My Sunshine

My Sunshine
PENDENGARAN TAJAM RAKA



Zidan masih berusaha mengejar Nandita dan kedua orang tuanya. Namun sayang, mereka terus saja menarik tangan Nandita. Zidan juga berusaha meraih tangan Nandita, pun dengan wanita itu. Sepertinya ia juga tidak rela jika orang tuanya membawa paksa dirinya. Sebab ia tidak merasa melakukan apa yang orang tuanya tuduhkan kepadanya.


"Pak, Bu, kami mohon izinkan kami menjelaskan duduk permasalahan yang sebenarnya! Kami mohon Pak!" pinta Zidan memohon. Tetapi sayang, Rudi dan Rita sama sekali tak mau mendengarkan Zidan. Mereka terus saja menghalangi pria ini untuk menyentuh putri mereka.


Bukan hanya Zidan yang memohon, tetapi juga Nandita. Nandita menangis. Namun tangisan itu sama sekali tak menggerakkan hati kedua orang tua ini untuk mau mendengarkan penjelasan mereka.


Lift telah terbuka, dengan kasar Rudi pun mendorong putrinya masuk ke dalam lift tersebut. Lalu Rita juga menghadang Nandita agar tidak berlari ke arah Zidan. Suasana gaduh tak terelakkan. Nandita dengan tangisnya. Sedangkan Zidan dengan permohonannya. Agar mereka tidak membawa sang kekasih pergi.


"Diam kamu diam!" bentak Rita pada Nandita.


Melihat wanita yang ia cintai diperlakukan tidak adil, tentu saja membuat Zidan naik pitam. Pria yang biasanya tanpa ekpresi ini tiba-tiba marah. Bahkan dia berani meneriaki kedua orang tua Nandita.


Rasanya melihat Nandita didorong, cukup membuat emosi Zidan terpancing. "Jangan kasari dia!" teriak Zidan kesal. Bagaimana tidak? Selama bertemu dengan Nandita, Zidan sama sekali tak pernah menyakiti wanita itu. Dia begitu menyayangi wanita yang pernah ia sakiti. Zidan sangat tahu betapa rapuhnya Nandita. Zidan tak rela, jika Nandita sampai dikasari seperti itu.


"Ini bukan urusanmu, dia mau kubunuh itu juga hakku. Mengerti!" tantang Rudi tak mau kalah.


"Jika kalian berani menyakitinya, aku tidak akan pernah memaafkan kalian!" teriak Zidan lagi. Sayang, Rudi tak peduli. Ia pun masuk ke dalam lift dan menutupnya. Sedangkan Zidan masih berusaha meminta pengertian Rudi.


Zidan berteriak, mengebor pintu lift itu. Meminta kedua orang tersebut mengembalikan Nandita padanya. Ia ingin Nandita. Nandita adalah miliknya. Tanggung jawabnya. Tak ada yang berhak selain dirinya. Zidan tidak peduli jika ada yang menganggap bahwa dirinya serakah.


Kesedihan Zidan dan kemarahan pria ini, tanpa sengaja dilihat langsung oleh Raka. Raka melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bahkan ia juga mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh orang-orang dewasa itu. Mereka sepertinya mempertanyakan status hubungan kedua orang tuanya. Terang saja kenyataan ini membuat Raka terpukul.


"Siapa mereka, Yah?" tanya Raka pada sang ayah yang kini masih tertunduk lesu di depan pintu lift.


Mendengar suara seseorang bertanya, Zidan pun membalikkan tubuhnya dan menatap sang putra. "Mereka adalah?" Zidan tak sanggup melanjutkan ucapannya. Sebab mengatur napasnya saja serasa susah.


"Mengapa mereka membawa bunda?" tanya Raka lagi.


Kali ini Zidan tak sanggup menjawab. Ia hanya bisa menatap nanar pada sang putra dan Zidan berharap dengan tatapan itu, Raka bisa mengerti bahwa kedua orang tuanya dalam keadaan tak baik.


"Maafkan Ayah, Nak!" ucap Zidan sembari memeluk erat Raka. Seolah meminta putranya mengerti keadaannya. Yang tak mampu membawa Nandita ke tengah-tengah mereka.


