My Sunshine

My Sunshine
CURIGA



Dua jam kemudian....


Nandita sudah berada di apartemen Zidan. Disambut oleh bocah tampan yang tak lain adalah putra semata wayangnya.


"Ye, Bunda!" Raka bersorak. Sedangkan Nandita hanya tersenyum.


"Udah siap-siap belum?" tanya Nandita, mengingat hari ini sang putra akan dibawa pulang oleh ayah kandungnya ke Jakarta.


"Udah, Bun. Dibantuin sama ayah tadi." Raka tersenyum lagi.


"Loh kok dibantuin, emang nggak bisa beres-beres sendiri?" tanya Nandita sembari melangkah menuju dapur apartemen rumah itu.


"Bisa sih, tapi kata ayah mau lihat Raka bawa bajunya banyak apa nggak!" jawab Raka jujur.


"Loh, ngapain periksa baju Raka, emang mau di sana berapa lama? Kalau nggak biar bunda kirim aja bajunya. Jadi nggak usah beli-beli. Ingat kata Bunda, Apa?" tanya Nandita dengan senyum keibuannya.


"Iya, Bunda. Raka tahu. Jangan boros-boroskan?" bocah tampan ini tersenyum bahagia.


"Iya, begitu maksud, Bunda!" Nandita melirik cantik pada bocah tampan ini.


"Oke baiklah! Percayalah bundaku sayang, Raka nggak akan boros-boros. Tapi ngomong-ngonong pesanan Raka, Bunda nggak lupa kan?" balas Raka.


"Pesenan? Pesenan apa itu?" Nandita menatap bocah tampan ini.


"Batu kali sama ketapel baru Raka. Yang dibikinin pakde!" jawab Raka antusias.


"Ada, itu di tas Bunda. Lagian mau ke Jakarta ngapain bawa mainan begituan?" tanya Nandita sedikit kesal. Sebenarnya wanita ayu ini tak suka dengan hobi sang putra yang satu ini.


"Bunda jangan cemberut gitu dong. Kan ini senjata rahasia, Bun. Kan Raka nggak mau kalah sama ayah. Kata ayah, kita laki-laki harus bisa bela diri!" jawab Raka, dengan nada bercanda seperti biasa.


"Astaga, racun ayahmu sudah merasuk ke jiwamu rupanya!" Nandita menghela napas dalam-dalam.


"Ah, Bunda. Kan main ketapel seru Bun. Bisa melatih fokus. Ayah aja pengen belajar sama Raka. Kalau mau pinter memanah harus belajar ketapel dulu Bun. Kan dasarnya itu!" Raka mulai tak mau mengalah. Sedangkan Nandita masih tetap kurang suka.


"Baiklah, serah kalian aja. Yang penting jangan dipakai iseng. Nyelakain orang. Nggak bagus!" jawab Nandita, terlihat mulai menyerah dan tak mau terlalu mengekang sang putra dengan ketidaksukaannya.


"Kalau soal itu, Raka siap Bunda. Tenang aja." Raka terkekeh sembari memeluk manja sang ibu yang tingginya hampir sama dengannya itu.


"Ayah mau bikinin Raka jas katanya!" ucap Raka tiba-tiba. Tak sengaja, bahwa apa yang ia ucapkan itu menjurus pada bocornya rencana Zidan yang hendak memperkenalkan sang putra sebagai pewaris Golden Gold di antara para dewan direksi.


"Hah? Bikin Jas? Mau ngapain?" Nandita mulai mengambil peralatan makan untuk Raka dan juga kekasihnya.


"Acara kantor? Kantor ayah?" Nandita mulai menuangkan masakan yang ia bawa ke mangkuk yang telah ia sediakan.


"Iya, tapi nggak tahu juga sih!" Raka juga terlihat membantu Nandita menyiapkan makan untuk mereka.


"Kok, ayah nggak cerita sama Bunda?" Nandita menghentikan aktivitas nya.


"Entah?" Raka hanya m ngangkat pundaknya. Pertanda dia juga tak paham dengan apa yang ayahnya rencanakan. Sedangkan Nandita terlihat sedikit khawatir.


"Bunda bawa apaan?" tanya Raka mengalihkan perhatian Nandita.


"Bunda bawa sate goreng kesukaanmu sama capcay sayur kesukaan ayahmu. Itu ada krupuk udang sama sambal tomat," jawab Nandita. Ia pun segera menyusun makanan yang ia makan di meja makan.


"Ayah mana?" tanya Nandita.


"Kayaknya ayah tidur deh, Bun! Kasihan ayah," jawab Raka memelas.


"Ayah jarang tidur ya?" tanya Nandita.


"Iya, Bun. Kayaknya selama Raka di sini hampir nggak pernah lihat ayah tidur. Kayaknya ayah juga nggak suka sama ranjang, Bun. Paling kalau mau baring di sofa," jawab Raka jujur.


"Loh kok gitu?"


"Ya udah, Raka bangunin ayah gi. Ajak sarapan! Keburu dingin nanti!" pinta Nandita.


"Oke, Bun. Tapi Raka pipis dulu ya!" ucap Raka sembari bersiap meninggalkan sang Ibunda.


"Ya udah biar, Bunda aja yang bangunin ayah, Raka nanti tunggu di sini. Oke!" balas Nandita. Raka pun menyetujui usul sang Ibunda. Tanpa bicara lagi mereka pun menjalankan tujuan masing-masing.


Pelan namun pasti, Nandita pun membuka kamar pribadi Zidan. Terlihat pria itu sedang berbaring sambil melipat tangannya di sofa. Terlihat begitu tenang dan tampan. Nandita tidak menyangka bahwa pria yang sempat ia benci dan ia takuti itu ternyata adalah pria tampan yang baik hati. Hanya saja kesalahpahaman hadir, sehingga menciptakan duka nan lara di hatinya maupun di hati Zidan sendiri, selaku pelaku dalam masalah ini.


Diam-diam Zidan juga tersiksa akan perbuatan bodohnya. Selama ini pria itu juga hidup dalam penyesalan dan juga ketakutan. Takut jika gadis yang ia rebut paksa mahkotanya menjadi gila, atau mungkin bunuh diri seperti adiknya. Nyatanya Zidan juga tersiksa pasal itu.


Sebenarnya, Nandita kasihan dan tak tega membangunkan pria ini. Namun, mau bagaimana lagi. Sebentar lagi Zidan harus bersiap. Sebab pesawat mereka tidak mingkin menunggu. Mau tak mau Nandita harus membangunkan pria tampan ini, agar dia tak ketinggalan pesawat nantinya.


Tenggelamnya Zidan di alam mimpi membuat Nandita sedikit curiga. Apa lagi ketika ia mendengar cerita Raka yang mengatakan bahwa sang ayah jarang mau tidur di ranjang. Apakah Zidan memiliki trauma dengan ranjang atau bagaimana?


Kecurigaan Nandita bertambah ketika melihat bantal yang Zidan pakai. Bantal itu beralaskan kain batik, seperti baju atau mungkin hanya lembaran kain. Aneh saja! Zidan memang aneh dan penuh misteri.


Bersambung.....