My Sunshine

My Sunshine
MARAH



Dion mengejar Zidan di pelataran rumah Nandita. Berharap sang kakak mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu. Sebelum dia pergi, meninggalkan tempat ini. Dion tak mau jika sang kakak pergi membawa kecewa yang menimbulkan luka. Dion tak ingin jika nantinya Zidan salah paham. Dan akhirnya dendam padanya. Pada ayah mereka.


"Bang! Dengerin penjelasanku dulu!" pinta Dion.


Zidan menghentikan langkahnya. Tetap bergeming di tempat. Tanpa menoleh ke arah pria tampan yang memanggilnya dengan sebutan 'Abang' itu. Jujur Zidan tak suka dipanggil seperti itu. Apa lagi yang memanggilnya adalah pria yang tak ia ketahui asal-usulnya.


"Bang, papi jauh-jauh datang ke sini untuk Abang. Untuk mendukung apa yang Abang inginkan. Untuk melindungi gi abang dari musuh-musuh, Abang. Ayolah, Bang. Jangan seperti ini! Masak papi ditinggal gitu aja?" ucap Dion pelan.


"Bang, Papi sangat merindukanku


Beliau ingin lebih dekat denganmu. Pqpi ingin abang percaya diri. Bahwa Abang tidak sendiri," tambah Dion lagi.


"Untuk apa? Sudah terlambat! Aku tak butuh, bawa aja dia pergi!" ucap Zidan ketus.


"Bang jangan begitu, selama ini papi... " ucap Dion. Namun sayang, belum selesai Dion menyelesaikan kata-katanya, Zidan memilih kembali melangkah dan masuk ke dalam mobil.


Dion tak mau kalah, ia kembali mengejar sang kakak. Ikut masuk ke dalam mobil milik Zidan.


Zisan bertambah kesal. Bagaimana tidak? Pertemuannya dengan Galih, rasanya itu sudah cukup menguras emosinya, sudah cukup membuatnya kecewa. Lalu apa lagi sekarang? Apa lagi yang hendak mereka buktikan? Kasih sayang! Hah, basi, batin Zidan.


"Bang, jangan seperti ini. Kasihan papi. Dia sakit-sakitan karena merindukanmu. Dia menderita, Bang. Apa lagi ketika beliau tahu kak Zevana meninggal dengan kasus seperti itu," ucap Dion, berusaha mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada Galih.


"Jangan sebut nama adikku, aku tak suka!" ucap Zidan memperingatkan.


"Maaf, Bang. Tapi ini adalah kenyataan. Kenyataannya papi menderita tentang ini. Sebenarnya, papi juga belum berani menemui Abang. Beliau takut jika Abang marah. Beliau takut jika Abang belum siap. Tapi maaf, akulah yang memaksanya. Aku pikir, sebaiknya tak mengulur waktu lagi. Kalian berhak berkumpul, Bang. Berhak hidup bareng," ucap Dion serius. Sayangnya apa yang ia ucapkan sama sekali tak mendapatkan tanggapan serius dari Zidan. Pria ini terlanjur marah. Terlanjur tidak perduli dengan pria itu.


Dion sendiri bukan tidak paham. Dia paham bagaimana Zidan. Namun tak ada salahnya kan mencoba. Mencoba mengurai masalah yang ruwet seperti benang kusut ini.


Zidan adalah pria tanpa ekpresi yang sangat teguh terhadap pendiriannya. Sedikitpin ia tak terlihat empati. Matanya tetap lurus ke depan sembari mendengarkan ocehan Dion.


"Aku mohon, Bang. Mengertilah! Papi sangat menyayangimu, buktinya selama ini dia terus memantau perkembangan musik. Tak sedetikpun ia lalai akan tugasnya sebagai seorang ayah. Bahkan diam-diam dia juga membayar sekolahmu. Meskipun memakai alibi sebagai beasiswa. Aku serius Bang!" ucap Dion lagi.


Lagi-lagi Zidan tak mengubris apa yang adik angkatnya katakan. Baginya, seorang ayah harus bersikap sebagai ayah. Menemani setiap langkahnya. Mengingatkannya jika salah. Melindunginya dari apapun. Tapi lihat, apa yang dilakukan Galih untuknya. Hanya membayar sekolahnya, astaga! kalau cuma itu, semua orang juga bisa.


"Keluar!" pinta Zidan kesal.


"Bang, please.... dengerin aku dulu!" pinta Dion memohon.


Sayangnya sedikitpun Zidan mau mendengarkan permohonan sang adik Pria ini tetap kekeh pasa keinginannya. Meminta Dion turun. Meminta Dion menjauh darinya. Dari depannya. Kalau bisa malah dari kehidupannya.


Dion tak punya pilihan lain. Dia tahu bagaimana Zidan. Jika sudah memutuskan maka ada lagi yang bisa menganggu gugat. Kecuali hatinya melemah sendiri. Kecuali ia memang ingin.


Selepas Dion turun dari mobilnya. Zidan langsung menginjak pedal gasnya. Meninggalkan tempat ini. Dengan sejuta luka. Dengan sejuta tanya. Bukan hanya itu, hadir pula rasa cemburu pada Dion. Pasti pria yang selama ini jadi asisten nya sangat di manja oleh sang ayah. Tidak seperti dirinya yang selalu tidak dianggap. Tidak diinginkan oleh sang ibu. Dan yang sering ia dapat adalah dikucilkan di mana pun dia berada.


Wajar jika Zidan cemburu. Dulu setiap hari, setiap waktu, ia berharap sang ayah akan menemuinya. Menjelaskan padanya apa yang terjadi. Menolongnya ketika sang ibu mulai kumat ingin membunuhnya. Zidan berharap, ayahnya akan membawanya pergi dan menjauhkannya dari wanita yang selalu ingin dia mati.


"Ngapain kamu datang, aku membencimu!" teriak Zidan sambil berkendara. Memukul kemudinya kesal. Melampiskan kekecewaanya di sana. Hati Zidan benar-benar terluka. Sampai tak tahu bagaiamana sebaiknya ia bersikap. Jiwanya sungguh-sungguh terguncang.


***


Pagi menjelang...


Semalam utuh Dion tak bisa hidur. Apalagi ketika ia mendengar bawa


mobil anak buahnya yang saat itu dalam misi menyelamatkan kedua orang tua Nandita oleng, ban belakang terkena peluru yang ditembakkan oleh anak buah Natalia. Mobil menabrak pembatas jalan dan terjung bebas ke jurang. Terang saja, seluruh penumpang ikut masuk ke dalam jurang tersebut.


Pekerjaan Dion bertambah. Kini dia dan beberapa anak buahnya beserta tim SAR yang membantu mereka sedang berupaya mencari korban.


Sampai berita ini diturunkan, Dion masih belum bisa menghubungi Zidan. Sedangkan Nandita terus saja menangis di pinggir jurang. Berharap kedua orang tuanya selamat dari maut.


Bersambung...


Jangan lupa like komen dan votenya ya🥰🥰🥰