My Sunshine

My Sunshine
MATA ITU



Suasana di tempat penerimaan hadiah terlihat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebab, di tahun ini direktur perusahaan besar itu menyempatkan diri untuk hadir. Bermaksud untuk menyerahkan sendiri hadiah yang telah ia persembahan untuk pemenang kali ini.


Para peserta yang berhasil menyabet gelar juara dipersilahkan masuk dan duduk di tempat yang telah di sediakan. Sedangkan Zidan belum bisa hadir di ruangan ini karena ada rapat di aplikasi online miliknya. Tetapi dia tetap berada di lokasi sekitar ruangan ini. Tepatnya di salah satu ruang yang ada di GOR ini. Sedangkan Dion duduk di samping pak Bupati. Mengantisipasi jika saat penyerahan hadiah tambahan, Zidan masih belum bisa masuk ruang acara. Dion sebagai wakil bisa segera menggantikannya.


"Apakah, pak Zidan tidak jadi hadir?" bisik pak ketua panitia pada pada Dion.


"Jadi, Pak. Beliau ada di sebelah. Lagi zoom meeting. Ada sedikit masalah di kantor. Beliau berpesan mulai saja acaranya. Jika waktunya cukup beliau pasti akan menyerahkan sendiri hadiah itu. Jika tidak, beliau sudah mewakilkan tugas itu pada saya. Mohon dimaklumi!" jawab Dion.


"Oh, begitu. Iya-iya kita maklumi. Namanya juga semua penting!" ucap pak ketua panitia.


Dion tersenyum dan pasrah saja. Sebab, ia tak bisa menggantikan rapat tersebut. Rapat ini sangat penting dan harus Zidan sendiri yang menghadiri. Terpaksa, pemimpin perusahaan itu, menyerahkan tugas penyerahan hadiah ini pada Dion, wakilnya. Namun Zidan berjanji, jika rapatnya selesai sebelum penyerahan hadiah itu berakhir, dia pasti akan menyempatkan diri untuk hadir.


MC memulai acara. Ketua panitia, Dewan Juru dan juga Pak Bupati bergantian naik ke podium untuk menyampaikan kata sambutan. Kemudian disusul oleh satu persatu peserta yang berhak mendapatkan hadiah. Senyum merekah di antara orang-orang yang hadir. Tanpa terkecuali Raka dan Nandita.


"Bunda, senang?" tanya Raka tiba-tiba.


"Tentu saja, Bunda jadi ingat waktu sekolah. Bunda sering ikut beginian. Tapi nggak pernah juara satu, kayak kamu," jawab Nandita jujur.


"Sekarang Bunda dapat juara satu, lewat Raka, kan," jawab Raka dengan senyum tampannya.


"Iya, Sayang. Terima kasih. Kamu memang terbaik," ucap Nandita, tak lupa ia juga memberikan kecupan tanda kasih sayang di kening Raka.


Nandita terlihat celingukan. Seperti mencari seseorang.


"Bunda cari siapa?" tanya Raka.


"Bu guru kok nggak kelihatan ya?" tanya Nandita.


"Oh, bu guru itu yang ngem-C. Bu Ganita ada di belakang kita, kalau pak kepala sekolah ada di barisan dewan juri, Bun."


Nandita mendengarkan ucapan sang putra. Sambil memerhatikan orang-orang yang ditunjuk oleh anaknya.


"Bun lihat, itu Bupati kita," ucap Raka sembari menunjuk dengan tatapan matanya.


"Oalah iya nggak lihat, Bunda. Padahal Bunda nyariin. Mana pak Bupati? Kapan lagi kita bisa jumpa beliau. Boleh minta foto nggak ya? " tanya Nandita lugu.


Raka tersenyum, ibundanya ini memang kadang-kadang lugu dan juga mengelikan.


"Itu yang pakai baju batik. Kalau yang pakek jas itu, yang berbincang dengan pak Bupati, itu perwakilan perusahaan, Bun," ucap Raka lagi.


"Oh, yang Raka bilang mirip Raka. Enggak ah, dia kurus. Rambutnya juga jabrik-jabik gitu. Nggak-nggak, nggak mirip Raka sama sekali. Orang-orang salah itu," tolak Nandita, terlihat sedikit kesal. Ternyata diam-diam, Nandita mengambil hati ucapan Raka dan omongan orang-orang tersebut.


Raka tersenyum, merasa lucu. Bundanya memang kadang-kadang aneh. Raka pikir, sang Bunda tidak memikirkan apa yang ia sampaikan tadi pagi. Ternyata Raka salah, sang Bunda malah memikirkan perkataan pasal orang yang mirip dengannya, bahkan sampai mengambil hati ucapannya.


"Bukan bapak itu yang mirip Raka, Bun. Nanti kalau pas kelihatan nanti Raka kasih tahu. Mungkin beliau masih repot kali, Bun," jawab Raka, terdengar suara tawa ringan bocah tampan ini.


"Ada, Bun. Tapi Raka juga belum pernah bertatap muka langsung. Hanya kemarin video call-an ama Raka. Beliau menyapa Raka dan kasih soal untuk ujian ulang," jawab Raka jujur.