"Sabar Yah, semua pasti baik-baik saja," ucap Raka. Meskipun dia sendiri belum begitu paham dengan masalah yang menyerang orang tuanya. Namun Raka bisa memahami jika ayahnya butuh sandaran seseorang. Dan saat ini yang ada hanyalah dirinya. Maka dengan terpaksa ia pun harus memahami keadaan ini. Di peluknya sang ayah dengan kasih sayangnya. Raka juga mengelus punggung sang ayah. Berharap sang ayah bisa meluruhkan sedikit kesedihan yang beliau rasakan.


"Maaf, Nak! Ayah harus mengejar ibumu. Ayah nggak mau mereka sampai menyakitinya!" ucap Zidan. Ketika tersadar dari kesedihannya.


"Ayo Yah, Raka ikut!" ucap bocah itu.


"Oke!" jawab Zidan. Seketika dua pria beda generasi ini pun langsung mencet tombol lift yang ada di depan mereka. Sedangkan Raka juga memencet tombol lift yang ada di belakangnya agar bisa memilih lift mana yang tercepat. Yang bisa membawa mereka langsung ke parkiran.


Lift di belakang Raka terbuka terlebih dahulu. Raka pun langsung menggandeng sang ayah dan mengajaknya masuk. Tak menunggu waktu lagi, mereka pun segera memencet tombol penutup otomatis pintu itu.


"Lobi, Dek!" pinta Zidan.


"Mobil kita di parkiran, Yah!" balas Raka.


"Astaga, kita nggak bawa kunci mobil!" ucap Zidan lemas.


"Tenang Yah, ini!" ucap Raka sambil menunjukkan kunci mobil beserta dompet milik sang ayah. Sebab ia tahu, dua barang itulah yang di butuhkan sang ayah.


"Handphone?" tanya Zidan.


"Siap, Yah!" Raka kembali menunjukkan isi tas slempang yang ia bawa. Tak lupa di sana juga terdapat senjata rahasia yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.


Zidan tersenyum, sebab Raka ternyata bocah yang sangat cerdas dan bisa memperhitungkan apapun. Zidan bangga pada bocah tampan ini.


"Kamu memang terbaik, Putraku!" ucap Zidan terharu. Tak lupa, untuk mengungkapkan rasa bahagia yang ia rasakan, Zidan pun memberikan pelukan pada sang putra.


Beberapa detik kemudian, akhirnya mereka pun sampai di parkiran. Zidan dan Raka langsung berlari mencari mobil mereka. Namun, sebelum mereka masuk kedalam mobil, telinga Raka mendengar sesuatu. Seperti seseorang tertawa sembari menyebut nama ibunya. Raka diam sesaat. Lalu mencari arah suara tersebut.


Benar saja, ujung mata bocah tampan ini melihat wanita itu. Wanita yang datang kepada sang ayah dan mengatakan bahwa ia mengandung adiknya.


Raka berbalik hendak mendatangi wanita tersebut. Namun sayang, wanita itu dan beberapa orang pria sudah masuk ke dalam mobil. Menyalakan mobil tersebut lalu melaju. Raka terlambat.


Melihat tingkah aneh sang putra, Zidan pun bertanya. "Ada apa, Dek?" tanya Zidan.


"Ayah tahu rumah mereka?" tanya Raka.


"Sepertinya Dion pernah memberikan alamat mereka pada Ayah. Coba Raka buka pesan chat om Dion!" pinta Zidan pada Raka.


Tanpa banyak bertanya bocah ini pun segera membuka pesan chat tersebut. Mengsroll pesan itu, dan mencari alamat yang Zidan maksud.


"Ini jauh, Yah!" ucap Raka.


"Tak apa, Dek. Cepat cari di Map!" pinta Zidan seraya menyalakan mobil dan langsung menginjak pedal gasnya. Sedangkan Raka langsung melaksanakan perintah sang ayah.


Kini mereka telah keluar dari parkiran apartemen. Sayangnya mereka terjebak macet. Beberapa kali Zidan berdecak kesal. Namun tidak dengan Raka. Bocah tampan ini malah mengingat apa yang ia dengar dan lihat beberapa menit yang lalu.


