
Raka membangunkan sang bunda, karena hari semakin sore. Disamping itu, kejujuran Zidan juga alasan Raka tak nyaman sendiri. Entahlah, Raka hanya tidak ingin berduaan saja dengan Zidan. Bocah ini hanya merasa ada yang aneh dengan posisinya saat ini. Hatinya belum siap menerima kenyataan bahwa sang ayah sudah datang kehadapannya. Sang ayah telah hadir dengan segala kejujurannya. Raka hanya takut, jika perasaan bahagianya malah menyakiti sang bunda. Sebab, kedatangan Zidan telah membuat sang bunda sakit. Yang itu artinya, sang bunda pasti merasa kurang nyaman.
"Bun, Bunda, udah sore bangun," ucap Raka sembari mengelus lengan Nandita.
Nadita yang mendengar pangilan sang putra langsung membuka matanya pelan dan menatap sang putra dengan senyumnya.
"Jam berapa, Dek?" tanya Nandita.
"Jam lima, Bun," jawab Raka.
"Oh, uti mana?" tanya Nandita.
"Uti ada panggilan kerja." Raka menatap Nandita, seperti ingin bercerita namun ragu.
"Raka kenapa? kok sedih gitu?" tanya Nandita.
"Raka nggak kenapa-napa, Bun." Raka menunduk.
Melihat gelagat aneh sang putra tentu saja membuat Nandita curiga.
"Apa Raka ingin mengatakan sesuatu?" tanya Nandita.
Raka menggeleng. Namun, Nandita tahu bagaimana Raka. Pasti ada yang tidak beres. Nandita pun menatap Zidan. Sedangkan Zidan pun membalas tatapan mata itu. Seperti sama-sama mengirim signal tentang kecurigaan masing-masing.
Zidan sudah terlanjur membuka diri. Terlanjur berkata jujur pada Raka. Zidan tak ingin ada rahasia lagi di antara mereka.
"Maaf, Bun. Jika Ayah lancang. Ayah udah kasih tahu adek, kalau...." Zidan menatap Nandita, berharap Nandita memahami posisinya.
Nandita tertegun. Shock, sebab Zidan memang lancang. Harusnya ia bicarakan ini dulu dengannya. Harusnya mereka berdua yang mengatakan ini dengan Raka. Bukan begini caranya.
Nandita menatap mata Zidan. Kesal saja, ternyata disamping menyebalkan, Zidan juga lancang. Nandita tak mau meladeni Zidan. Baginya hanya Rakalah yang terpenting saat ini. Raka jangan sampai shock dan jangan sampai jiwanya terguncang. Hingga menimbulkan rasa kurang percaya diri pada dirinya sendiri. Terlebih pada pada ayah dan ibunya.
"Apa Raka marah pada Bunda?" tanya Nandita pelan.
Raka menggeleng.
"Kalau sama om, Raka marah nggak?" tanya Nandita lagi.
Raka menggeleng lagi. Namun, wajahnya ditekuk, cemberut.
"Bunda ngerti jika Raka kurang nyaman dengan keadaan ini, tapi Bunda mohon, apapun yang Raka dengar hari ini, itu adalah kenyataannya, Sayang. Mau nggak mau Raka harus terima. Kalau Raka mau marah sama Bunda nggak apa-apa. Karena apapun yang terjadi antara Raka, Bunda dan juga Om, semua itu di luar kendali kita," ucap Nandita lemah lembut.
Raka tidak menjawab sepatah katapun. Bocah tampan ini hanya menangis dalam diam. Raka ingin bertanya tapi takut menyinggung kedua orang tuanya. Mengapa mereka berpisah sebelum dirinya hadir? Apakah sang ayah tidak menginginkannya? Mengapa Zidan meninggalkan sang ibu dan membiarkan merawatnya sendirian? Mengapa sang ayah baru datang sekarang? Apa yang sebenarnya terjadi. Raka bingung sangat-sangat bingung.
Nandita langsung memeluk sang putra. berusaha mengerti perasaan Raka. Berusaha memahami kekhawatiran Raka.
Zidan tak kuasa melihat sang Buah Hati menangis. Ia pun ikut memeluk Raka. Mendekap mereka berdua dengan cintanya. Dengan kesungguhan hatinya.
"Maafin Ayah ya, Nak," ucap Zidan sambil mencium kening sang putra. Mengelus kepala bocah tampan ini. Sedangkan Nandita membuang padangannya. Ia sendiri juga enggan melihat wajah Zidan. Baginya wajah itu adalah petaka baginya. Petaka bagi Raka juga. Entahlah, Nandita hanya benci Zidan.
"Bun, Raka mau pulang!" pinta Raka.
