
Zidan masih setia berada di samping Nandita yang terus mengajaknya ribut. Pria ini malah bersemangat meladeni amarah Nandita. Entahlah, Zidan hanya gemas saja. Menurutnya Nandita bukan hanya bodoh, tapi juga lugu. Sangat-sangat lugu. Takut, tapi sok-sokan melawan.
"Jangan melihatku seperti itu!" pinta Nandita memperingatkan. Menatap geram pada Zidan.
"Jangan melihat seperti itu, gimana? Mataku kan memang begini!" jawab Zidan asal. Jiwa iseng pria ini terlihat langsung meronta. Menurutnya, semakin Nandita kesal, semakin menyenangkan untuknya. Zidan tak takut lagi menekan Nandita. Sebab, ia merasa memiliki kartu As untuk menakut-nakuti wanita ini.
"Dasar pria jahat!" gerutu Nandita sembari melirik marah pada Zidan. Dalam hatinya ingin sekali ia mencakar pria ini. Agar dia segera pergi dari hidupnya, kalau bisa selama-lamanya dan jangan sampai datang lagi kehadapannya.
"Aku kan jahatnya dulu, Mbak. Masak masih diungkit lagi sih. Aku ke sini kan mau minta maaf. Maafin aku ya!" pinta Zidan lembut.
Sayangnya Nandita tak menganggap permintaan maaf itu sebagai permintaan maaf yang tulus dari hati. Nandita malah menganggap Zidan adalah penipu.
"Kok diam, kan aku udah minta maaf, Mbak. Mbak boleh deh marah sama aku. Pukul aku juga boleh. Yang penting, Mbak mau maafin aku. Ya!" pinta Zidan serius.
Nandita tak menjawab, wanita ini malah menangis tanpa suara. Hanya bibirnya yang gemetar. Bagaimana bisa marah? Bagaimana sanggup memukul? Melihat Zidan saja dia takut.
"Aku tahu, Mbak takut padaku. Maaf jika waktu itu aku udah nyakitin kamu. Maaf jika aku udah merusak masa depanmu. Maaf jika aku telah menghancurkan mimpi-mimpimu. Maaf jika ak.... " Zidan tak melanjutkan ucapannya. Sebab, tanpa ia duga Raka dan juga seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan ini. Tentu saja ini mengejutkan Zidan. Bukan hanya Zidan, tetapi juga untuk Raka dan juga Kartika sendiri.
Wajah Zidan yang sangat mirip dengan Raka. Langsung menyakinkan Kartika bahwa inilah pria yang melakukan itu pada Nandita. Bukan hanya itu, Kartika juga yakin jika pria ini adalah ayah kandung Raka. Pantesan Nandita ketakutan.
Zidan masih tertegun, begitupun Kartika. Namun, tidak dengan Raka. Bocah tampan ini malah tersenyum, melihat Zidan ada di sini.
"O-Om, kok Om ada di sini?" tanya Raka langsung mengulurkan tangan pada Zidan. Mengajak pria yang ia kenal sebagai orang penting yang memberinya hadiah waktu ini. Zidan pun membalas uluran tangan itu.
"Iya, Om ada kerjaan. Jadi mampir ke tempat Raka. Om lupa kalau Raka lagi ke Bali. Eh pas masuk rumah lihat mamanya Raka pingsan, jadi Om bawa ke sini deh, " jawab Zidan bohong. Sedangkan Kartika dan Nandita hanya diam, meskipun sebenarnya mereka mengumpat pada jawaban yang diberikan oleh Zidan.
"Oh, begitu. Makasih banyak ya Om, untung Om dateng. Kalau nggak, gimana nasib bunda," jawab Raka dengan senyum sumringanya.
"Sama-sama, Raka. Oia kok udah pulang? Bukankah liburannya masih dua hari lagi?" tanya Zidan curiga.
"Raka minta pulang duluan Om. Raka kepikiran bunda dan ternyata bener, bunda emang lagi sakit. Sekali lagi makasih ya Om, udah nyelametin bundanya Raka," jawab Raka lugu.
