
Kecewa, itulah kata yang pas untuk bisa mewakili apa yang sedang Nandita rasakan saat ini. Dengan penuh amarah ia pun segera merapikan baju-bajunya dan bersiap meninggalkan apartemen pria yang sekali lagi telah mempermainkan hatinya ini.
Zidan tak tinggal diam. Ia pun langsung menyusul Nandita dan Raka ke kamar wanita ayu itu.
"Ta, jangan marah dulu!" pinta Zidan lembut. Sedangkan Nandita tak mengindahkan. Ia tetap saja meraih tasnya dan bersiap meninggalkan apartemen ini.
"Ta, aku mohon! Ini bukan penyelesaian masalah. Dengan kamu pergi, itu artinya kamu cuma menghindarinya," tambah Zidan mulai tak sabar.
Nandita masih tak ingin mendengarkan pendapat Zidan. Dia masih saja asik memunguti barang-barangnya. Memasukkannya ke dalam tas pribadinya.
Zidan yang kesal, akhinya menatap Raka yang saat itu terlihat menunduk sedih. Zidan paham jika sang putra pasti kurang senang dengan situasi ini.
"Dek, ayah mau bicara sama bunda. Boleh?" tanya Zidan lembut sembari memegang pundak sang putra.
Raka menatap bergantian ayah dan ibunya. Meskipun sebenarnya kurang nyaman meninggalkan sang ibu, tetapi ia juga tak mungkin menolak permintaan sang ayah. Akhirnya bocah tampan ini pun mengangguk. Menyetujui permintaan sang ayah.
Kini tinggallah Zidan dan Nandita yang saling mendiamkan. Nandita pun terlihat tak peduli dengan kehadiran pria yang telah memberikan satu putra dalam hidupnya ini. Nandita sangat-sangat kecewa. Karena harapannya untuk hubungan ini terhempas begitu saja oleh badai yang tak terduga.
"Maafkan aku, Ta," ucap Zidan memohon.
Nandita menghentikan aktivitasnya, lalu ia pun mengusap kasar air matanya. Ingin rasanya ia mengucapkan sumpah serapahnya. Namun, semua kata itu justru mencekik lehernya.
"Apakah aku boleh tahu siapa dia?" tanya Nandita lirih.
"Dia? Dia adalah teman dekatku. Tapi kami hanya berteman, Ta," jawab Zidan gugup. Sebab jujur, ia bingung mendefinisikan hubungannya dengan wanita yang mengaku mengandung bayinya itu.
Nandita menatap kesal pada Zidan. Bagaimana tidak? Zidan mengatakan bahwa wanita itu hanyalah teman. Tetapi hamil. Bukankah jawaban itu malah menghadirkan kecurigaan Nandita. Kata teman tetapi bisa hamil, cukup membuat Nandita mengerti. Berarti mereka bukan hanya saling mengenal tetapi juga mempunyai hubungan lebih.
Tak menutup kemungkinan bahwa apa yang dikatakan wanita itu adalah kenyataan. Mungkin juga pria yang ada di sebelahnya ini adalah buaya.
"Aku serius Ta, kami hanya teman," ucap Zidan berusaha mencegah Nandita pergi.
Nandita diam. Tak mengucapkan sepatah katapun. Sebab percuma. Ketika semua arti dari ucapan itu tengah nampak. Lalu apa lagi yang harus dijelaskan. Nandita tak kuasa lagi menggusun kata. Karena semua yang akan ia ucapkan pasti akan sia-sia.
Zidan tak putus asa. Pria ini pun berlari mengejar Nandita. Meraih tangan wanita itu dan membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
"Jangan pergi, Ta. Aku mohon!" pinta Zidan memohon.
"Kamu pembohong Zidan, aku membencimu," jawab Nandita kesal.
"Aku tidak bohong, Ta. Serius! Aku sama dia cuma temenan," jawab Zidan lembut. Masih setia merengkuh tubuh munggil wanita yang sangat dicintainya itu.
"Aku akan buktikan bahwa wanita itu pasti bohong," ucap Zidan. Nandita menatap kesal.
"Jangan cuma berucap, Zidan. Aku marah!" ucap Nandita. Pada dasarnya Nandita adalah wanita yang tak pandai mengutarakan apa yang ada di dalam otaknya. Nandita gusar, rasanya tak sanggup lagi membendung rasa kesal yang menyerang hatinya.
