
Di lokasi yang tak jauh dari tempat kejadian, polisi menemukan sesuatu yang cukup mencengangkan. Beberapa polisi tersebut menemukan beberapa butir bagian gelang yang terbuat dari batu akik. Butiran-butiran gelang tersebut sangat mirip dengan gelang yang biasa dipakai oleh Zidan.
Nandita sangat tahu jika gelang itu adalah milik Zidan. Pria itu pernah bercerita padanya perihal gelang tersebut. Gelang itu Zidan dapatkan dari salah satu perajin akik yang ada di daerah Pacitan, Jawa Timur. Gelang akik tersebut khusus dibuat oleh beliau untuk Zidan. Sebagai tanda terima kasih karena Zidan pernah membantunya.
Nandita masih shock, begitupun Dion. Mereka masih diam membisumembisu. Masih belum bisa mengambil sikap atas kabar yang mereka terima. Rasanya aneh saja, apa hubungan kasus ini dengan Zidan. Munginkah?
"Maaf, Pak. Apakah anda mengenal barang ini?" tanya pak polisi kepada Dion.
Dion mengambil butiran batu akik tersebut dan melihatnya dengan teliti.
"Ya, Pak. Ini adalah gelang yang mirip dengan milik abang saya," jawab Dion jujur.
"Melihat hasil oleh TKP (tampat kejadian perkara) Sepertinya setelah mobil itu tertembak, lalu oleng, mobil tersebut sempat berhenti. Atau lebih tepatnya tidak langsung masuk ke jurang. Tetapi di sini, melihat bodi mobil bagian belakang yang ringsek, bisa diartikan mobil tersebut di tabrak dari belakang," ucap polisi tersebut sambil menunjukkan foto-foto serta menjelaskan apa yang menjadi prediksi para penyidik tersebut.
"Lalu, apa hubungannya dengan pemilik gelang ini, Pak?" tanya Nandita.
"Kami mencurigai, salah satu pelaku penyerangan adalah pemilik gelang ini, Bu!" jawab polisi tersebut.
Tentu saja, tuduhan tersebut membuat Nandita kembali shock. Wanita itu tercengang. Menatap penuh tanya pada para petugas yang saat ini sedang melaksanakan tugasnya.
"Nggak mungkin, Pak! Bapak pasti salah!" ucap Nandita. Spontan wnaita ini menutup mulutnya, agar ia tak mengeluarkan tangisannya. Jujur ia tak percaya dengan ini semua. Ini sungguh gila dan tidak mungkin. Namun, bukti tersebut real mengarah pada Zidan. Nandita tak bisa menyanggah atau pun membela. Sebab dia sendiri juga tak punya bukti. Serta tidak tahu di mana Zidan berada sekarang.
"Maaf, Bu. Bukan hanya butiran batu akik ini. Kami juga menemukan sobekan jaket. Mungkin kalian mengenal bukti kedua ini," ucap salah satu polisi yang batu datang.
Nandita semakin tak percaya. Hatinya teremas kuat. Serasa sangat sakit. Ia tak menyangka bahwa barang-barang pribadi Zidan ada di tempat ini. Mungkinkah apa yang dituduhkan para polisi itu adalah benar.
"Kami akan mencoba menyelidiki kembali, Bu. Sebab kami juga masih membutuhkan banyak bukti yang kuat. Termasuk dia benda ini," ucap pak polisi itu lagi.
Nandita diam terpaku. Jiwanya serasa melayang entah ke mana. Lutunya lemas. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak percaya bahwa pria yang di ketahui sangat baik dan penyayang itu tega melakukan hal sekeji ini.
"Dion! Bagaimana ini?" tanya Nandita di tengah-tengah tangis ketakutannya.
"Aku nggak yakin kalau abang tega melakukan ini, Mbak. Abang bukan pria seperti itu!" jawab Dion yakin.
"Tapi bukti-bukti itu mengarah kepadanya Dion!" sanggah Nandita.
"Percayalah, Mbak. Pasti ada yang tidak beres. Kita harus tenang dan tetap waspada. Aku yakin, abangku buka pelakunya. Bisa jadi dia difitnah, Mbak. Mengingat saat ini dia juga tidak diketahui keberandaannya," jawab Dion yakin.
