My Sunshine

My Sunshine
SEBUAH PENGAKUAN



Nandita kembali melanjutkan pekerjaannya. Menerima dan mengirim orderan via online. Sayangnya pekerjaannya sedikit terganggu dengan tingkah Zidan yang sering mengirim pesan yang tak penting padanya. Namun, walaupun begitu tak ada rasa benci sedikitpun di hati wanita ayu ini. Ia malah bahagia.


Meskipun, kata yang dikirim oleh Zidan hanya sekedar, hay, lagi ngapain?, aku kangen kamu. Tak jarang juga pria tampan ini hanya mengirimkan emoji hati. Zidan terlihat persis seperti ABG yang sedang kasmaran. Sedangkan Nandita hanya menjawabnya dengan emoji senyum.


Hampir tiga jam kedua pria beda generasi itu meninggalkannya sendirian di apartemen. Nandita pun memanfaatkan waktu luang itu untuk membalas setiap pesan klient-klientnya. Beruntung sekali, meskipun wanita ini jarang bertemu dengan mereka. Berkat kejujuran dan kecekatannya dalam bekerja, Nandita memiliki banyak pelanggan yang mendatangkan pundi-pundi rupiah.


Wanita ayu yang hampir tidak pernah mengeluh soal rezeki ini, memang pandai menjaga amanah. Baik itu perihal hati, perihal janji, maupun perihal materi. Oleh sebab itu, sejak Nandita melahirkan Raka, Kartika mempercayakan semua bisnis tokonya pada wanita ini. Sedangkan ia fokus pada panggilan mengurus jenazah.


Berkat keuletannya, setahun kemudian usaha Nandita berkembang sangat pesat. Nandita mulai berani menambah bisnisnya. Yang awalnya hanya aneka jenis bunga. Kini berani membuka usaha perlengkapan jenazah. Meskipun, ia hanya memantau di rumah.


Senyum wanita ayu ini mengembang sempurna ketika ponselnya berdering. Ia pun menilik sebentar ponsel itu. Bagaimana tidak tersenyum? Yang menghubunginya adalah pria itu. Pria yang seharian ini memenuhi ingatannya.


"Ya," sambut Nandita.


"Ini Raka, Bun!" terdengar suara berisik hujan dari seberang sana.


"Ya ada apa, Nak?" tanya Nandita.


"Di sini hujan, Bun. Kami belum bisa pulang. Raka sudah makan tapi ayah belum. Kata ayah mau makan masakan Bunda aja. Bunda masak apa?" ucap Raka. Sepertinya Zidan memang pandai memanfaatkan situasi. Bukannya bilang sendiri, ini malah memanfaatkan Raka untuk kebahagiaan hatinya.


"Kok gitu? Siang tadi ayah juga nggak makan?" tanya Nandita.


"Raka di ruang apa ini namanya? Raka nggak tahu, Bun. Kalau ayah lagi di kamar mandi," jawab Raka jujur.


"Loh, kok ponsel ayah sama kamu. Emang ayah nggak pakai?" tanya Nandita curiga.


"Raka pinjam buat telpon Bunda. Raka kangen hehe." Raka terkekeh sedangkan Nandita hanya tersenyum.


"Kenapa ayah nggak mau makan di sana?" pancing Nandita.


"Nggak tahu, Bun. Ayah cuma bilang mau makan di rumah aja. Masakan Bunda lebih enak, habis itu gratis katanya." Raka kembali terkekeh. Sedangkan Nandita hanya diam.


"Bunda masak yang sedap ya, kasihan ayah dari siang belum makan. Pasti ayah laper," ucap Raka lagi.


"Ya udah bentar lagi Bunda masak buat kalian. Hati-hati ya pulangnya. Bilang sama ayah nggak usah ngebut," ucap Nandita memperingatkan.


"Siap, Bunda. Nanti Raka kasih tahu," jawab Raka bersemangat. Tak lama berselang panggilan telepon pun berakhir dan Nandita juga beranjak dari kamar. Berniat menyiapkan makan malam untuk kedua pria yang kini jadi prioritasnya itu.


Tak terasa sore telah berlalu, keasikan Nandita berjibaku dengan masakan, akhirnya mengantarkannya pada malam. Kini semua masakkan sudah ia hidangkan di meja makan. Tinggal menunggu kedua pria yang sangat ia sayangi itu.


Namun, ketika ia hendak membersihkan diri. Bel pintu berbunyi. Nandita pun tersenyum. Sebab iya yakin yang datang adalah Raka dan Zidan. Kedua pria yang sangat ia tunggu.


