
Tiga bulan berlalu...
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu hingga sampailah di bulan ketiga terhitung dari pertemuan mereka. Sejak saat itu, Zidan terlihat sangat bersemangat menjalani hidup. Pelan-pelan ia mulai meninggalkan dunia malam. Lebih giat dalam ibadah. Sebab Raka, sang putra selalu mengingatkannya jika waktu salat tiba.
Raka selalu mengirim pesan teks jika azan berkumandang. Meminta sang ayah menghentikan aktivitas dan meminta pria tampan ini untuk memenuhi panggilan sang Khaliq. Untuk mencari setitik cahaya sebagai bekalnya untuk hidup di akhirat nanti.
Seperti mendapat dorongan, Zidan pun bersemangat kembali ke jalan yang lebih baik. Benar, seorang Raka telah menjadi cahaya penerang dalam hidupnya. Zidan merasa sangat beruntung memiliki bocah tampan ini. Andai Nandita tidak membatasi diri. Ingin rasanya Zidan memeluk wanita itu dan mengucapkan banyak terima kasih karena melahirkan seorang putra yang luar biasa untuknya. Terlebih Raka bukan hanya mampu membuatnya bahagia. Namun juga mampu membawanya ke dalam jalan yang lebih baik.
Raka seperti alarm bagi Zidan. Alarm untuk selalu ingat bahwa apa yang kita lakukan Tuhan melihat. Alarm untuk Zidan agar selalu jujur pada hatinya. Alarm untuk Zidan, agar selalu menjaga kesehatannya. Demi dirinya, demi Raka dan demi wanita yang ingin ia menangkan hatinya.
Zidan tersenyum sendiri jika ingat Nandita yang selalu gugup jika berada dekat dengannya. Nandita memang sangat jarang berbicara. Sangat jarang mau menatapnya. Bahkan sangat jarang mau menemuinya ketika ia datang untuk menjenguk Raka.
Jika dia datang, Nandita lebih memilih mengurung dirinya di kamar. Hanya menemuinya sebentar lalu kembali lagi ke tempat di mana ia merasa nyaman dari tatapan Zidan. Padahal, jika boleh jujur. Zidan ingin sekali bercengkrama dengan wanita itu. Namun, sikap Nandita yang selalu menghindar darinya tentu saja mempersulit aksesnya untuk mengenalkan diri lebih pada wanita ini.
Zidan tak ingin memaksa. Ia bisa mengerti ini. Nandita pasti butuh lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri.
Mau bagaimanapun ia adalah pria yang pernah menyakitinya. Pria yang pernah memaksa Nandita. Pria yang menciptakan trauma pada wanita itu. Zidan bisa memahami itu. Bahkan Kartika juga mewanti-wanti Zidan agar jangan sampai menggores hati Nandita.
Kartika bilang, hanya kasihan. Kasihan pada wanita malang itu. Ia sudah cukup menderita selama ini. Pemaksaan Zidan serta penolakan keluarga kandungnya adalah penyebab wanita ini mengalami guncangan hebat pada jiwanya.
Terkadang kita memang harus punya banyak kesabaran untuk menghadapi ujian hidup. Terlebih untuk menerima akibat dari kesalahan yang kita lakukan.
Namun, terlepas dari itu semua Zidan sadar jika Tuhan sangat baik padanya. Keikhlasan menjalani hukuman selama ini telah memberinya sebuah hadiah yang sangat istimewa. Yaitu dipertemukannya kembali Zidan dengan wanita itu. Sehingga ia memiliki kesempatan untuk meminta maaf. Terlebih, ia mendapatkan bonus yang luar biasa yaitu seorang bocah tampan dengan kecerdasan di atas rata-rata dan kebaikan hati serta pemikiran yang cukup dewasa. Disamping itu ada hal yang lebih membahagiakan yaitu bocah itu adalah miliknya. Tercipta dari benihnya, yang berarti adalah keturunannya.
Zidan menghela napas dalam-dalam. Sepertinya rasa rindu pada sang buah hati mulai menggerogotinya padahal baru seminggu yang lalu ia datang menjenguk. Memastikan bahwa sang buah hati dan wanita yang mulai bersarang di hatinya itu, baik-baik saja.
"Ini aneh sekali, ada apa denganku. Mengapa wanita itu senang sekali mengangguku," gerutu Zidan sambil menjenguk segelas air mineral yang ada dalam genggamannya.
"Ya Tuhan, please jatuh cintanya jangan sekarang! Dia masih takut padaku, Tuhan!" pinta Zidan sedikit kesal. Sebab bayangan Nandita kini telah sukses menganggunya. Mendorongnya untuk datang ke tempat itu lagi. Tempat di mana Nandita berada.