"Sama-sama, Dek." Zidan tersenyum, meskipun sebenarnya dia salah tingkah. Terlebih saat ini Kartika menatapnya tajam. Andai tak ada Raka di sini, mungkin Zidan akan bertekuk lutut pada wanita paruh baya itu. Bertekuk lutut memohon ampun pada Kartika. Karena telah menanggung beban tanggungjawab yang tidak seharusnya. Dan itu adalah karena ulahnya.
"Oia, Om. Kenalin Om ini utinya Raka," ucap Raka seraya menggandeng tangan Zidan dan mengajaknya mendekati Kartika. Zidan sebenarnya sudah tahu siapa wanita itu, hanya saja tak mungkin baginya untuk mengeluarkan apa yang ia tahu, rasanya kurang etis.
Zidan mengulurkan tangannya. Kartika pun membalas uluran tangan itu dan mereka berjabat tangan. Sebenarnya Kartika malas, hanya saja ia tak ingin membuat kecewa sang cucu. Terlebih Raka menganggap Zidan adalah orang penting dalam hidupnya.
"Zidan, Tante," ucap Zidan meme perkenalkan diri.
"Kartika, ibunya Nandita dan eyang putrinya Raka!" jawab Kartika, terdengar sedikit tidak bersahabat. Lebih tepatnya marah pada Zidan. Hanya saja, marahnya Kartika terlihat lebih elegan.
"Siap, Tante," jawab Zidan lembut.
Kartika tersenyum, sebab ia paham arti dari jawaban yang Zidan berikan dengan menyebut kata 'siap'. Kartika yakin jika kata itu mengandung arti bahwa Zidan siap mempertanggungjawabkan perbuatannya.
"Setelah ini aku ingin bicara denganmu, empat mata," ucap Kartika lirih, hampir tak terdengar jelas Namun Zidan bisa menangkap maksud dari ucapan tersebut.
"Siap, Tan!" jawab Zidan tegas. Kartika tersenyum sekilas. Kemudian ia pun melangkah meninggalkan Zidan dan mendekati Nandita.
Kartika langsung memeluk Nandita, sebab ia tahu jika putrinya ini pasti ketakutan. Pasti tertekan melihat pria yang telah menghancurkan masa depannya.
"Dita takut, Bu," bisik Nandita pelan, supaya Raka tidak menyadari apa yang ia alami dan rasakan ketika bertemu Zidan.
"Ibu tahu, Sayang. Kamu yang kuat ya, biar Ibu bicara dengannya nanti," ucap Kartika berjanji. Ada sedikit kelegaan jika mendengar setiap barisan kata wanita ini. Entahlah, Nandita hanya merasa tenang saja. Kartika memang ibu yang sangat mengerti dan paham akan kondisi dan apa yang Nandita rasakan.
Nandita hanya menunduk dan meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Tubuhnya memang sudah tak menggigil seperti sebelum Kartika dan Raka datang. Namun tetap saja, ia masih belum bisa percaya pada Zidan. Belum bisa percaya bahwa Zidan tak akan melakukan hal itu lagi padanya. Nandita hanya takut itu saja.
Kartika tak bisa memaksa Nandita untuk menerima jalan pikirannya. Tetapi Kartika berharap, Nandita bisa mengalahkan rasa takutnya. Lalu kembali berjuang mendapatkan harga dirinya. Agar tak mudah diinjak dengan siapapun.
Melihat sikap sang putri yang masih ketakutan. Akhirnya Kartika pun memutuskan untuk berbicara empat mata dengan Zidan.
"Maaf, Bapak. Bisa kita bicara!" ucap Kartika pada Zidan yang saat ini sedang bercanda gurau dengan Raka.
"Bisa, Tan. Sebentar, ya Raka. Om ngobrol dulu sama utinya Raka," ucap Zidan bermaksud pamit dengan Raka. Raka pun tak melarang. Ia pun mengiyakan permintaan itu.
Tak lama berselang, Zidan dan Kartika pun meninggalkan ruangan itu. Mereka memilih taman rumah sakit untuk membicarakan masalah sensitif ini.
Di sebuah bangku yang ada di rumah sakit tersebut, Kartika duduk, Zidan pun menyusul. Kemudian, tanpa membuang waktu lagi, Kartika pun mulai membuka suara.
"Apakah kamu pria itu?" tanya Kartika langsung pada pokok permasalahan yang mereka hadapi.