Pikiran bocah cerdas ini langsung menduga bahwa semua yang terjadi pasti ulah wanita itu.


"Yah!" panggil Raka.


"Ya!" jawab Zidan.


"Boleh Raka tanya sesuatu?" Bocah tampan ini menyamankan posisi duduknya dan menatap sang ayah.


"Tentu saja, Raka mau tanya apa?" balas Zidan.


"Ayah ingat nggak tante nyang itu?" Raka masih setia pada posisinya.


"Tante yang itu? Yang mana?" tanya Zidan bingung.


"Yang bilang kalau dia mengandung adiknya Raka," jawab Raka jujur. Zidan mengerutkan kening. Aneh saja. Kenapa Raka menanyakan wanita itu? Padahal beberapa hari yang lalu Nandita sudah menjelaskan masalah ini padanya.


"Iya, ingat. Kenapa?" tanya Zidan heran.


"Apakah dia sungguh-sungguh mengandung adiknya Raka, Yah?" tanya Raka lugu.


Zidan malah tersenyum. Lucu saja, sang putra malah menanyakan hal tabu seperti ini.


"Jawab saja, Yah. Raka nggak pa-pa kok. Raka sudah paham dan mengerti soal beginian. Bunda sudah jelaskan," jawab Raka. Lagi-lagi sang putra menunjukkan sisi keluguannya. Membuat Zidan gemas.


"Dek, entah kamu percaya apa nggak! Ayah ama tante itu memang berteman. Tapi kalau dia mengandung adiknya Raka, kayaknya enggak deh!" sanggah Zidan yakin.


"Oh, oke. Soalnya tadi Raka lihat dia ketawa-tawa sama seseorang. Terus dia bilang 'Mampus Nandita' gitu Yah!" ucap Raka, sesuai yang dia dengar. Spontan Zidan menghentikan senyum tampannya. Berganti dengan rasa terkejut yang luar biasa.


"Apa! Raka dengar di mana?" tanya Zidan seketika.


Beruntung mobil mereka saat ini sedang dalam keadaan berhenti. Bayangkan jika mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Tak menutup kemungkinan bahwa Zidan akan menginjak remnya secara mendadak.


"Tadi di parkiran Raka lihat tante itu. Eh pas Raka mau balik, dia udah masuk mobil dan mobil itu udah melaju, Yah," ucap Raka jujur.


"Kenapa Raka nggak bilang dari tadi?" Zidan menyesal. Sebab ia merasa info yang ia dapat seperti terlambat.


"Maaf, Yah. Bukanya Raka nggak mau kasih tahu. Percuma juga, kan nereka sudah melaju. Kita mau kejar bagaimana? Lari! Kan nggak mungkin!" jawab bocah tampan ini lagi.


Benar juga ya, batin Zidan. Ah, setidaknya dia sudah tahu dan punya gambaran bahwa ini pasti campur tangan wanita itu.


Suasana hening sesaat. Kemudian Zidan dikejutkan dengan seruan Raka. "Nah itu mobilnya, terios hitam Yah. Itu, Itu!" tunjuk Raka.


Zidan pun memfokuskan pandangannya pada mobil tersebut. Beruntung kaca mobil tersebut turun setengah. Jadi Zidan bisa melihat jelas bahwa yangvada di dalam mobil tersebut adalah Natalia dan komplotannya.


"Brengsek! Kamu benar, Dek. Bisa jadi ini adalah rencana wanita itu!" ucap Zidan kesal.


"Gimana Yah? Kita kejar mereka atau ke tempat bunda?" tanya Raka.


"Kita ke tempat bunda aja, Dek. Biar mereka om Dion yang urus!" jawab Zidan tegas. Raka pun menurut. Ia tak lagi bertanya. Sedangkan Zidan tetap melajukan kendaraannya dengan tenang. Menuju kediaman orang tua kandung Nandita. Karena saat ini Nandita jauh membutuhkan pertolongannya dari pada membuang waktu mengurus wanita rubah itu.


Bersambung....