Namun, bagaimana boleh? Mereka tidak memiliki hubungan apapun. Hanya Raka alasanya pergi ke sana. Kalau terlalu sering, bisa habis dia diomelin sama wanita paruh baya yang selama ini menjadi pelindung Nandita. Bahkan ia selalu mewanti-wanti agar Zidan jangan macam-macam. Jangan menatap Nandita berlebihan. Jangan curi-curi padang dan jangan datang terlalu sering.
Sungguh itu sangat menyiksa hati pria ini. Padahal ia ingin lebih. Ingin mendekati wanita itu. Sayangnya benteng yang harus ia runtuhkan terlalu kuat dan tinggi. Yaitu peraturan Kartika dan juga sikap Nandita. Ini sungguh sanggup membuatnya hampir gila. Zidan gelisah.
"Ya Tuhan! Aku bisa gila lama-lama." Zidan menghela napas lagi. Berusaha meredam panas yang telah hadir di hati. Meneguk air yang ada di gelas, berharap air itu bisa membantunya menghapus rindu yang menganggunya. Berharap air itu bisa melunturkan keinginan hati untuk menemui wanita itu.
***
Di sudut hati yang lain, ada juga kegalauan yang tercipta. Yaitu kegalauan yang diderita oleh batin wanita yang bersikeras menolak bahwa pria itu telah kembali ke dalam hidupnya. Meskipun sikapnya sangat baik dan santun padanya. Namun, namanya trauma tidak semudah itu terhapuskan.
Nandita tersadar dari lamunan ketika mendengar gelak tawa Raka.
"Raka ngapain?" tanya Nandita ketika melihat Raka asik dengan ponselnya.
"Lihat, Bun. Ayah lucu sekali," jawab Raka.
"Hemm, ayah? Mana ada ayah?" tanya Nandita, spontan.
Tanpa berpikir bahwa panggilan video itu masih berlangsung. Nandita langsung melongok menampakkan wajahnya.
Terang saja, Zidan yang berada nan jauh di sana langsung memasang senyum tampannya. Pun dengan Nandita. Sayangnya, sedetik kemudian mereka sama-sama tersadar. Bahwa senyum yang mereka hadirkan bisa bermakna lain. Nandita cepat-cepat menghindar. Zidan pun bersikap sama, pria ini cepat-cepat menghapus senyumnya. Agar Raka tidak menyadari jika ia suka melihat wajah wanita itu meskipun hanya lewat maya.
"Ayah sama Bunda kenapa? Aneh deh?" tanya Raka curiga.
"Nggak? Nggak kenapa-napa? Emang Bunda kenapa?" balas Nandita berusaha mengelak dengan apa yang telah tertangkap oleh mata dan pikiran Raka.
"Ayah tahu nggak bunda kenapa?" tanya Raka pada sang ayah. Zidan tidak menjawab, sebab ini berhubungan dengan hati. Raka tidak akan mengerti.
"Ayah sama Bunda aneh, dah ah. Kita lanjut bahas yang tadi aja, Yah. Jadi kalau kita mau menemukan n-nya Raka harus gimana, Yah?" tanya Raka, kembali ke topik pembahasan awal mereka.
"Coba Raka baca lagi soalnya, Ayah lupa jadinya!" ucap Zidan.
Raka pun membaca kembali soal yang ia masih belum mengerti. Kemudian Zidan kembali menjelaskan dengan pelan dan bahasa yang mudah dimengerti.
Ternyata Zidan memang bisa jadi guru yang baik untuk Raka. Sedangkan bocah ini juga sangat nyaman belajar bersama sang ayah. Zidan bukan hanya ayah yang baik, tetapi juga guru baginya. Zidan yang tahu banyak hal dan juga telaten mengajarinya membuat Raka merasa benar-benar memiliki ayah. Terlepas dari polemik yang mengikat antara ibu dan ayahnya.
***
Kebahagiaan Raka dan Zidan, serta kemelut ego yang menjerat Nandita dan Zidan nyatanya menghadirkan seuntas tali bernama iri di hati seorang wanita bernama Natalia Wilson yang tak lain adalah wanita yang selama ini dekat dengan Zidan.
Sekarang wanita ini merasa terabaikan. Zidan sering menolak panggilan telepon nya. Sering menolak bertemu. Sehingga mendorong wanita ini untuk mencari tahu penyebab sang kekasih berubah.
Bersambung...
Terima kasih yang berkenan mengikuti kisah Raka dan kedua orang tuanya. Like dan komen kalian adalah penghargaan terbaik bagi saya. Lope kalian🥰🥰🥰