"Iya, Tan. Itu saya," jawab Zidan jujur.
Kartika diam sejenak, lalu melanjutkan perkataannya. "Apa kamu tahu jika kejahatan yang kamu lakukan tidak termaafkan?" Kartika melirik Zidan yang terlihat gugup.
"Tahu, Tan. Maafkan saya," balas Zidan.
Kartika tersenyum sinis, namun juga bangga pada Zidan karena mau mengakui kesalahannya.
"Boleh aku tahu alasanmu melakukan itu pada putriku? Apakah saat itu kamu mabuk?" cecar Kartika.
"Tidak, Tan. Saat itu saya tidak mabuk. Saya dalam keadaan sadar, tetapi saya dalam keadaan marah dan diselimuti rasa dendam," jawab Zidan, kembali jujur sebab ia tak ingin menutupi apapun sekarang. Zidan berharap kejujurannya ini bisa diterima oleh Kartika. Masalah bagaimana Kartika memutuskan memaafkan atau tidak itu urusan nanti. Yang jelas saat ini Zidan hanya berniat jujur. Itu saja.
"Kamu dendam pada Nandita? Memangnya Nandita salah apa sama kamu?" tambah Kartika, sembari menatap Zidan yang terlihat mulai rikuh.
"Maaf Tan, jika kejujuran saya sedikit menyakitkan. Saya dulu memiliki seorang adik perempuan. Di-dia...." Suara Zidan terdengar melemah di akhir dan tentu saja ini menghadirkan tanya di hati Kartika.
"Iya, adikmu kenapa? Cintanya ditolak Nandita, lalu kamu sakit hati?" Kartika semakin tak mengerti. Balas dendam, adik, apa hubungannya dengan Nandita.
"Bukan, Tan. Adik saya perempuan. Dia meninggal karena bunuh diri setelah mendapatkan pelecehan seksual dari seseorang. Lalu aku ingin balas dendam pada keluarga si pria jahanam itu. Aku meminta anak buahku untuk menculik adik dari pria itu, Tan. Tetapi mereka salah sasaran. Mereka malah membawa Nandita, bukan gadis yang seharusnya menerima amarahku," jawab Zidan. Sekali lagi pria ini tertunduk lesu.
Kini Kartika mengerti jika masalah yang terjadi pada Zidan dan Nandita adalah sebuah kesalahpahamanan. Namun, Kartika tidak bisa lagi melihat dari sisi kesalahpahamanan itu. Tetapi lebih pada apa yang Nandita rasakan selama ini.
"Aku tidak tahu apakah kamu jujur atau tidak. Tetapi, aku berharap kamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kamu lihat sendiri bagaimana menderitanya Nandita selama ini." Kartika menatap mata Zidan dan pria itu hanya pasrah. Pasrah menunggu hukuman yang siap menghadangnya.
"Saya siap menerima hukuman apapun, Tan. Asalkan saya bisa mendapatkan maaf dari Nandita dan Raka. Asalkan saya boleh menjaga dan bertanggungjawab jawab atas mereka, mulai sekarang!" jawab Zidan yakin.
Kartika tersenyum dalam hati. Entah mengapa ia sangat suka pada sikap dan kejujuran Zidan menghadapi masalahnya.
"Sementara ini aku percaya padamu anak muda. Entah ini keputusan yang benar atau salah, tetapi aku yakin jika kamu pasti bisa membuat mereka berdua bahagia. Aku memberimu kesempatan untuk membuktikan niatmu. Namun jika kamu menyakiti mereka, maka tak ada ampun lagi buatmu," ucap Kartika lagi.
Sungguh, Zidan sama sekali tak menyangka ini. Tak menyangka bahwa ia akan menadapatkan kesempatan yang sangat langka seperti ini. Dan Zidan berjanji, bukan hanya di lisan namun juga dengan hati. Bahwa ia akan menjaga dan membahagiakan Nandita dan Raka dengan ketulusannya. Zidan berjanji akan melindungi mereka dengan nyawanya.
Bersambung....
Terima kasih yang sudah setia menunggu karya2ku. Krisan kalian adalah hadiah terbaik untukku. lope u🥰🥰🥰