
Di dalam mobil Nandita mendiamkan Zidan. Sesekali wanita ini hanya mau berbicara pada Raka. Nandita memilih membuang padangannya keluar jendela. Enggan menghiraukan Zidan yang terus mencuri pandang terhadapnya.
Raka yang menyadari hal ini langsung memeluk ibundanya. Seperti menenangkan. Agar wanita ayu yang melahirkannyan itu tetap tenang.
"Apakah Bunda baik-baik saja?" tanya Raka dengan senyuman manisnya.
"Ya," jawab Nandita singkat.
Beberapa menit kemudian terdengar bunyi perut. Sepertinya itu berasal dari perut Nandita. Meskipun ia sedang marah pada Zidan, tetap saja bunyi perut itu sukses membuatnya malu.
"Bunda lapar?" tanya Raka. Sedangkan Zidan menatapnya melalui kaca spion yang ada di depannya. Begitupun dengan Nandita. Wanita ini juga menatap Zidan melalui kaca tersebut.
"Sedikit," jawab Nandita pelan.
Mendengar jawaban sang bunda yang kelaparan, terang saja membuat bocah ini khawatir. Sebab Raka tak ingin penyakit lambung ibundanya kumat.
"Di jalan nanti kita cari restoran ya, Yah!" pinta Raka. Zidan hanya menjawab 'iya'. Padahal, jika boleh jujur, dalam hati pria tampan ini, ia ingin Nandita mau meminta itu sendiri padanya.
"Uti lama sekali, masih marah kali ya, Yah?" celetuk Raka. Zidan tidak menjawab, sebab rasanya tak sopan saja jika membicarakan seseorang yang lebih tua darinya.
Raka terlihat jenuh. Namun bocah tampan ini enggan mengeluh. Ia tak ingin menambah beban ayah dan ibunya. Sebab ia tahu, saat ini ayah dan ibunya sedang dalam posisi yang bisa di katakan kurang bagus.
"Raka pindah depan gi!" pinta Zidan. Tanpa menjawab, Raka pun menuruti perintah sang ayah.
Tak lama kemudian, Kartika datang. Ia langsung membuka pintu mobil itu.
"Langsung pulang Zidan. Jangan sampai mereka membawa Ditaku lagi," ucap Kartika. Terdengar ketus. Iya, semua orang yang ada di mobil juga tahu jika emosi wanita ini sedang memuncak. Ia pasti masih kesal dengan kedua orang tua Nandita.
"Baik, Bu!" jawab Zidan. Pria tampan ini pun langsung menjalankan perintah calon ibu mertuanya. Namun sebelum itu ia menyempatkan diri mencuri pandang terhadap wanita ayu yang berada tepat di belakangnya. Sedang melamun. Sedang diam. Hanya menatap kosong kekuar jendela. Membuat Zidan khawatir.
Raka masih bersikap seperti asisten Zidan. Membantu pria itu mencari jalan tercepat untuk pulang. Melalui Map yang ada di ponsel milik ayahnya. Sesekali bocah tampan ini menunjukkan arah kemana Zidan harus memilih jalan. Mereka terlihat seperti tim yang baik.
Selang beberapa menit, terdengar ponsel Zidan berdering. Sepertinya ada yang mencarinya.
Benar saja, di layar ponsel tersebut tertera sebuah nama yaitu Dion. Sang asisten setia Zidan.
"Siapa, Dek?" tanya Zidan.
"Om Dion, Yah!" jawab Raka sembari menunjukkan nama tersebut pada yang ayah.
"Jawab aja, Dek. Siapa tahu ada yang penting!" jawab Zidan. Tak menunggu waktu lagi, Raka pun menjawab panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum, ini Raka, Om!" sambut bocah tampan ini.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Zidan langsung meminta ponsel itu dari Raka.
Dion langsung menjelaskan bahwa saat ini kedua orang tua Nandita sudah tidak berguna lagi bagi Natalia. Kemungkinan mereka dilenyapkan sangat besar. Mengingat Natalia sendiri juga tidak punya hati.
"Kamu kirimkan anak buahmu saja Dion. Aku dan Raka, kami sudah sangat jauh dari tempat itu. Jika kami kembali kemungkinan kami juga akan jadi korban," ucap Zidan tanpa basa-basi.
Dion mengerti, dan membenarkan apa yang Zidan ucapkan. Tanpa membuang-buang waktu mereka pun langsung memutus panggilan telepon tersebut dan Dion juga langsung mencari bala bantuan untuk menyelamatkan kedua orang tua Nandita dari cengkeraman Natalia.
Di dalam mobil Nandita terlihat gusar. Mau bagaimanapun, mereka adalah orang tuanya. Tak mungkin baginya untuk menutup mata.
Barulah Nandita berani menyuarakan suaranya. Bertanya pada Zidan bagaimana kedua orang tuanya.
"Bagaimana orang tuaku?" tanya Nandita khawatir.
"Kita berdoa saja, Bun. Semoga teman-teman Dion segera datang. Dan bisa segera menyelamatkan ibu sama bapak," jawab Zidan sungguh-sungguh.
Nandita tidak bertanya lagi. Wanita ayu ini terlihat sangat cemas. Ia hanya meremas jari-jarinya khawatir. Sedangkan Kartika enggan berbicara. Sepertinya wanita ini masih marah dengan kedua orang Nandita. Bagaimanapun mereka telah melukai hatinya.
***
Apa yang dikatakan Dion menjadi kenyataan. Natalia kesal, geram, marah. Tanpa basa-basi ia pun meminta anak buahnya untuk menculik dan memberi pelajaran kepada kedua orang tua Nandita. Sebab ia menilai, kedua orang tersebut bodoh. Tidak bisa diandalkan sekaligus menjengkelkan.
"Tenanglah, Honey. Jangan terburu-buru. Serahkan semua padaku," ucap Regen sembari menciumi tengkuk wanita yang selalu ia manfaatkan ini.
"Kenapa sih kamu datang lagi, bukannya di Singapura saja," ucap Natalia kesal.
"Aku nggak bisa tanpamu ternyata, Sayang. Lihatlah, melihatmu saja aku langsung ingin," jawab Regen sambil terus memberikan rangsangan pada wanita ini. Agar Natalia luluh. Agar Natalia menurut dan mau memberikan seluruh saldo rekeningnya kepadanya. Ya, Regen sedang kekurangan dana saat ini. Sebab seluruh asetnya telah dibumi hanguskan oleh Dion dan kawan-kawan.
Pria ini tak punya pilihan lain selain merayu Natalia dan memanfaatkannya.
"Sudah ah, aku sedang malas," ucap Natalia sambil menepis tangan Regen yang mulai begerilia menjelajahi lekuk tubuhnya.
"Jangan gitulah, Honey. Ayolah! Pasti si baby juga ingin ayahnya yang tampan ini menjenguknya," rayu Regen lagi.
Natalia ternyata wanita labil. Merasakan sentuhan lembut tangan Regen, ia pun terlena. Akhinya kedua sejoli ini menghabiskan malam ini dengan ber cinta. Bercinta seperti biasa. Hingga mereka lupa rencana yang telah mereka susun sebelum ini.
Bersambung....
Jangan lupa like komen n share ya.. 🥰🥰🥰