My Sunshine

My Sunshine
TAK DISANGKA



"Berharaplah yang baik-baik, Bun. Berdoalah yang baik-baik. Berprasangkah yang baik-baik juga. Pasti yang terjadi juga yang baik-baik. Percayalah, bahwa Tuhan itu selalu ada untuk kita," ucap Zidan sembari menyelimuti tubuh wanita cantik ini. Sedangkan Nandita masih bersikap sama. Menerima, tak menolak sedikitpun perlakuan penuh perhatian Zidan. Meskipun ia masih bersikap dingin.


"Ayah pulang dulu ya, nanti ayah kabari kalau ada apa-apa. Oke! Jangan ngelamun, soal ibu sama bapak nanti Ayah kabari juga," ucap Zidan lagi. Sebelum pergi, pria ini juga menyempatkan diri mengecup penuh kasih sayang kening Nandita. Berharap, Nandita paham jika ia tak main-main dengan hubungan ini.


Nandita kembali mengeluarkan butiran bening dari sudut matanya. Tangis yang biasa tahan menghadirkan bunyi sesegukan. Terang saja membuat Zidan mengurungkan niatnya untuk keluar.


"Bunda mau apa toh, coba ngomong. Ayah mana ngerti kalau cuma nangis?" tanya Zidan lembut. Berusaha sesabar mungkin menghadapi wanita labil ini. Sesekali marah, habis itu reda. Sesekali tegar, setelah itu langsung manja. Zidan jadi bingung dibuatnya.


"Pokoknya Bunda nggak usah khawatir. Ibu sama bapak aman. Percayalah!" ucap Zidan. Nandita hanya mengangguk pelan.


Menghapus air matanya. Anehnya wanita ini malah menatap Zidan. Seolah mata itu melarang Zidan untuk pergi. Sepertinya hati Nandita mau egois kali ini. Ingin pria ini tetap di sini bersamanya. Memeluknya. Dan hanya dia yang bisa memiliki.


Namun, keinginan itu hanya Nandita simpan dalam hati. Sebab ia malu mengutarakannya. Ia takut, Zidan akan menertawakannya. Ia takut jika pria ini mengetahui bahwa sebenarnya ia teramat sangat cemburu. Entahlah! Nandita memang aneh.


Merasa Nandita sudah tenang dan memejamkan mata, akhirnya Zidan pun keluar dari kamar tersebut. Memberi waktu untuk Nandita melepaskan penatnya. Mengistirahatkan jiwa raganya. Sedangakan dirinya sendiri masih memiliki banyak misi, terutama untuk membuktikan bahwa apa yang dituduhkan padanya tidaklah benar.


Zidan menutup pelan pintu kamar. Sedangkan di ruang tamu masih ada Kartika dan Raka. Seperti siap menginterogasinya.


"Bagaiamana?" tanya Kartika langsung tanpa basa basi.


"Nggak apa-apa, Bu. Dita baik-baik saja," jawab Zidan. Sebab Nandita memang baik-baik saja secara fisik. Tetapi tidak dengan hati. Mungkin!


"Oke baiklah kalau begitu. Ibu mau istirahat. Kamu, kalau mau nginep, nginep aja di kamar Raka. Ibu mau tidur, capek rasanya hah," ucap Kartika, terdengar suara Kartika sedikit mereka gelut.


Namun, sebelum Kartika beranjak dan Zidan serta Raka menjawab, terdengar seseorang mengetuk pintu. Tentu saja mereka bertiga bersiap. Pikiran mereka langsung tertuju pada anak buah Natalia. Yang mungkin sedang membuntuti mereka. Karena saat ini posisi mereka bisa dikatakan sedang tidak bagus. Sedang tidak aman.


Zidan meminta Raka dan Kartika bersemnuyi sedangkan dirinya mengintip di jendela.


Betapa leganya dia, sebab yang datang adalah Dion. Namun, sang asisten tidak datang sendiri. Melainkan dengan seseorang yang tak asing bagi Zidan.


Pelan namun pasti, Zidan pun meminta Raka untuk membukakan pintu. Zidan sedikit tegang namun juga tak sabar. Tak sabar ingin melihat siapa yang datang bersama sang asisten itu.


Setelah Raka membukakan pintu untuk tamu mereka, Raka pun tersenyum tampan, menyambut dia orang pria beda generasi itu.


"Malam juga, Ka. Ayah ada di sini nggak?" tanya Dion.


"Ada Om, itu ayah!" tunjuk Raka pada pria yang ia panggil ayah itu.


Zidan masih bergeming di tampat. Diam terpaku tanpa kata. Terlebih ketika pria yang dia anggap tak asing itu masuk. Serta menatapnya. Menatapnya dengan tatapan rindu. Menatapnya dengan tatapan ingin memeluk.


Terang saja ia ingin melakukan itu, sebab hampir dua puluh lima tahun mereka tidak bertatap muka. Dan kini lihatlah, bocah kecil yang beliau tinggalkan, menjadi pria yang tampan sepertinya ketika masih muda. Bukan hanya itu, di samping pria itu juga berdiri, seorang bocah yang tak kalah tampan dari sang putra. Sorot matanya begitu bening. Membuat Galih yakin jika bocah yang ada di samping Zidan adalah sang putra.


Galih menatap bergantian dua orang pria beda generasi itu. Rasa bangga kepada kedua pria yang mewarisi darahnya itu membuat Galih ingin segera memeluknya. Namun, tak mungkin. Sebab situasinya berbeda. Di depan mereka ada Kartika yang tak lain adalah wali Nandita. Wali calon menantunya.


Terpaksa mereka berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


Bukan hanya perasaan Galih yang bergemuruh tak karuan. Zidan pun sama, setumpuk tanya langsung menyeruak di dalam nakas hatinya. Seperti rasa kecewa dan juga tanya Mengapa, begitu kuat mencengkeram hati Zidan. Hingga tak terasa butiran bening pun menyembul begitu saja dari sudut mata tampannya.


Mengetahui dua abang dan juga ayahnya sedang berada di situasi harus yang menenangkan. Dengan cepat, Dion pun mengepuk pundak sang ayah. Agar segera menyudahi suasana haru ini.


"Papi oke?" tanya Dion.


"Hemm!" jawab Galih, pura-pura tenang.


Kartika sebenarnya curiga. Namun, sekali lagi ini bukan ranahnya untuk ikut campur. Wanita berusaha bersikap biasa dan menyambut tamunya dengan ramah.


"Loh kok cuma berdiri di depan pintu toh, masuk-masuk. Dion ajak masuk bosnya, eh dia siapanya kamu?" tanya Kartika sembari berbisik di telinga Dion.


"Dia papiku, Bu. Tampan ya!" canda Dion. Dengan cepat Kartika pun memukul keras pundak Dion. Tak ayal, pria tampan yang sudah Kartika anggap sebagai putranya ini pun tertawa. Lucu saja melihat wajah wanita paruh baya itu tersipu malu.


Suasana di dalam rumah sedikit mencair dengan candaan Dion. Namun, tidak dengan hati Zidan dan Galih. Pertemuan pertama setelah sekian tahun mereka berpisah sedikit berbeda. Berbeda dengan kebayakan orang yang memendam rindu. Keadaan hati mereka malah guncang. Dan hanya ada kata tanya yang terus saja mendesak hati keduanya.


Bersambung....


Semoga Abang Zidan memaafkan papinya ya, seperti Raka memaafkannya🥰