Nandita diam, sebab ia tahu jika sang putra sebenarnya hanya ingin sendiri. Raka pasti butuh waktu untuk bisa menerima ini. Nandita juga paham jika Raka ingin menghindar dari Zidan.
"Biar Ayah aja yang anter Raka, Bun, tapi nanti Raka di rumah sama siapa?" Zidan terlihat khawatir.
"Raka udah biasa sendiri, Om!" jawab Raka sedikit ketus.
Dari nada bicara Raka, Zidan paham jika sang putra belum bisa menerima kehadirannya. "Nggak boleh kalau gitu, Raka nggak boleh sendirian. Nanti kalau Raka kenapa-napa gimana? Gimana dengan Ayah? Gimana dengan Bunda?" tanya Zidan sedikit keras. Sifat posesif pria tampan ini mulai keluar. Intinya dia tidak mau terjadi apapun pada Raka dan Nandita. Sebab, baginya mereka berdua lah saat ini keluarga bagi Zidan.
Nandita melirik Zidan. Masih dengan lirikan ingin marah. Namun dengan cepat Zidan memberi kode pada Nandita, memohon pada wanita ini agar mengerti kekhawatiranannya.
"Raka di sini dulu ya tunggu dokter datang, nanti Bunda minta pulang cepet heemm!" ucap Nandita berusaha membuat Raka mengerti. Terlepas dari sikap Zidan yang peduli padanya dan sang putra.
"Raka mandi dulu ya, Ayah pesenin makan," ucap Zidan berusaha mengambil hati sang putra.
Raka memang anak yang baik, meskipun ia belum terlalu suka pada kenyataan ini. Namun ia tak mau menjadi pembangkang bagi kedua orang tuanya. Raka mengangguk menuruti permintaan Zidan. Sedangkan Zidan terus berusaha menunjukkan kasih sayangnya.
Bocah tampan ini mungkin sudah terbiasa menyiapkan pakaian ganti sendiri. Namun, Zidan tetap ingin melayani, agar sang putra mengerti bahwa dia ada, untuk memberikan cinta dan kasih sayang. Raka tidak hanya memiliki ibu sekarang, tetapi juga memiliki ayah.
Zidan mengantarkan sang putra ke kamar mandi dan menyiapkan air untuk bocah tampan ini. Menyiapkan perlengkapan mandinya.
"Yang bersih ya mandinya. Rambutnya dicuci biar harum. Oke!" ucap Zidan berusaha mengambil hati Raka. Bocah tampan ini hanya mengangguk dan tersenyum sekilas.
Zidan pun membalas senyuman itu. Setelah itu ia pun keluar dan memberi waktu pada Raka untuk membersihkan diri.
Kini di dalam kamar rawat itu hanya ada Nandita yang terus membuang mukanya, tak peduli dengan pria gagah ini. Kesal yang kesal saja. Marah ya marah saja. Zidan mendekati Nandita dan menarik kursi agar bisa mengobrol intens dengan Nandita.
"Maaf!" ucap Zidan mengalah.
Nandita tak menjawab.
"Aku tahu kalau kesalahanku tak termaafkan, tapi tak adakah kesempatan bagiku untuk menebus kesalahanku, Mbak?" tanya Zidan lembut.
"Untuk apa? pergilah! Putraku juga tak menyukaimu, kan?" jawab Nandita ketus.
"Aku tahu, tapi aku mohon berilah aku kesempatan sekali lagi untuk menunjukkan pada Raka bahwa dia sangat berharga untukku, Mbak!" tambah Zidan.
Terlihat mata Nandita berkaca-kaca. Seperti kesal, malas, marah dan entahlah. Seperti semua rasa itu tercampur aduk untuk Zidan.
"Aku membencimu!" ucap Nandita masih membuang muka, enggan menatap Zidan.
"Aku tahu." Zidan menghela napas.
"Pergilah!" pinta Nandita.
"Nggak mau!" Zidan menatap Nandita.
"Lalu aku harus bagaiamana? Melihatmu mengingatkanku pada kejadian itu! Kepalaku terasa sakit," ucap Nandita menangis lagi.
"Aku janji tidak akan melakukan apapun padamu, Mbak. Aku hanya ingin mencintai Raka. Membuktikan pada Raka bahwa dia memiliki ayah yang mencintainya, tolong beri aku kesempatan sekali saja, Mbak!" ucap Zidan, sekali lagi memohon. Memohon agar Nandita menahan sedikit egonya untuk memberinya kesempatan untuk mendekati sang putra.
"Terserah!" Nandita enggan berdebat. Hanya itulah jawaban yang bisa ia berikan untuk pria pemaksaan ini. Sebab percuma berdebat. Karena hati kecil Nandita mengatakan bahwa Raka juga berhak mengenal sang ayah.
Bersambung....