Nandita tak membantah ucapan pria itu. Namun dalamnya hati siapa yang tahu. Apakah Dion bisa menjamin ini? Apakah ia tahu bagaimana dalamnya hati Zidan? Sedangkan Zidan sendiri terlihat marah dengan kedua orang tua Nandita, yang menyebabkan Nandita membencinya.
"Apapun bukti yang mereka temukan, aku tidak yakin, Mbak. Aku tahu bagaimana abang. Abang bukan orang seperti itu. Percayalah!" jawab Dion menyakinkan. Mengulang ucapannya itu, agar Nandita tidak terpancing oleh sesuatu yang masih semu.
"Tapi Dion, kita tidak tahu isi hati seseorang," tambah Nandita.
"Oke, sekarang gini aja Mbak. Aku dan Vano fokus mencari abang. Mbak tetap pantau penyelidikan polisi, bagaimana?" ucap Dion memberi penawaran.
Nandita mengangguk. Menyetujui usul tersebut. Lebih baik membagi tugas dari pada tetap jalan di tempat.
Ide yang Dion sampaikan, tak ada salahnya jika di coba. Benarkan?
Nandita diam. Namun ia tetap berusaha menyakinkan hatinya bahwa Zidan bukanlah pria seperti itu. Zidan si pria dermawan itu mana mungkin tega menghabisi nyawa seseorang. Terlebih dua orang tersebut adalah orang tua dari kekasihnya. Ini sungguh tak masuk akal.
***
Di suatu tempat, ada Raka yang diam-diam mencari tahu keberadaan sang ayah memelalui chip yang dipasang oleh Zidan di mobil milik mereka. Beruntung kala itu Zidan mengajari bocah cerdas ini untuk melacak keberadaan mobil tersebut jika dia tak ada kabar.
Bocah ini tak ingin hanya tinggal diam, menunggu mereka yang menurutnya sangat lambat bekerja. Entah apa yang mereka kerjakan, masak menangkap satu penjahat saja tidak bisa. Terkadang hati Raka berbicara demikian. Tak dipungkiri bahwa dia sangat gemas, ingin sekali ia bersikap seperti tokoh-tokoh super hero idolanya. Seperti Badman mungkin, atau seperti tokoh-tokoh animasi kesukaanya lainnya. Yang tangkas, cermat dan cepat. Tidak lelet seperti keong.
Raka mulai bereaksi, dengan lincah bocah ini menekan keyboard yang ada di laptop miliknya. Beberapa kali dia gagal, karena masalah signal.
"Ya Allah Ya Tuhanku, bantu Raka! Izinkan Raka menemukan ayah! " pinta Raka pada sang Khaliq. Beberapa menit kemudian, akhinya ia pun berhasil. Tak sia-sia dia duduk berjam-jam di depan laptopnya. Dengan kecerdasannya mengopresikan alat-alat tersebut, bicah tampan ini pun mampu menemukan petunjuk. Mobil itu ia temukan di dalam hutan yang tak jauh dari tempatnya berberada saat ini.
Tinggal dia meminta bantuan pada siapa yang kira-kira bisa membantunya.
"Om Dion, ya! Om Dion. Dia pasti juga lagi nyariin ayah," ucap Raka girang.
Tak menunggu waktu lagi, akhirnya bicah tampan ini pun langsung menghubungi pria yang ia yakini bisa membantunya.
Raka langsung menyiapkan tas yang biasa ia pakai untuk bepergian. Tak lupa ia menyiapkan beberapa senjata rahasia. Termasuk ketapel dan juga batu kali. Bocah tampan ini yakin jika alat-alat pasti akan membantunya.
Raka mengendap-ngendap, agar pakde dan bude yang ditugasi Nandita untuk menjaganya, tidak melihatnya.
Bocah ini tak ingin gagal dalam misinya. Keinginannya untuk menemukan sang ayah sungguh besar. Kali ini Raka tak akan peduli pada apapun. Baginya ia harusnya menemukan sang ayah dan membuktikan pasa semuanya bahwa ayahnya bukan seperti yang mereka tuduhkan. Ayahnya adalah pria baik- baik dan berhati mulia. Raka sangat tidak Terima jika ada yang menjelek-jelekkan Zidan.
Bersambung....
Jangan lupa like komen n share. Maaf jika masih ada typo 😘