My Sunshine

My Sunshine
ADU KECEPATAN



Zidan bersiap di kamar. Sedangkan Raka sedang sibuk merayu Nandita. Agar sang ibunda menginzinkannya ikut dengan sang ayah berangkat Jakarta.


"Bun, boleh ya, Raka cuma pengen lihat monas!" Rayu bocah tampan ini.


Nandita hanya diam. Namun tak dipungkiri bahwa di dalam hatinya ia ragu.


Bukan tidak boleh? Tentu saja, sebagai seorang ibu. Rasa was-was pasti ada. Apa lagi situasinya sedang tidak mungkin untuk Raka bepergian keliling Jakarta. Mengingat nyawa Zidan sendiri dalam bahaya. Jika Raka nekat ikut, Nandita tak tahu harus bagaimana? Pasti rasa takut akan terus menghantuinya.


"Sebenarnya Bunda khawatir. Jangankan ke kamu ke ayah pun, Bunda khawatir. Raka ngerti kan maksud, Bunda?" jawab Nandita tegang.


"Ngerti, Bun. Tapi Bunda sendiri yang selalu bilang jika hidup dan mati kita itu rahasia Tuhan.Masak Bunda lupa? Raka pasti jaga diri baik-baik." Raka cemberut.


Jika begini, Nandita tak bisa berkata apa-apa lagi. Baginya keinginan Raka, selama itu di jalan kebaikan, Nandita tak mungkin menolaknya.


"Bunda cuma khawatir, Nak. Bukannya nggak boleh!" ucap Nandita lembut. Masih berusaha melarang dengan mencoba meluluhkan hati Raka dengan tutur kata lembutnya.


"Emang ada apaan sih, Bun? Kan Raka cuma mau lihat monas sama kantor ayah doang. Pokoknya Raka janji bakalan jaga diri baik-baik. Ya Bun ya," rayu Raka lagi. Terlihat wajahnya cemberut, memelas.


"Jadi gini, Dek. Raka ingat nggak orang-orang yang hampir nyelakaim ayah? Mereka tu sekarang lagi nyari ayah. Pengen nyelakain ayah. Makanya Bunda khawatir," jawab Nandita. Akhirnya wanita ini tak punya pilihan sekalian berkata jujur pada sang putra.


"Oh, jadi itu alasan Bunda. Oke, baiklah! tapi sebenarnya Raka sudah tahu, Bun. Ayah sering ngajak Raka ngobrol, om Dion juga." Raka menatap sang ibunda lalu dia diam sejenak. Begitupun dengan Nandita. Namun, terlihat jelas dari tatapan mata bocah tampan itu, bahwa hatinya masih sedih. Sebab sang ibunda belum memberikan izin padanya.


"Bun!" Raka menghentikan aktivitasnya.


"Apa?" tanya Nandita.


"Raka ingin kasih tahu sesuatu sama Bunda! Tapi janji ya jangan bilang ayah!" pinta Raka serius.


"Apa itu?" Kini malah Nandita yang penasaran.


"Tapi Bunda janji dulu, jangan kasih tahu ayah. Soalnya Raka sendiri juga belum yakin sih," pinta Raka lagi.


"Oke, Bunda janji. Tapi apaan!" Nandita semakin penasaran.


"Bunda tahu kan om Dion?" Raka menatap Nandita serius.


"Iya, tahu. Dia asisten ayah kan?" jawab Nandita tak kalah serius.


"Iya, om Dion yang itu. Raka pernah denger om Dion bicarain ayah ama seseorang, Bun!" ucap Raka. Menatap intens mata ibunda. Berharap wanita itu percaya padanya.


"Terus? Apa masalahnya?" tanya Nandita penasaran.


"Sepertinya om Dion kenal deh Bun apa papanya, ayah!" ucap Raka serius. Tentu saja Nandita terkejut. Sebab sang putra mulai membahas sesuatu yang sensitif.


"Raka jangan ngaco, ah. Bunda nggak suka!" tangkas Nandita. Sebab ia juga merasa pembahasan ini mulai terdengar berat.


"Ih, Raka serius Bunda. Om Dion nyata-nyata panggil orang itu papi dan Raka juga dengar mereka menyebut nama ayah. Mereka ngomongin ayah. " Raka kembali mengutarakan apa yang ia dengar. Karena pada kenyataan nya itulah yang pernah ia dengar beberapa bulan yang lalu. Hanya saja, Raka belum mau membahas masalah ini.


