
Permintaan Zidan untuk membawa Raka kehadapannya, disambut baik oleh Dion. Ia pun segera melaksanakan perintah tersebut Karena, sebenarnya semua pihak juga menunggu perintah tersebut.
Pemuda ini juga yakin jika Pihak Panitia, Dewan Juri maupun Pihak Sekolah, tidak akan keberatan jika sang Pemilik Perusahaan yang memiliki wewenang mutlak pada keputusan hadiah tambahan tersebut ingin menguji sendiri anak itu.
Matahari masih enggan bercengkrama dengan bumi. Awan mendung masih menyelimuti langit. Hawa malas pasti menyerang siapa pun jika begini. Namun, tidak bagi Dion. Pemuda ini bersemangat sekali menjemput Raka ke sekolah. Padahal pihak panitia bersedia mengantarkan anak itu kepadanya. Tetapi, Dion penasaran dengan tempat di mana bocah tampan itu manimba ilmu. Sehingga melahirkan anak didik yang berkilau seperti ini.
"Apa sekolahnya masih jauh, Pak?" tanya Dion pada anggota panitia yang bertugas mengantarkannya ke tempat tujuan.
"Tidak, Pak. Di gang depan itu, setelah pemakaman ini kita masuk!" jawabnya.
"Oh, oke!" balas Dion tanpa melihat pada orang tersebut. Ia malah fokus pada tanaman-tanaman yang ada di pinggir jalan. Daerahnya masih asri, sejuk dan nyaman di pandang.
"Banyak toko bunga di sini ya, Pak," celetuk Dion. Sebenarnya pandangan seperti itu biasa di sekitar pemakaman. Namun, bunga-bunga segar yang memanjakan matanya rasanya aneh baginya. Mereka tampak sangat segar, seperti baru dipetik.
"Iya, Pak. Kan dekat sama pemakaman. Kan itu biasa," balas pria berkemeja biru itu. Dion tersenyum, tersipu sendiri. Sebenarnya ia sudah tahu, hanya iseng saja. Maklum Dion suka bercengkrama sebenarnya. Hanya saja ia bingung hendak membahas apa.
***
Di sisi lain, Zidan merasa gelisah. Entah mengapa ia seperti sedang menguji dirinya sendiri. Antara siap dan tidak bertemu dengan Raka. Namun, ingin. Ingin bertemu dengan anak itu. Penasaran dengan bagaimana rupa asli anak itu.
Kini pikiran Zidan bukan lagi tentang lomba itu tetapi lebih siapa sebenarnya anak itu. Mengapa di akte kelahiran anak itu tidak ada nama seorang ayah? Mengapa anak itu juga mirip dengannya? Bukan hanya itu, yang membuat Zidan penasaran adalah usia Raka. Jika dihitung dari kejadian memilukan itu, sampai Raka sebesar sekarang. Rentetan tanggal, bulan dan tahun, hasilnya cocok, jika seandainya benar Raka adalah putranya.
Zidan tersenyum sendiri. Rasanya indah sekali jika seandainya Raka adalah putranya. Bagaimana tidak? Raka tampan, tanggap, sopan, cerdas dan berkarisma. Mirip seperti dirinya. Terbesit rasa bangga tersendiri baginya. Andai kata angan yang ia bayangkan bisa menjadi kenyataan.
Sesaat kemudian terdengar ponsel Zidan berdering. Ia punmenghela napas dalam-dalam. Maniknya menilik nama yang tertera pada gawai tersebut. bahwa. Zidan tersenyum, sebab orang yang menghubunginya adalah orang yang ia nantikan. Siapa lagi kalau bukan sang sekertaris. Yang kini sedang berada di sekolah Raka.
"Hem!" sambut Zidan.
"Maaf, Bos. Anaknya mau saya bawa ke hotel atau via video call saja ujiannya?" tanya Dion.
Zidan terlihat bingung. Merasakan sesuatu yang aneh. Mengapa ia jadi tidak siap bertemu langsung dengan anak itu. Rasanya jantungnya berdetak sangat kencang. Seperti dirinya saja yang akan menghadapi ujian tersebut. Bukan Raka.
"Jarak sekolah ke sini berapa lama?" tanya Zidan mengalihkan pemikirannya.
"Satu jam, Bos!" jawab Dion tegas.
"Signal Internet di sana bagus tidak?" tanya pria ini lagi.
"Bagus, Bos. Di sini sudah pakek wifi," jawab Dion lagi.
"Kalau gitu via video call saja," jawab Zidan memutuskan. Entahlah, rasa tak siap tiba-tiba menghantuinya. Zidan seperti menemukan kesalahannya kembali dan dia hanya belum siap untuk menebusnya kesalaha tersebut.