"Oh! Kirain, kalian ketemu gitu. Terus mereka bilang mirip. Baru bener. Kalau cuma video call, dibilang mirip. Mungkin mereka halu kali ya," balas Nandita dengan kelingan mata genitnya.


Raka tertawa pelan, "Halu? Bunda kebanyakan baca novel on-line nih," celuk Raka.


"Novel on-line? Bisa juga ya! Aduh Bunda juga ikutan halu ini, tapi penasaran juga sih. Kenapa mereka pada bilang kalian mirip, " tambah Nandita sembari menggigit pelan jari-jarinya.


"Entahlah, mungkin beliau memang ayah Raka kali, Bun. Halu!" balas Raka, kemudian mereka pun terkekeh pelan.


Raka dan Nandita tak melanjutkan perbincangan mereka. Sebab, terdengar barisan nama juara umum telah di panggil. Termasuk nama Raka dan juga walinya dan mengharuskan mereka naik ke podium untuk menerima hadiah.


"Kita sambut juara pertama kali ini. Raka Oktaviant Abimanyu , beri tepuk tangan yang meriah untuk juara umum kita." MC terlihat bersemangat saat membacakan nama itu. Tentu saja bersemangat, sebab juara pertama kali ini adalah anak didiknya.


Raka dan ketiga temannya di dampingi wali, telah berdiri tegak dan berjejer rapi sesuai tempat. Senyum merekah sempurna di antara ketiga anak yang dinobatkan sebagai pemenang kali ini. Bukan hanya mereka yang tersenyum namun juga para orang tua yang berdiri di belakang mereka. Bahkan di antara wali ketiga anak tersebut ada yang meneteskan air mata bahagianya.


Beberapa menit kemudian, suara bisik-bisik terdengar. Seseorang yang berhak memberikan hadiah datang. Dengan gagahnya, orang tersebut pun masuk ke dalam ruangan ini. Mata semua orang tertuju pada pria yang terlihat gagah itu. Tak ada suara riuh lagi. Pandangan para hadirin hanya fokus pada pria yang baru saja datang. Mereka terpesona . Bagaimana tidak? Zidan terlihat sangat berwibawa. Meskipun hanya ada senyum tipis yang menghiasi wajah rupawannya.


Bukan hanya para hadirin yang terpikat dengan aura yang dibawa oleh Zidan. Raka pun sama, anak ini begitu antusias bertemu dengan pria itu. Dalam detik ini mata Zidan dan Raka bertemu, lalu Zidan memberikan satu acungan jempol pada Raka . Sebagai tanda ucapan selamat untuknya.


Raka pun membalas acungan jempol itu dengan menempelkan tangan kanannya di dada kiri. Lalu membungkukkan tubuhnya sedikit. Sebagai balasan atas rasa berterima kasih pada Zidan. Karena telah memberinya kesempatan kedua untuk kembali berusaha mendapatkan hadiah tambahan.


"Baiklah, Bapak Zidan sudah hadir. Selamat datang Bapak," ucap MC menyambut kedatangan Zidan. Lalu Zidan pun tersenyum.


Zidan telah hadir. MC juga sudah mendapat izin untuk memanggil namanya. Tak menunggu waktu lagi, sang MC pun langsung menjalankan tugasnya. Memanggil Zidan untuk naik ke podium.


"Kami mohon kepada Bapak Zidan yang terhormat, untuk berkenan naik ke podium. Untuk memberikan hadiah kepada anak-anak didik kita yang telah bersemangat, berjuang dan mampu mengalahkan tantangan mereka. Sehingga berhasil meraih juara dalam kompetisi ini. Untuk waktu dan tempatnya kami persilakan!" MC menghentikan ucapannya lalu


terdengar tepuk tangan meriah mengiringi langkah Zidan.


Kini Zidan didampingi oleh seseorang yang membawa baki hadiah, langsung berjalan menuju podium untuk menjalankan tugas mereka. Seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelum ini.


Pria gagah yang jadi pusat perhatian pun langsung membagikan hadiah sesuai apa yang para juara raih. Tak lupa Zidan menjabat tangan anak dan juga orang tua yang menjadi wali mereka.


Namun, saat langkah kaki Zidan sampai di depan Raka. Senyum Zidan pudar seketika. Matanya menatap kaget pada seseorang yang ada di belakang Raka. Jantung Zidan berdetak lebih kencang dari biasanya. Bukan hanya itu hati pria ini terasa teremas. Terlebih melihat bocah tampan yang terus tersenyum padanya. Sekelebat tatapan mata, tanya pun memenuhi ruang hampa di dalam hatinya. Mungkinkah?


Di sini bukan hanya senyum Zidan yang pudar. Senyum seseorang yang ada di belakang Raka pun ikut hilang. Wanita itu terlihat rikuh, salah tingkah, gugup. Jantungnya juga memacu lebih cepat. Keringat dingin langsung keluar dari pelipis Nandita. Bibirnya gemetar. Andai saat ini tidak berada dalam situasi yang sangat penting. Pasti Nandita sudah berlari meninggalkan tempat ini.


Bersambung.....


Jangan lupa like dan komennya ya gaes. Makasih🥰🥰🥰