
Zidan masih duduk termenung di ruang kerjanya. Mengingat kembali apa yang telah terjadi padanya selama ini. Dari drama perginya sang ayah dari rumah gara-gara wanita lain. Lalu tak berapa lama sang ibu sakit-sakitan. Mau tak mau Zidan harus berhenti kuliah dan bekerja, karena ia harus memberi makan ibu dan juga Zevana adik kesayangannya.
Lalu ketika karirnya mulai menanjak, datanglah satu bencana yang mengambil dua orang yang sangat ia cintai. Yaitu adik kesayangannya dan juga sang bidadari tak bersayap miliknya.
Itu terjadi ketika Zidan dipromosikan menjadi Manajer di tempat kerja. Rasa iri yang dimiliki seseorang padanya. Mengantarkan pria ini ke lubang nestapa.
Tanpa ia sangka, tanpa ia duga, pria jahat itu nekat menculik dan memerkosa Zevana sehingga membuat gadis itu trauma dan memilih mengakhiri hidupnya. Tak selang beberapa lama, sang ibu, yang mendengar dan mengetahui kronologi yang menimpa putrinya, tak sanggup berkata-kata.
Wanita paruh baya ini shock, hingga akhirnya penyakit jantungnya kumat. Dan mengakibatkan wanita ini meregang nyawa.
Zidan terpuruk. Kemudian emosi yang membuncah membuat pria ini kehilangan kendali. Setelah mengetahui siapa yang menyebabkan sang adik mengalami nasib buruk, pria ini pun merencanakan pembalasan. Sayangnya, ia malah salah sasaran dan mengakibatkan seseorang yang tidak bersalah menanggung beban fisik dan mental akibat ulahnya.
Beruntungnya, wanita itu bukanlah seorang pendendam seperti dirinya. Nandita memaafkannya. Meskipun tak mudah mendapatkan maafnya. Zidan harus berjuang dan membuktikan bahwa dirinya layak diberi kesempatan.
Zidan tersadar dari lamunan ketika seorang bocah tampan yang mirip dengannya masuk ke dalam ruang kerjanya. Mencarinya. Seperti sedang merindukannya.
"Pagi, Yah!" sapa bocah tampan itu.
"Pagi, Sayang. Kok udah bangun?" balas Zidan.
"Iya, Yah. Raka nggak bisa bobo lagi. Raka kangen bunda," jawab bocah tampan ini jujur.
Zidan tersenyum sebab bukan hanya dirinya yang merindukan wanita cantik itu. Tetapi juga ada seseorang yang ternyata lebih merindukan wanita lugu nan ayu itu.
"Telpon aja, Dek!" ucap Zidan.
"Baiklah, boleh pinjam ponsel Ayah?" tanya Raka.
"Tentu saja!" Zidan mengambilkan ponsel miliknya. Lalu menyerahkannya pada bocah tampan ini.
Dengan senyum merekah, Raka pun mengambil ponsel itu dan segera menghubungi sang bunda tercinta.
Beruntung, Nandita langsung menyambut panggilan telepon itu.
"Asalamualaikum, Yah! Selamat pagi!" sambut Nandita di seberang sana. Suaranya terdengar lembut seperti biasa.
"Pagi, Bunda! Ini Raka. Bukan ayah heheheeh!" Raka tertawa lirih. Sedangkan Zidan yang melihat adegan itu hanya tersenyum.
"Raka udah sholat?" tanya Nandita.
"Udah, Bun. Bunda ngapain?" balas Raka.
"Bunda masih baring-baring ini. Mau ke kebun, malas. Nggak ada Raka!" jawab Nandita. Terdengar manja di telinga Zidan. Sebab panggilan itu di loudspeaker oleh Raka.
"Maaf ya, Bun! Raka perginya lamaan. Kata ayah hari ini kita mau pulang ke Jakarta." Terdengar suara Raka tertawa lirih.
"Iya, boleh. Tapi ingat jangan bikin ayah repot. Diingetin juga ayahnya, jangan lupa makan, sholatnya, istirahatnya, oke!" ucap Nandita serius.
"Sepertinya ayah nggak tidur lagi deh, Bun!" Raka mulai melapor. Terang saja Zidan yang ada di sebelah Raka langsung mencolek lengan sang putra. Karena setelah ini dia pasti kena omel wanita itu.
"Heemm!" hanya itu jawaban Nandita. Namun, di seberang sana dia gemas. Sedang menyusun kata untuk mengomeli pria ini.
"Ayah juga nggak makan semalam, Bun." Raka kembali melaporkan apa yang ayahnya lakukan.
"Benarkah? Bukankah Raka kirim foto ayah sedang memasak malam tadi?" tanya Nandita bingung.
