My Sunshine

My Sunshine
KALAH CEPAT



Ketika seseorang dibutakan oleh cinta, saat itulah dia bisa melakukan segalanya. Seperti yang dilakukan seorang wanita bernama Natalia. Wanita ini rela menghabiskan uangnya demi mencari tahu masa lalu Nandita. Mencari tahu dari mana rivalnya itu berasal. Wanita ini bertekat, jika dia tak bisa menyerang Nandita dan Zidan secara langsung, maka ia berjanji akan menggunakan kedua orang tua Nandita sebagai alat untuk memisahkan mereka.


Natalia tertawa puas. Sebab dia berhasil menemukan keluarga kandung Nandita, yang itu artinya tujuannya akan segera terwujud. Keinginannya akan segera menjadi kenyataan.


Dengan penuh percaya diri, Natalia pun mendatangi keluarga tersebut dan langsung meluruskan tujuannya.


"Apakah betul ini rumah Nandita?" tanya Natalia langsung pada sepasang suami istri yang menyambut kedatangannya.


"Ya, ini adalah rumah Nandita. Tapi dia sudah lama tidak tinggal di sini!" jawab wanita paruh baya itu. Yang tak lain adalah ibu kandung Nandita.


"Tentu saja dia nggak mau tinggal di sini. Rumah kumuh, kotor begini, mana mungkin dia mau." Natalia mencebikkan bibirnya.


"Apapun yang terjadi padanya kami sudah tidak peduli!" jawab Seorang pria yang tak lain adalah Rudi, ayah kandung Nandita.


"Heh, pantas saja putrinya jadi perebut suami orang. Rela jadi simpanan pria beristri. Orang tuanya saja seperti ini. Nggak becus mendidik putrinya!" ucap Natalia lagi, ketus. Membuat siapapun yang mendengar ucapan itu pasti merasa kesal, sangat sangat kesal. Bagaimana tidak? Kata-kata itu sungguh pedas didengar. Tak ayal, Pak Rudi pun naik pitam.


"Apa maksudmu bicara seperti itu tentang kami?" tantang Rudi.


"Apa maksudku bicara begitu? Tentu saja aku sedang kesal dengan keluarga bodoh anda. Bagaimana tidak? Kalian membiarkan putri kalian menjadi istri simpanan suami dan itu terjadi selama bertahun-tahun. Bahkan sekarang mereka memiliki seorang putra. Kalau kalian jadi saya, apa kalian bisa terima?" balas Natalia tak kalah sengit.


Pak Rudi dan sang istri pun saling menatap. Tidak menyangka bahwa tamu yang datang kali ini membawa kabar yang sangat buruk


Meskipun pada kenyataannya mereka sudah tidak mengakui Nandita sebagai anak mereka lagi. Tetap saja, mau tidak mau mereka tetap ikut menanggung malu. Sebab Nandita lahir dari keluarga tersebut.


"Jangan sok polos kalian! Aku yakin suamiku juga menghidupi kalian kan?" tambah Natalia mulai tak bisa mengontrol emosinya.


Pak Rudi dan juga ibu Rita hanya bisa menelan ludah. Bingung harus berkata apa.


"Kenapa kalian diam? Kalian tidak percaya apa yang aku katakan?" tantang Natalia berani.


Kali ini tak ada pilihan lain bagi Pak Rudi dan Ibu Rita selain menuruti apa yang Natalia sampaikan. "Sebenarnya begini, Bu!" ucap Pak Rudi pelan, bermaksud mengajak Natalia berdiskusi baik-baik.


Namun sayang, Natalia yang memang bermaksud membakar emosi mereka tentu saja tidak mau mengikuti keinginan mereka.


"Sebenarnya apa? Bener kan apa yang aku ucapkan. Kalian pura-pura bodoh. Pura-pura tak tahu apa-apa padahal kalian juga ikut menikmati hasil dari kerja putri kalian sebagai wanita simpanan simpanan orang. Iya kan? Benarkan begitu?" desak Natalia.


Terang saja, Ibu Rita langsung shock. Wanita ini langsung menangis tanpa bisa berucap apapun. Namun Pak Rudi tetap bersikap tenang dan lebih dewasa.