"Apakah Raka udah pernah cerita ini ke ayah?" tanya Nandita lagi.


"Belum, Bun. Raka takut!" jawab bocah tampan ini.


"Takut kalau Raka dianggap adu domba. Tapi Raka serius. Bahkan om Dion panggil ayah, abang, Bun. Memangnya on Dion adeknya ayah ya, Bun!" tambah bocah tampan ini.


Nandita semakin bingung. Zidan hanya pernah cerita bahwa dia memiliki satu adik. Yaitu Zevana dan gadis itu sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan sekarang Raka malah menceritakan sesuatu yang lain. Mungkinkah Raka salah dengar? Tapi selama ini Raka tidak pernah berbohong. Apalagi mengarang cerita.


Nandita kembali melirik sang putra Memastikan bahwa bocah tampan ini sedang tidak mengarang cerita.


"Raka jadi bingung, Bun!" ucap bocah tampan ini.


"Bunda pun sebenarnya. Tapi! Apa sebaiknya kita tanya ayah saja. Siaap tahu ayah ngerti, atau paling tidak ayah bisa lebih waspada dengan om Dion, mungkin?" balas Nandita memberi ide.


"Boleh tu, Bun. Kita sebaiknya memang diharuskan waspada pada setiap keadaan, Bun!" jawab Raka tegas.


Nandita tersenyum bangga. Sebab Raka begitu jeli membaca situasi. Sebenarnya wanita ini percaya, jika Raka bisa membantu Zidan menyelesaikan masalahnya. Sebab Raka memiliki tingkat ketelitian dan kewaspadaan yang tinggi.


***


Regen marah besar, sebab dia terkecoh oleh kecerdikan Dion.


Pesawat yang seharusnya membawa Zidan ternyata mendarat tanpa pria yang ia tunggu. Bukan hanya itu, Regen juga mendapatkan hadiah terindah dari Dion. Markas tempatnya bersembunyi telah dibumi hanguskan oleh anak buah pria tampan itu.


Terang saja Regen naik pitam. Ia pun berteriak kesal. Andai saat ini Dion berada di depannya, mungkin Regen sudah meledakkan kepalanya.


Kemarahan Regen semakin menjadi ketika api yang melalap markasnya juga melalap habis mobil beserta surat-sutat penting miliknya sekaligus aset miliknya.


Kini Regen hanya bisa berteriak kesal. Kecerobohannya menyepelekan Dion berbuah menyakitkan. Ia harus membayar mahal kebodohannya. Regen menyesal.


"Siapkan satu mobil untukku, saat ini juga aku akan meledakkan kepala bocah keparat itu!" ancam Regen, kali ini dia terlihat serius. Dari gurat wajahnya, tampan sekali dendam begitu tertukis nyata di jantung hati pria ini.


"Sabar, Bos. Jangan terbawa emosi!" ucap salah satu anak buah Regen. Bukannya tenang, darah Regen malah semakin mendidih.


"Jangan terbawa emosi matamu! Kamu nggak lihat rumah beserta aset ku hangus. Hah? Mau makan apa kita!" bentak Regen pada anak buahnya. Seketika mereka pun merinding takut.


"Awas saja jika sampai ketemu, akan kubabat habis kepala bocah sialan itu!" ancam Regen lagi. Tatapan Regen begitu menakutkan. Siapapun yang berada di sampingnya pasti akan merinding takut.


Beberapa anak buah yang masih berada di sampingnya hanya diam. Mereka memilih berada di titik yang aman. Meraka takut jika kemarahan Regen semakin menjadi. Tak menutup kemungkinan jika kepala mereka pun bisa saja menjadi sasaran.


"Kenapa kalian lengah, hah?" tanya Regen pada anak buahnya. Mata pria ini terlihat memerah, menahan amarah.


"Maaf, Bos. Kami pikir dia nggak tahu markas kita," jawab salah satu anak buah Regen.


"Apa kalian buta, lihat kenyataannya!" kembali pria ini meluapkan amarahnya.


"Ampun Bos!" jawab salah satu dari mereka lagi.


Kali ini Regen tak bisa lagi berpikir. Pria ini hanya bisa terduduk lemas di depan rumah yang kini hanya tinggal puing-puing yang masih menganga. Seperti luka hati yang ditinggalkan oleh Dion untuknya. Bukan hanya itu, luka itu juga menyulut segengaam dendam untuk melenyapkan orang-orang yang berada di dalam pihak Zidan dan Dion.


Bersambung...


makasih atas like komen dan dukungannya selama ini😘😘😘