
Di dalam mobil, Zidan mendiamkan Nandita. Pria ini enggan banyak bicara. Takut Nandita salah terima. Sebab wanita ini terlanjur curiga padanya. Zidan tak ingin berdebat. Apa lagi untuk membela diri.
Tentu kondisi ini membuat Raka curiga. Zidan membuang pendangan ke samping . Sedangkan Nandita pun sama.
"Yah!" panggil Raka sedikit mengagetkan.
"Apa, Dek?" tanya Zidan.
"Raka boleh nggak pinjam ponsel Ayah?" Raka menatap Zidan. Tanpa banyak bertanya, Zidan pun memberika ponselnya pada Raka.
Diam, hanya diam. Mereka semua yang ada di mobil hanya diam. Namun tidak dengan Raka. Bocah cerdas ini sepertinya punya insting yang kuat. Entah mengapa ia tahu bahwa mobil yang membawanya saat ini sedang diikuti.
Setelah selesai mengetik sesuatu, Raka pun mengembalikan ponsel itu dan meminta sang ayah membacanya.
Zidan yang tanggap dengan kode yang di berikan sang putra, langsung memberi tahu sang sopir bahwa sang putra mencurigai sesuatu. Mencurigai bahwa mobil yang sedang membawa mereka sedang diikuti.
Tanpa melihatkan Nandita. Ketika pria itu pun segera mencari solusi untuk melarikan diri dari musuh. Sebab untuk melawan tidak mungkin. Jumlah mereka lebih banyak. Di samping itu Zidan juga dalam keadaan terluka.
"Bagaimana, Bos?" tanya sang sopir.
"Masuk ke daerah M saja, di sana aku banyak teman!" perintah Zidan. Kemudian pria ini pun segera menghubungi beberapa kenalannya untuk menghadang para preman itu.
"Nanti kita berpencar untuk mengelabuhi mereka," tambah pria tampan ini lagi.
"Siap, Bos!" jawab sang sopir. Sepertinya pria yang membawa mereka telah mengerti dengan tatapn mata Zidan yang tak henti-hentinya memberinya kode.
Di samping Zidan ada Nandita yang tak peduli. Sebab ia berpikir ini hanya permainan Zidan. Dia berpikir bahwa ayah dari putranya ini hanya mempemainkannya.
"Yah, mereka datang dari dua arah," ucap Raka memberi tahu.
"Dari mana Raka tahu?" Zidan terhenyak kaget.
"Lihat tu, Yah. Bukankah itu mobil yang di pakai malam itu?" tanya Raka sembari menunjuk mobil yang berada di depan mereka.
"Haiiiasssh .... kamu bener Dek! Sasaran mereka adalah wanita ini." Zidan melirik Nandita. Sedangkan Nandita pun melirik membalas lirikan itu dengan lirikan ingin marah pada Zidan.
"Bala bantuan sampai mana?" tanya Zidan pada sang sopir.
"Mereka berada di belakang kita Bos," jawab sopir tersebut. Kemudian tanpa bertanya pria ini pun membawa mobil ini masuk ke dalam gang kecil dan di sana ada satu mobil lagi yang siap mengecoh mereka.
"Siap, Yah!" Raka mulai mempersiapkan alat pertahanannya. Sedangkan Zidan bersiap membawa Nandita keluar dari mobil untuk mengelabuhi mereka.
Kini Zidan dan anak buahnya yang dia tugasi untuk menjemputnya telah sampai di tempat tujuan. Zidan bersiap turun, sebelum itu ia mencium dulu kening Raka dan menepuk pundak bocah tampan ini. Zidan yakin Raka pasti bisa jaga diri. Sebab bocah ini sangat cerdas.
Tak menunggu waktu lagi, akhirnya Zidan pun keluar dari mobil pertama dan pindah ke mobil kedua. Sedangkan Nandita terpaksa digendong paksa oleh anak buah Zidan karena tidak menurut dan memasukkan wanita itu ke dalam satu mobil dengan Zidan.
Terang saja, setelah masuk Nandita langsung mengamuk. "Dasar brandalan, bisanya main paksa terus!" teriak Nandita keras. Bukan hanya itu, wanita ini juga memukul pria ya. Sampai dua orang yang ada di dalam mobil itu merasa gendang telinganya hampir pecah.
"Jalan!" pinta Zidan tanpa menghiraukan Nandita. Sebab, misinya kali ini juga bertujuan untuk menyelamatkan Nandita dari pria yang menginginkanya.
"Di mana mereka?" tanya Zidan pasa anak buahnya.
"Satu kilo meter dari tempat ini, Bos!" jawab pria berjas hitam itu.
"Bagus, usahakan mereka kehilangan jejak kita," pinta Zidan.
"Siap, Bos!" jawab pria itu. Lalu tak ada pembicaraan lagi. Namun sayang, baru beberapa menit mereka berkendara. Mobil yang mereka kendarai ditabrak mobil dari arah berlawanan. Mobil pun ringsek. Oleng sehingga sang sopir kewalahan. Zidan tak berpikir panjang. Ia langsung memeluk Nandita. Baginya yang terpenting saat ini adalah keselamatan Nandita. Sebab ia sudah berjanji pada Raka akan melindungi wanita itu. Sedangkan Raka sendiri memiliki misi untuk mencari tahu siapa dalang dibalik penyerangan mereka.
Kali ini Nandita tidak melawan. Dia hanya menatap wajah tampan yang terlihat khawatir padanya. Saat mobil berguling, mereka saling memeluk erat. Saling melindungi. Nandita memeluk kepala Zidan, pun sebaliknya. Mereka saling menatap. Saling berharap. Tidak terjadi sesuatu pada mereka, dan ketika mobil berhenti berguling, tampan kepala Zidan mengeluarkan darah. Membuat Nandita takut. Beruntung Zidan berhasil melindungi Nandita, sehingga tidak terjadi suatu apapun pada wanita ini.
"Kamu berdarah," ucap Nandita lembut.
"Tak apa, ayo kita keluar dan cari tempat persembunyian!" ajak Zidan. Nandita yang tanggap langsung berusaha membuka pintu mobil itu, kemudian keluar dan membantu Zidan yang saat itu terluka lumayan parah.
Para musuh mulai mengejar. Nandita pun segera memapah Zidan untuk sama-sama melarikan diri. Terdengar suara tembakan bersaut-sautan. Mereka terus berusaha menghindar Mereka terus berusaha menghindar dari peperangan. Sebab, mau melawan tidak mungkin. Kondisi Zidan tidak memungkinkan.
Beruntung ada semak yang rimbun. Nandita menarik tangan Zidan dan mengajaknya bersembunyi di rerimbunan tersebut.
***
Di sisi lain, perjuangan Raka tak kalah menengangkan. Bocah tampan ini memiliki tugas yang tak kalah rumit.
Zidan sengaja meminta bocah tampan ini ikut dengan Eman. Karena menurut info mobil yang mengejar mereka, ditumpangi oleh orang dalang di balik penyerangan itu.
Raka yang telah paham dengan arahan sang ayah, langsung memasang kamera di tempat ponsel yang ada di mobil tersebut. Lalu merekamnya. Agar dia tahu siapa yang berniat jahat pada keluarganya. Bukan hanya itu, bocah tampan ini juga berusaha mencari bukti nyata, bukan hanya ingatan semata.
Bersambung....