"Baiklah, Bu. Kami minta maaf jika itu yang terjadi. Namun, kami juga butuh bukti atas apa yang anda tuduhkan!" balas Pak Rudi.


"Apa ini?" tanya Pak Rudi.


"Itu adalah bukti kebusukan putrimu!" jawab Natalia ketus.


Pak Rudi menatap Natalia. Dengan tangan gemetar ia pun mengambil amplop tersebut. Pelan namun pasti, pria ini pun membuka amplop tersebut. Sedangkan Ibu Rita hanya memerhatikan apa yang suaminya kerjakan.


Di detik berikutnya, Pak Rudi dan juga sangat istri saling menatap. Tidak menyangka bahwa apa yang dikatakan wanita yang kini ada di depan mereka adalah benar.


Foto-foto yang ada di tangan mereka adalah foto putri mereka yang telah mereka usir sebelas tahun silam. Bu Rita menangis histeris. Tangisan itu seperti tangisan rindu, atau tangisan kecewa. Entahlah, yang ia rasakan saat ini hanyalah. Mengapa sang putri begitu rendah? Mau hidup bersama dengan pria yang bukan suaminya. Yang lebih menyakitkan adalah, pria tersebut adalah suami orang.


"Astaghfirullah, Pak. Apa yang harus kita lakukan?" ucap Bu Rita dalam tangisnya.


"Anak itu sungguh kurang ajar, Bu. Kita harus seret dia pulang!" ucap Pak Rudi penuh amarah.


Tentu saja, melihat apa yang ia kerjakan berhasil, Natalia pun tertawa dalam hati. Untuk lebih menyakinkan penilaian mereka pada Nandita, Natalia pun kembali bersandiwara.


"Saya baru tahu kenyataan ini beberapa bulan yang lalu, Pak, Bu!" ucap Natalia sembari menangis. "Memang, selama ini saya belum bisa memberikan suami saya keturunan. Tapi, apa itu salah saya. Tidak kan? Mengapa suami saya harus berselingkuh? Toh jika bersabar Tuhan pasti kasih kok, buktinya saat ini saya sedang hamil," tambah Natalia lagi, sambil menyerahkan bukti USG yang ia miliki.


Tentu saja ucapan Natalia kali ini sukses membakar emosi sepasang suami istri ini. Dengan penuh amarah Pak Rudi pun meremas foto Nandita dan Zidan yang sedang ia pegang.


"Jadi menurut kalian saya harus bagaimana? Saya sudah coba bicara baik-baik dengan suami saya. Tetapi mereka tidak peduli. Padahal saat ini saya sedang mengandung," ucap Natalia lagi.


"Jangan khawatir, Bu. Kami akan bantu menyelesaikan masalah ini. Putri kami memang salah, kami minta maaf," balas Pak Rudi. Sedangkan Ibu Rita masih tertegun, tidak percaya bahwa gadis sebaik Nandita bisa berbuat serendah ini.


"Sungguh, saya sangat mengharapkan bantuan, Bapak dan Ibu. Ini demi keutuhan rumah tangga saya dan beliau, Pak dan juga bayi kami tentunya. Saya tidak sanggup jika harus membesarkan bayi ini sendiri," ucap Natalia lagi, kali ini lembut dan memelas. Sebab ia memang berniat menarik empati kedua orang tua Nandita.


"Bersabarlah, Bu. Jika anak kami bersalah, kami janji, pasti akan membawanya pulang!" balas Pak Rudi lagi.


"Terima kasih, Pak, Bu. Atas pengertiannya! Maaf jika tadi kata-kata saya agak kasar. Itu karena saya sakit hati, Pak." Natalia pura-pura menghapus air matanya.


"Tidak apa-apa, Bu. Kami mengerti!" balas Pak Rudi.


Perbincangan mereka pun berakhir. Natalia pun berpamitan. Namun, sebelum itu, tak lupa Natalia pun memberika alamat di mana Zidan dan Nandita tinggal. Agar pak Rudi dan bu Rita bisa membuktikan ucapannya.


Bersambung...


Kira-kira gimana ya ekpresi Nandita ketemu kedua orang tuanya? 🤔🤔🤔