My Sunshine

My Sunshine
Dua Kabar yang Berbeda



Raka menyelesaikan tugasnya dengan baik. Beberapa orang yang ia curigai berhasil ditangkap dan diperiksa sesuai prosedur.


Dion mengakui kehebatan keponakannya ini. Ketajaman telinga dan juga kecerdasan otak seorang Raka tak di ragukan lagi.


Bocah tampan itu begitu panda bersiasat. Pandai memancing lawan. Pandai mbaca gerak tubuh seseorang yang dicurigai. Sehingga mau tak mau, mereka pun terpaksa mengakui apa yang mereka lakukan.


Keluar dari ruang rapat, Dion tersenyum bangga pada keponakannya itu.


"Kamu hebat, Raka. Om bangga padamu!" ucap Dion.


"Terima kasih, Om. Tapi sayang, kita bakalan dapet kabar yang mungkin adalah awal dari kegagalan kita," ucap Raka, sedikit santai. Namun tak dipungkiri dalam ucapan tersebut mengandung aura ketakutan yang mencekam.


"Maksudnya?" Dion duduk persis di depan Raka. Menatap bola mata bocah tampan ini. Seakan meminta jawaban atas pernyataan yang telah ia keluarkan.


"Kemungkinan besar akan ada demo di perusahaan ini, Om. Raka rasa ini akan melukai harga diri ayah sebagai pemimpin perusahaan ini. Namun kita bisa meminimalisir itu jika ayah segera sembuh dan kembali lagi ke perusahaan. Karena hanya beliaulah yang bisa menenangkan para karyawan. Bukan Raka. Raka hanya bisa membantu sampai sini," jawab bocah tampan ini.


Dion diam sesaat, lalu ia pun menjawab pernyataan itu. "Kamu benar, Ka. Sebaiknya kita suport ayahmu. Agar semangat sembuh. Nasib ribuan karyawan ada di tangan ayahmu. Semoga beliau segera sadar," jawab Dion.


Perbincangan mereka berlanjut sampai Dion mengantarkan Raka ke Bandara untuk kembali ke Surabaya. Sedangkan Dion tidak bisa ikut. Karena keberadaannya sangat masih sangat dibutuhkan di perusahaan ini.


***


Selepas mengantarkan Raka ke Bandara, Dion pun memutuskan pulang ke rumah.


Rumah di mana ia dan Galih tinggal. Namun, sesampainya di rumah, Dion di kejutkan dengan sebuah paket yang terlihat tidak masuk akal.


Sebuah koper besar tergeletak tepat di depan pintu rumahnya.


Dion yang notabene adalah bujang, dia sengaja tidak memakai asisten rumah tangga yang menetap di rumah. Dion biasanya hanya memakai jasa kebersihan via online. Itu pun hanya seminggu sekali. Dion lebih suka membersihkan rumahnya sendiri.


Namun, melihat benda mencurigakan ada di depan rumahnya, tentu saja Dion curiga. Di tambah lagi, dari dalam koper tersebut mengeluarkan darah yang mulai mengering.


Pikiran Dion berputar curiga. Apa gerangan isi koper tersebut.


Tak ingin membuat kesalahan, ia pun menghubungi salah satu temannya yang ada di kepolisian. Sebab ia takut, isi koper ini bisa membahayakan nya.


***


Sangking bahagianya, Nandita pun memeluk dan mencium kening dang kekasih. Seakan takut kehilangan lagi.


"Ayah nggak pa-pa, Bun. Sungguh!" ucap Zidan lemah.


"Bagaimana kamu bisa berkata bahwa kamu baik-baik saja. Sedangkan lukamu cukup parah. Kamu mengalami dehidrasi yang cukup parah. Kamu tidur nggak bangun-bangun. Kamu membuatku takut, Zidan. Aku membencimu," ucap Nandita.


Zidan tersenyum. Omelan Nandita terdengar sangat manis di telinganya. Karena jujur, omelan itu seperti mengandung cinta.


"Jangan senyum, Zidan. Kamu hampir membuatku gila!" larang Nandita, lagi.


"Kamu menggemaskan, Istriku. Aku menyukainya," rayu Zidan.


"Benarkah aku istrimu ayahnya Raka? Lalu kapan kita menikah?" canda Nandita.


Zidan tersenyum mendengar pertanyaan penuh canda itu. Lalu ia pun menjawab, "Tunggu aku pulih, maka akan aku jawab pertanyaanmu itu. Kontan," jawab Zidan.


"Ih, itu bukan jawaban tapi ancaman Zidan. Aku tahu kamu arogan. Pria pemaksa menjengkelkan. Ahh sudahlah, sebaiknya kamu makan dan minum yang banyak. Biar cepat pulih. Biar putramu tidak berjuang sendirian. Perusahaanmu sedang tidak baik-baik saja," ucap Nandita.


"Aku sudah tahu, ini tak lepas dari peran Papi. Tapi sudahlah, jangan terlalu memikirkan pria tua itu. Aku muak dengannya," ucap Zidan.


"Tidak Zidan, mau bagaimanapun, beliau adalah ayahmu. Tak sepatutnya kamu berkata seperti itu," ucap Nandita mengingatkan.


"Ayah macam apa yang menjerumuskan putranya ke lubang derita, Ta. Itu hal yang konyol bagiku. Tidak punya hati," jawab Zidan sedih.


"Aku tahu! Tapi sudahlah... jangan pikirkan itu dulu, yang harus kamu pikirkan saat ini adalah kesehatanmu. Jika kamu sehat, kamu pasti bisa melewati semua ini, Zidan. Dan jangan membuatku spot jantung lagi. Kamu nggak ingin kan, calon istrimu ini mati muda," ucap Nandita.


Lagi-lagi Zidan hanya tersenyum mendengar ucapan lugu namun penuh cinta dan perhatian itu. Zidan bahagia, karena memiliki orang-orang yang begitu mencintainya. Seperti Raka dan ibunya.


Bersambung...