"Sebentar!" ucap Nandita sembari berjalan cepat. Sebab sang tamu sepertinya tak sabar ingin segera masuk.


"Iya-iya, astaga," ucap Nandita dengan senyum manisnya. Wanita ayu ini pun langsung membukakan pintu untuk sang tamu. Sayangnya yang datang bukanlah kedua pria yang ia tunggu. Melainkan seorang wanita yang sangat cantik kan anggun.


"Maaf, Mbak cari siapa ya?" tanya Nandita.


"Maaf, Mbak. Mas Zidan nya lagi kerja," jawab Nandita jujur.


Sayangnya wanita yang terlihat angkuh itu malah tak peduli. Dengan sombongnya ia langsung menerobos masuk dan duduk di sofa ruang tamu apartemen tersebut.


"Buatkan aku minum, aku haus!" pinta wanita itu, masih dengan sikap arogan dan tak sopan.


"Sebaiknya anda kalau bertamu yang sopan ya, Nona!" ucap Nandita memperingatkan.


Bukannya takut, wanita itu malah menantang Nandita. "Heh, siapa kamu berani mengaturku. Aku adalah calon istri dari pemilik apartemen ini," ucap wanita itu lantang. Seketika Nandita pun shock.


"Calon istri?" tanya Nandita gemetar.


"Iya, kenapa? Nggak percaya, tanya aja sama Zidan dan perlu kamu tahu ya, sekarang saat ini aku sedang mengandung buah cinta kami," ucap wanita itu tanpa basa basi. Sedangkan Nandita yang saat ini dalam keadaan terkejut hanya bisa diam dan menatap nanar pada wanita yang mengaku sebagai kekasih Zidan itu.


"Kenapa bengong, buatkan aku minum. Aku haus! Mau kamu dipecat sama Zidan gara-gara nggak becus kerja. Nggak becus nglayani calon istrinya!" kembali wanita judes itu mengeluarkan perintahnya.


Nandita tak bisa berpikir lagi. Tak kuasa membantah lagi. Yang bisa menjelaskan ini semua adalah Zidan. Sedangkan pria yang bersangkutan tidak ada di tempat. Terpaksa Nandita menahan sikap tak sopan wanita ini.


Beberapa saat kemudian, Nandita pun mengambilkan segelas jus jeruk untuk wanita itu. Namun, bukannya menerima wanita itu malah menyemburkan jus itu. Tak hanya itu, wanita itu juga memaki Nandita.


"Air apaan ini? asem sekali. Dasar wanita bodoh. Rasain ini heh," wanita itu langsung menyiramkan jus itu tepat ke wajah Nandita. Beruntung Zidan datang, dengan cepat pria ini pun memeluk Nandita, sehingga jus itu tepat mengenai punggung Zidan.


Sang wanita pun terkejut, sebab Zidan menatapnya dengan tatapan menakutkan.


"Han, Han, Honey!" ucap wanita itu takut.


Zidan yang terlanjur murka langsung menyeret wanita itu untuk keluar dari apartemennya.


"Lepasin Zidan, lepasin! Aku hamil Zidan!" teriak wanita itu sembari berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Zidan.


Mendengar sang wanita mengaku hamil, Zidan pun menghentikan langkahnya. Kemudian ia pun menatap wanita itu. Bukan hanya wanita itu yang ia tatap. Tetapi juga Nandita yang saat ini menunduk menahan tangis. Sedangkan Dion dan Raka terlihat diam di tempat, sebab mereka belum paham dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Apa kamu bilang?" pekik Zidan.


"Iya, Honey. Aku mengandung. Aku mengandung buah cinta kita," jawab wanita itu manja. Sedangkan Zidan bingung. Pria ini hanya dia, tak tahu harus menjawab apa. Sebab, ia merasa pernah tidur dengan wanita itu.


Zidan menatap Dion. Berusaha memberi kode pada sang asisten untuk membawa pergi wanita itu terlebih dahulu, wanita yang mengaku hamil anaknya ini. Dion yang cerdas pun paham dengan perintah tersebut. Dengan susah payah, akhirnya Zidan dan Dion pun berhasil membujuk wanita itu untuk meninggalkan apartemen Zidan. Sebab Zidan berjanji akan menemuinya sebentar lagi.


Nandita marah, ia pun segera menarik tangan Raka dan membawa bocah tampan ini ke dalam kemarnya. Nyatanya sebuah pengakuan yang mengejutkan itu, sanggup memporak-porandakan hati Nandita. Sanggup meruntuhkan impian yang berusaha ia wujudkan.


Bersambung....


Like, komen dan Vote kalian adalah hadiah terbaik untukku๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