
Setelah ia mengirim pesan pada asisten yang selalu ia minta untuk menjaga Raka. Zidan pun langsung memakai jaket, meraih dompet dan juga ponselnya. Malam ini juga ia akan berkendara menuju kekasih hatinya. Menuju wanita yang sukses membuatnya resah beberapa hari ini.
Temaramnya malam menemani perjalanan Zidan. Tak ada rasa takut sedikitpun. Yang ada hanyalah, ia ingin segera menemui Nandita. Mengatakan pada wanita itu bahwa dia merindu. Menyampaikan pada kekasih hatinya, bahwa ia tak sanggup membendung rasa ini. Zidan ingin Nandita tahu, bahwa rasa cinta yang membelenggunya ini ternyata sanggup membuat sulit bernapas lega. Matanya enggan terpejam. Entahlah, rasanya Zidan tak bisa mendeskripsikan rasa yang kini merengkuhnya.
Hampir empat puluh lima menit ia berkendara, akhirnya ia pun sampai di kediaman Nandita. Zidan nekat. Ia pun mengambil ponsel yang ada di dasbor mobil dan menghubungi wanita tersebut.
Sayangnya usahanya sia-sia. Nandita tak mau mengangkat panggilan teleponnya. Wanita itu terkesan cuek. Tak mau memedulikan kekhawatirannya.
Buka Zidan namanya kalau tak memiliki akal. Ia sudah tahu di mana saat ini Nandita berada. Lampu kamar wanita itu masih menyala. Pertanda dia belum tidur. Bisa jadi ia masih bekerja, atau bisa juga wanita itu juga merindu seperti dirinya.
Sebelum ia masuk ke rumah, terlebih dahulu Zidan menggubungi Kartika. Bertanya pada wanita itu. Apakah dia ada di rumah atau tidak. Jika ada itu malah membantunya. Sebab, Zidan tidak ingin dinilai tidak beretika. Datang ke rumah seorang yang belum menjadi muhrim tanpa izin dari pemilik atau lebih tepatnya penangungjawab atas rumah tersebut.
Zidan mengambil ponsel dan segera menghubungi Ibu Kartika. Selalu pemilik rumah sekaligus wali dari Nandita saat ini. Zidan adalah pria berpendidikan. Ia tak mungkin memilih jalan yang menyalahi aturan.
"Apakah ibu ada di rumah?" tanya Zidan pada Kartika langsung pada pokok tujuannya datang ke rumah ini.
"Iya, Ibu ada di rumah. Ada apa, Nak?" tanya Kartika pada pria yang telah ia anggap sebagai putra sendiri ini.
"Saya dan Tata ada sedikit kesalahpahaman, Bu. Bolehkah saya bertemu dengannya dan membahas masalah ini?" tanya Zidan di sela-sela panggilannya.
"Oh, kalian ada masalah? Baiklah, masuklah. Ibu bukakan pintu untukmu," jawab Kartika.
Zidan pun tersenyum senang. Apa yang menjadi keyakinannya sama sekali tidak meleset. Jika ia baik, jika ia jujur, pasti Tuhan akan mempermudah langkahnya. Akan mempercepat tujuannya.
"Terima kasih, Bu!" balas Zidan antusias.
"Sama-sama. Ibu kasih kamu waktu tiga puluh menit. Setelah itu kamu pulang, nggak boleh cowok nginep tempat cewek tanpa ada ikatan resmi. Mengerti!" ucap Kartika tegas. Meskipun ia belum tahu ikatan apa yang mengikat putri angkatnya dengan pria ini, tetap saja ia harus bisa membentengi mereka. Menjaga batasan mereka. Agar kesalahan yang pernah terjadi tidak terulang kembali.
Beberapa menit kemudian Kartika pun keluar. Membukakan pintu untuk pria tampan ini. "Memangnya berantem masalah apa toh? Kok sampai tengah malam gini dibela-belain datang! " goda Kartika ketika membukakan pintu untuk pria tampan ini. Senyum merekah sempurna di wajahmu wanita paruh baya ini.
"Zidan belum bisa cerita, Bu. Zidan bingung mesti mulai dari mana!" jawab pria ini tegas.
"Oke kalau belum bisa cerita, yang penting apapun masalahnya jangan sampai membuat kalian terluka. Ibu percaya padamu, Putraku," ucap Kartika yakin.
"Terima kasih, Bu. Zidan tak akan mengecewakan Ibu tapi maaf Zidan masih belum bisa menjelaskan apa yang terjadi antara Zidan dan Tata," jawab Zida sopan.
"Yang penting tidak membuat adeknya Raka tanpa ikatan resmi," balas Kartika, memperingatkan.
Zidan yang paham akan maksud Kartika tentu saja langsung menyanggah pernyataan itu. "Tidak, Bu. Kami tidak serendah itu," jawab Zidan yakin.
"Ibu percaya kalian. Udah ayo masuk." Kartika membuka pintu lebih lebar.
"Kamu bilang tadi, kalian tidak serendah itu. Apakah itu artinya telah terjadi sesuatu pada kalian?" pancing Katika.
"Maksud Ibu?" Zidan pura-pura tidak paham.
