tetap berusaha.
Perbincangan di akhiri. Zidan berpamitan terlebih dahulu. Ia tak ingin memperpanjang pertemuan ini. Pria ini tak ingin Kartika semakin curiga, bahwa sebantnya ia tak menyukai pertemuan ini. Tak menyukai orang yang ia anggap asing ikut campur dalam urusan pribadinya. Terlebih terhadap hubungannya dengan Nandita.
Bersambung....