
"Maafkan Raka, Yah!" ucap Raka ketika memeluk raga Zidan yang masih terbaring lemah.
"Ini bukan salahmu, Putraku. Ini sudah kehendak sang Pemilik Hidup. Ayah sendiri sudah tahu rencana mereka sejak disekap. Namun raga Ayah tak bisa diajak kompromi." Zidan tak kuasa menahan kesedihannya.
"Yah!" Raka kembali menangis.
"Ingat! Pria sejati tidak menunjukkan air matanya. Ketika kita berani menanam maka kita pun akan memanen nya. Percayalah! Semua akan baik-baik saja. Cepat minta Om Ricard untuk mencari tiket. Kita pulang ke Jakarta sekarang!" pinta Zidan di tengah-tengah kesedihannya.
"Semua oke. Sudah jangan menangis lagi," ucap Zidan.
Ucapan itu memang singkat, namun tak dipungkiri, bahwa dari dalam hati pria tersebut sedang merasakan sakit karena kehilangan.
Raka tahu, pasti saat ini ayahnya sedang menangis dalam diam. Mengingat beberapa kali Raka menangkap mata sang ayah berkaca-kaca.
***
Tak ada tangisan menggebu-gebu di pemakaman seorang Galih. Ketika pria beda generasi yang saat ini mengantarkan pria paruh baya yang mereka sayangi itu. Mereka tampak tenang. Menyembunyikan kesedihannya di balik kaca mata hitam yang kini menutupi mata mereka.
"Jangan terlalu lama di sini! Sebaiknya kita cepat balik. Aku rasa, mereka juga mengincar nyawa kita!" ajak Zidan memperingatkan.
Raka sendiri pun berpikir demikian. Bocah cerdas ini beberapa kali merasakan ada yang aneh di sekitar mereka. Namun, sekali lagi Raka tidak ingin berasumsi terlalu tinggi. Sebab ia merasa tidak punya bukti.
"Ayah lihat seseorang yang sembunyi di balik pohon rindang itu?" bisik Raka pada sang ayah.
"Yes! Itu salah satu dari mereka," jawab Zidan waspada.
"Go go, Yah. Jangan sampai ada korban lagi. Sebaiknya kita cepat kasih tahu Om Vano dan gengnya," ucap Raka menyarankan.
Beban Zidan serasa lebih ringan ketika memiliki Raka. Putra satu-satunya ini memang memiliki kecerdasan di atas Rata-rata. Ketelitian dan kepiawaiannya mempelajari gerak-gerik lawan, tidak diragukan lagi.
"Raka, sesampainya di mobil, bilang sama bundamu jangan sampai keluar dari apartemen. Karena itu sangat berbahaya. Komplotan orang-orang yang kini sedang mengincar mereka, tidak bisa dianggap remeh," pinta Zidan.
"Siap, Yah! Tapi tunggu... jangan masuk mobil. Raka curiga, mereka berbuat curang!" ucap Raka memperingatkan.
Ucapan Raka masuk di akal. Untuk saat ini, tak ada kemungkinan yang tidak mungkin. Pada musuh begitu licik dan pastinya akan melakukan apapun untuk menghabisi Zidan beserta keturunannya.
"Dion! Raka curiga mobil kita sedang dalam permainan mereka. Sebaiknya kita naik taksi saja," ajak Zidan.
Dion tersenyum sinis. Sebab ia sependapat dengan Raka. Entah dari mana ia mendapatkan firasat itu. Pemikiran itu tiba-tiba datang sendiri.
"Bang, taksi pun bahaya. Kita melibatkan nyawa orang lain yang tak berdosa. Bagaimana kalo aku minta anak buah Vano untuk menjemput kita," ucap Dion, mengingatkan.
"Oke, solusi kita tinggal Vano. Semoga aman. Setidaknya sampai para bajingan itu kita ringkus," jawab Zidan.
Ketiga pria itu begitu waspada. Memerhatikan setiap gerak gerik orang-orang yang ada di sekitar mereka. Karena untuk saat ini, mereka tidak bisa percaya dengan siapapun.
***
Tak dipungkiri, bahwa saat ini Nandita tak tenang. Hatinya harap-harap cemas. Memikirkan kedua pria yang sangat dicintainya itu, sedang pergi berperang. Berperang belawan ketidakadilan yang mereka terima.
Keserakahan seseorang telah menjadikan keluarga mereka terpecah belah. Menjadikan Zidan dan Dion kehilangan ayah mereka.
Bersambung...