Akhirnya keputusan telah ditetapkan. Raka ditemani oleh bu Sonia selaku guru pembimbing. Pak Joko selaku kepala sekolah. Saksi dari perusahaan ada Dion. Saksi panitia ada anggota panitia dan juga ketua dewan juri. Menurut hukum ini sudah sah. Mau bagaimanapun bentuk ujian itu. Mau online ataupun tatap muka, hukumnya tetap sama.
"Raka kamu pasti bisa!" ucap Dion menyemangati. Bukan hanya Dion, semua yang ada di tempat itu juga menyemangati bocah tampan ini.
"Raka, siap?" tanya Bu Sonia.
"Siap, Bu," jawab Raka dengan senyum tampannya.
"Bagus, jangan gugup ya. Tenangkan dirimu, anggap pak penguji adalah gurumu sendiri. Supaya Raka tetap nyaman. Mengerti!" ucap Bu Sonia lagi.
"Siap, Bu," jawab Raka tenang.
Laptop telah menyala, sudah tersambung dengan pria yang hendak mengujinya juga. Tak lupa, sebelum memulai Raka berdoa dalam hati, supaya ia bisa melewati ujian ini dengan baik dan lancar tentunya.
Raka dan Zidan terlihat sama-sama terkejut. Mungkin mereka sama-sama berpikir jika wajah yang mereka lihat di layar laptop tersebut, mirip satu sama lain.
Raka diam namun tidak dengan Zidan. Pria berusia 33 tahun ini terlihat tersenyum dan menyapa duluan, agar Raka tidak gugup dan merasa nyaman berbincang dengannya. Sebab, melihat wajah tegang Raka, ia tahu pasti Raka gugup. "How are you today, Raka?" sapa Zidan, langsung tanpa basa-basi.
"I am fine, Mr." Raka tersenyum.
"Very good, oke Raka, introduce yourself please!" pinta Zidan.
Dengan cepat Raka pun memperkenalkan diri. "My Name is Raka Oktaviant Abimanyu. I am 10 years old. Now, i'm in the fifth grade. I live with my mother and my grandmother. My hobby is archery because I want to be an archery athlete." Raka kembali tersenyum . Bocah ini terlihat bersemangat ketika membicarakan hobi dan cita-citanya ini, yang ingin menjadi atlet panahan seperti sang idola. Serta keinginan kuatnya untuk mengharumkan nama Indonesia di kanca Internasional lewat keahlian memanahnya.
"Bagus Raka. Cita-cita yang sangat keren, semangat! Kamu pasti bisa," ucap Zidan ikut antusias.
Raka sedikit terkejut. Sebab, Zidan membalas ucapannya dengan berbahasa Indonesia. Raka pikir sepanjang pertemuan ini, Zidan akan mengajaknya berbahasa asing. Raka hanya takut tak bisa mengimbangi sang penguji. Meskipun jika di tilik dari semua siswa yang ada di sekolah ini. Rakalah yang nilai bahasa Inggrisnya paling bagus.
"Apakah Raka suka mengikuti lomba ini?" tanya Zidan lagi.
"Suka, Mr. Saya sangat menyukainya!" jawab Raka antusias. Jawaban yang jujur menurut Zidan. Sebab, senyum manis yang terpancar di wajah tampan itu, terkesan tulus.
"Bagus, Raka. Om suka jika melihat anak muda yang punya semangat tinggi sepertimu. Bukan hanya semangat dalam pendidikan formal. Namun juga bersemangat dalam hobi. Hobi yang positif tentunya, ya. Oke, untuk pertemuan kita kali ini cukup sekian. Om sudah mengirim soal-soal yang harus kamu kerjakan. Soal itu sudah Om kirim dan sudah diterima oleh asisten, Om. Kamu kerjakan pelan-pelan. Hati-hati. Yang teliti dan dicermati betul-betul. Agar tidak ada satupun yang salah. Raka mengerti!" ucap Zidan, kembali seulas senyum persahabatan ia persembahkan untuk Raka. Bermaksud membuat anak ini tidak gugup.
"Siap, Mr.! Om eh!" jawab Raka gugup. Terdengar suara tawa, di antara orang-orang yang yang ada di samping dirinya. Mereka menertawakan kelucuan mereka.
Zidan kembali tersenyum. Kemudian ia pun mengucapkan salam perpisahan dan mematikan panggilan video tersebut.
Matinya panggilan video itu bukan akhir dari ujian ini. Melainkan awal dari tantangan yang harus Raka hadapi. Raka terlihat menghela napas dalam-dalam. Bersiap mengerjakan ujian yang diberikan oleh pria yang tadi menyapanya di layar laptop milik kepala sekolahnya.
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan share ya... makasih