"Iya, ayah memang masak, Bun. Tapi yang makan cuma Raka. Ayah cuma minum kopi doang," jawab Raka jujur.
"Mana ayah?" tanya Nandita. Suaranya terdengar sedikit kesal.
"Ada ini Bun!" jawab Raka jujur. Lalu ia pun menyerahkan ponsel itu pada sang ayah. Setelah itu ia pun berpamitan dan memutuskan keluar dari ruang kerja sang ayah.
"Ya, Sayang! Apa?" tanya Zidan sok polos supaya Nandita tak mengeluarkan amarahnya.
"Apa maksud Ayah nggak makan, cuma minum kopi doang Lalu semalaman nggak tidur?" cecar Nandita.
Nah kan, bener, batin Zidan. Pria ini terlihat tersenyum. Bahagia saja ada seseorang yang peduli padanya.
"Ayah nggak laper, Bun!" sangat Zidan.
"Nggak mungkin kalau ayah nggak laper. Bunda tahu Ayah banyak pikiran. Jangan kek gitu, Yah. Nggak mau Bunda. Katanya mau jaga Raka, kalau jaga diri sendiri aja Ayah lalai, gimana mau jaga Raka," ucap Nandita memotivasi.
Ayah berangkat jam berapa?" tanya Nandita.
"Siang, Bun. Soalnya Ayah masih ada rapat sekali lagi!" jawab Zidan jujur.
"Ya udah. Sebentar Bunda masak, nanti Bunda antar ke apartemen," ucap Nandita peduli.
"Nggak usah, Bun. Nanti Ayah makan di resto aja," jawab Zidan.
"Bunda nggak percaya! Pokoknya tungguin. Bunda masak, nggak lama kok!" desak Nandita.
Jika begini, mending Zidan mengalah. Rasanya tak nyaman juga jika menolak. Nandita sudah berbaik hati menawarkan diri untuk memasak untuknya.
"Ya udah nanti Ayah tungguin. Bunda mau ikut kita pulang?" tanya Zidan.
"Terus kalau Bunda ikut siapa yang jaga rumah. Ibu lagi banyak panggilan. Pakde sama bude belum bisa bantu, anaknya masih sakit kan!" jawab NanditaNandita. Mereka berdua tersenyum.
Entah mengapa? Setiap kali bercengkrama dengan wanita ini, Zidan merasa bahagia. Hidupnya serasa bersinar. Seberat apapun masalah yang ia hadapi, asalkan ada Nandita dan Raka semua serasa ringan.
"Tapi kalau kita udah nikah? Bunda mau kan tinggal di Jakarta sama Ayah?" tanya Zidan serius.
"Kalau begitu ceritanya ya lain lah, Yah. Sebagai seorang istri kan memang udah kewajiban Bunda ngikut kemanapun Ayah pergi," jawab Nandita tak kalah serius.
Adakah yang lebih bahagia dari ini. Ternyata wanita seperti Nanditalah yang ia cari selama ini. Yang mengerti akan dirinya. Yang paham bagaimana menghadapinya. Sungguh, Zidan sangat bahagia. Sebab Tuhan mempertemukannya dengan wanita seindah Nandita. Sebaik Nandita. Setulus wanita ini.
"Terima kasih calon istriku!" ucap Zidan.
"Sama-sama calon imamku. Oia Bunda lupa, gimana pabrik? Apakah kebakaran nya parah?" tanya Nandita.
"Lumayan, Bun. Hangus sepero. Cuma bersyukurnya nggak ada korban jiwa," jawab Zidan. Suaranya terdengar serak dan Nandita paham jika hati pria ini pasti sedang sedih.
"Alhamdulillah, kalau sampai nggak ada korban jiwa. Ayah percaya aja, Tuhan tidak tidur. Jika ini memang di sengaja oleh seseorang, kita doakan semoga orang tersebut dapat hidayah. Kalau pun ini terjadi karena ketidaksengajaan, sebaiknya Ayah ikhlaskan!"ucap Nandita memberikan suport untuk Zidan.
" Iya, Bun. Ayah ikhlas kok! Insya Allah!" jawab Zidan. Sedetik kemudian tak ada perbincangan. Mereka sama-sama diam. Namun, tak dipungkiri bahwa obrolan mereka pada pagi ini memberikan aminisi untuk Zidan. Untuk lebih bersemangat menghadapi hidupnya. Untuk bisa lebih ikhlas menjalani.
Di akhir obrolan mereka, Nandita meminta Zidan untuk salat. Kemudian ia juga meminta kekasih hatinya ini untuk mengistirahatkan raganya terlebih dahulu. Dan Nandita berjanji akan membangunkannya di jam yang dia minta.
Bersambung...
Terima kasih atas like komen dan Votenya🥰🥰 Maaf jika masih ada typo.