"Aku tahu kamu pasti marah tapi, tolong percayalah padaku sekali ini saja Ta," Zidan masih berusaha menahan Nandita. Lalu ia pun kembali berucap, "Sejak bertemu denganmu dan putra kita, aku telah berubah. Aku bukan Zidan yang suka ke club dan suka meminum minuman beralkohol lagi atau main perempuan lagi. Raka dan kamu adalah tujuanku, Ta. Aku nggak mungkin menyakiti kalian. Aku mencintai kalian Ta, mengertilah!"
Zidan mengeratkan pelukannya. Sedangkan Nandita masih belum bisa menerima kenyataan yang menyakitkan ini.
"Aku dan dia hanya berteman, Ta. Demi Tuhan!" ucap Zidan lagi.
Nandita yang masih diselimuti amarah tentu saja tak semudah itu mengalah dan menerima permohonan Zidan. "Terus sekarang kamu mau menipu siapa Zidan? Kamu bilang kalian hanya teman. Memangnya ada ya pertemanan bisa menjadi hamil, kalau tidak melakukan apapun. Lepaskan aku Zidan, aku kecewa padamu," ucap Nandita sembari memaksa Zidan untuk melepaskan pelukannya.
"Dia bohong, Ta," sanggah Zidan.
Wanita ini hanya bisa menangis dalam diam. Nyatanya cinta yang ia rasakan sanggup menghadirkan kekecewaan. Mungkinkah ini adalah hadiah atas kebodohannya karena begitu mudah memaafkan pria yang seharusnya ia benci.
"Lepaskan aku Zidan. Aku nggak mau berhubungan dengamu lagi mulai sekarang. Kamu pria jahat Zidan. Aku membencimu!" teriak Nandita kesal.
"Oke, jika itu penilaianmu terhadapku. Beri aku waktu untuk membuktikan bahwa aku tidak seperti yang kamu pikirkan, Ta," tantang Zidan.
"Sudah ku bilang, bahwa aku membutuhkan bukti bukan janji Zidan. Sekarang lepaskan aku, aku mau pulang," ucap Nandita sembari menghapus kasar air matanya.
"Oke, aku akan melepaskanmu. Tapi janji, jangan pergi dari apartemen ini. Di luar masih belum aman untukmu, Ta. Ku mohon, " pinta Zidan pada wanita ayu ini.
Nandita menghela napas dalam-dalam. Ia tahu maksud Zidan. Tetapi ini adalah harga dirinya. Tentu saja ia tak ingin mempermudah Zidan. Tak ingin membuat pria ini berpikir bahwa dia adalah wanita yang mudah dibujuk. Wanita lemah dan tak bisa hidup tanpa perlindungannya.
Lalu Nandita pun menatap tajam ke arah pria yang sukses menampar hatinya. Menginjak harga dirinya. Dengan penuh ketegasan, Nandita pun memberikan jawaban yang tak kalah menampar hati pria tampan ini.
"Kamu tidak perlu sekhawatir itu Zidan, aku bisa menjaga diriku sendiri. Urus saja urusanmu. Aku bukan wanita cengeng yang hobi mengharap belas kasih dari seorang pria. Sekarang izinkan aku pulang!" Nandita menatap tajam ke arah Zidan.
"Jangan menyiksaku, Ta. Aku mohon!" Zidan masih belum mau melepaskan pelukannya.
"Aku tidak menyiksamu Zidan. Aku hanya ingin kamu menjadi lebih baik. Tetapkan tujuan hidupmu. Pertanggungjawaban kan perbuatanmu. Soal Raka kamu nggak perlu khawatir. Aku tetap mengizinkanmu bertemu Raka. Mau bagaimanapun dia juga membutuhkanmu. Tapi untuk aku pribadi, lebih baik kita masing-masing, Zidan. Aku lelah" Nandita menatap nanar pada mata Zidan. Sebab ia sendiri tak ingin terjadi.
Zidan tak bisa mencegah lagi. Karena apa yang dikatakan Nandita adalah benar. Zidan memang harus seperti itu. Harus bertanggungjawab jika benar bayi yang di kandung wanita itu adalah darah dagingnya. Ini memang pilihan yang sulit, tapi tak ada jalan lain selain menjalani pilihan ini. Namun, Zidan berjanji akan membuktikan pada Nandita bahwa ia sunguh-sungguh telah berubah.
Bersambung...
Terima kasih atas like komen n vote nya🥰🥰🥰