"Jangan pura-pura bodoh. Ibu tahu kamu hanya pura-pura," balas Kartika.
"Maaf kalau Zidan lancang, Bu. Maaf jika Zidan tak meminta izin terlebih dahulu pada Ibu. Zidan dan Tata...." Zidan tak mampu melanjutkan ucapannya sebab ada sepasang mata yang kini sedang menatapnya dengan kesal. Dia adalah Nandita. Tanpa diduga telah keluar dari tempat persembunyiannya.
"Baiklah, ibu masuk kamar dulu. Selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Dengan kedewasaan. Kalian sama-sama sudah dewasa. Sudah memiliki putra juga. Kamu paham Zidan?" Kartika menatap Zidan, kemudian ia juga menatap Nandita ya g terlihat masih kesal.
"Siap, Bu. Kami akan menyelesaikan kesalahpahaman ini segera!" jawab Zidan tegas. Setelah itu Kartika pun kembali ke kamar. Sedangkan Nandita yang ingin tetap menjunjung harga dirinya, terlihat enggan menemui Zidan. Wanita ini pun bersiap menghindar dari pria tampan ini.
"Kumohon jangan pergi, Ta!" pinta Zidan lembut.
Nandita yang mendengar permintaan itu langsung menghentikan langkahnya. Namun tidak menoleh sedikitpun. Zidan paham jika Nandita pasti marah padanya. Pria ini pun berinisiatif mendekati wanita ayu pemarah tersebut.
"Ta! maafkan aku!" pinta Zidan pelan namun tegas.
"Untuk apa minta maaf, kita udah sepakat untuk menjaga batasan buka?" balas Nandita, sesuai dengan apa yang telah mereka sepakati.
"Aku tidak bisa, Ta. Nyatanya aku merindukanmu," jawab Zidan memelas.
Mendengar pernyataan yang menyentuh hati itu, terang saja Nandita tak sanggup menahan air matanya.
"Kamu jahat Zidan," ucap Nandita pelan.
"Aku tahu, Ta. Kamu sering mengatakan itu. Tapi, bolehkah aku meminta kesempatan lagi. Untuk membuktikan bahwa aku tidak serendah itu," balas Zidan lembut.
Nandita menangis dalam diamnya. Sebab pada kenyataannya hatinya tak bisa marah pada Zidan. Meskipun ia ingin.
"Pergilah Zidan, aku mohon. Kamu menyiksaku. Aku benci padamu." Nandita melangkah hendak meninggalkan pria tampan ini. Namun, dengan cepat Zidan meraih tangan kekasihnya, lembut, penuh perasaan. Didekapnya wanita ini, agar tidak lari, agar tidak menghindari percakapan dari hati ke hati ini.
"Aku mencintaimu, Ta. Aku tulus. Tidaklah kamu bisa berasakan betapa aku juga tersiksa atas perpisahan ini. Aku tidak menghamili wanita itu, Ta. Demi Tuhan," bisik Zidan lembut. Tepat di telinga Nandita. Membuat wanita ini meriding.
Nandita sendiri tak kuasa menahan hatinya. Karena pada kenyataannya ia juga merindukan pria ini.
"Pergilah Zidan. Aku mohon jangan seperti ini!" pinta Nandita sembari mendorong pelan dada Zidan.
"Aku akan pergi asalkan kamu mau berjanji satu hal padaku!" pinta Zidan.
"Apa?" balas Nandita. Mata mereka saling menatap seolah ingin melebur rindu yang kini berhasil memporak-porandakan jiwa mereka.
"Tunggu aku menyelesaikan masalah ini. Jangan ke mana-mana! Tolong jaga cinta suci kita sampai aku bisa membawamu ke pelaminan. Aku tak ingin main-main, Ta. Aku hanya ingin dirimu yang menjadi ibu dari putra-putriku. Hanya kamu yang boleh mengandung benihku. Aku hanya menginginkanmu, Ta. Demi Tuhan!" jawab Zidan dengan penuh ketulusan cintanya.
"Aku sudah bilang kan waktu itu. Aku tidak butuh janjimu, Zidan. Aku butuh pembuktian darimu." Nandita mencoba melepaskan dekapan Zidan. Namun semakin ia mencoba semakin pria ini mengeratkan dekapannya.
"Dengarkan aku baik-baik Nandita Kayana. Aku mencintaimu. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Cinta ini suci dan tak ada sedikitpun niatku untuk menodainya. Aku akan buktikan bahwa ini bukan sekedar kata tapi ini adalah rasa. Rasa yang dalam Nandita. Asal kamu mau menunggu, aku berjanji akan menguak kebenaran ini. Percayalah!" ucap Zidan tegas.
Nandita tak bisa mengelak lagi. Sebab ia juga merasakan apa yang Zidan rasakan. Namun, entahlah keraguan selalu saja datang menggoda hatinya. Nandita menatap mata elang milik pria itu. Berusaha mencari kesungguhan ucapan Zidan. Dan hasilnya, Nandita percaya. Percaya pada Janji yang Zidan ucapkan untuknya.
Bersambung....
Makasih buat like komen n Votenya🥰