My Sunshine

My Sunshine
SEDIKIT MENGERTI



Nandita masih terlihat ragu untuk menghubungi Dion. Beberapa kali ia hanya mengaktifkan ponsel tersebut. Tanpa mencari nomer kontak pria yang menjadi tujuannya.


Wajar jika Nandita ragu. Secara dia tidak mengenal baik seorang Dion. Apalagi calon mertuanya. Tentu saja, Nandita harus tetap menyiapkan mental untuk memulai sebuah perbincangan. Apalagi masalah yang akan mereka bahas, bukanlah masalah biasa. Masalah yang hendak mereka bahas cukup berat. Sebab menyakut perihal hati, perihal perasaan. Bukankah ini jauh lebih berat dari pada masalah utang piutang.


Beberapa menit telah berlalu, namun Nandita belum memutuskan kalimat apa yang hendak ia sampaikan pada Dion. Wanita ini merasa bahwa semua kata yang hendak ia sampaikan seperti menumpuk di otak. Tanpa bisa ia susun. Semua berantakan seperti sebuah puzzle.


"Ah .... Kenapa aku jadi seperti ini?" gerutu Nandita. Bertanya pada dirinya sendiri.


Untuk menenangkan kegugupannya Nandita pun beranjak dari sofa tempat ia duduk. Lalu berjalan menuju jendela kamar itu. Melihat keluar. Pandangannya menatap lepas. Sekilas Nandita mengagumi apa yang ditangkap oleh netranya.


Gedung-gedung yang tinggi. Mereka berdiri berdekatan. Seperti bercengkrama satu sama lain. Seketika hati Nandita bergejolak. Kenapa dia tidak bersikap seperti gedung-gedung itu. Tenang menghadapi angin. Tetap tegak mesti hujan menyerang. Nandita juga mengagumi gedung-gedung yang terlihat kokoh itu. Nandita ingin seperti itu. Tetap tegak menghadapi masalah yang kini membelitnya.


"Aku pasti bisa!" ucap Nandita menyemangati dirinya sendiri. Kemudian, tanpa banyak berpikir, wanita ayu ini pun mengambil ponsel Raka dan mulai mencari nomer kontak Dion.


Jantungnya memang berdebar, gelisah. Namun ia menyakinkan dirinya sendiri, dia pasti bisa. Ini demi Zidan. Demi Raka. Demi orang-orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Gagal tidak masalah, yang penting dia berusaha. Namun, tak menutup kemungkinan bahwa dia juga berharap ini akan berhasil.


Di menit berikutnya, ponsel yang ada di genggamannya berbunyi. Sebuah nama tertulis di sana. Dion, iya itu adalah nama yang tertera di layar handphone tersebut. Nandita pun menghela napas dalam-dalam. Mempersiapkan diri untuk mengeluarkan kata sebagai wakil dari maksud hatinya.


"Assalamu'alaikum!" sambut Nandita.


"Waalaikumsalam," balas Dion.


"Emmm, ini Dion kah?" tanya Nandita basa basi.


"Iya, Mbak ini Dion. Ini Mbak Dita kan?" balas Dion.


"Iya, ini aku Nandita. Em, Dion tahu kan hubunganku dengan bang Zidan?" Terdengar suara seseorang membuka pintu dan ternyata itu adalah Raka. Hendak mengambil tablet miliknya.


"Bunda ngobrol ama siapa?" tanya Raka lirih.


"Sama omnya Raka," jawab Nandita jujur.


"Oh, oke. Raka nemenin ayah makan dulu ya!" izin bocah tampan ini. Sedangkan Nandita hanya tersenyum mengiyakan.


"Siapa Mbak?" tanya Dion.


"Oh, itu tadi Raka, lagi ngambil tabnya. Oiya Dion, kita sampai mana tadi?" tanya Nandita, suaranya gemetar, mungkin dia gugup.


"Nggak usah gugup gitu, Mbak. Kan kita jauhan," ucap Dion. Pria ini sangat tahu bagaimana Nandita.


"Iya, eh maaf." Nandita tertawa lirih. Sedangkan di seberang sana, Dion tersenyum paham.


"Mbak Dita mau tanya apa?" Dion langsung to the poin masalah mereka.


"Apakah Dion kenal dengan orang tua bang Zidan?" tanya Nandita.


"Maaf, Dion jika mbak ikut campur masalah ini. Tetapi, jujur dalam masalah ini mau nggak mau Mbak dan juga Raka kan terlibat. Mbak nggak mau keterlibatan kami malah menimbulkan masalah baru antara bang Zidan dan orang tuanya," jawab Nandita jujur.


Dion tersenyum, sebab ia tahu bahwa Nandita sangat mencintai Zidan. Terbukti dari kekhawatiran wanita itu. Yang tak menginginkan Zidan mendapatkan masalah karenanya.


"Nggak Mbak, soal itu Mbak tenang aja. Papa udah tahu kok! Bahkan setiap hari beliau selalu menanyakan Raka. Menanyakan kabar kalian," jawab Dion. Sungguh, jawaban yang sama sekali tidak Nandita sangka. Wanita ini berpikir jika orang tua Zidan akan melihat sebelah mata padanya, maupun pada Raka. Bukan hanya itu, jawaban yang ia dengar barusan tentu saja membuat Nandita yakin jika Dion pasti ada hubungan keluarga dengan Zidan. Hanya saja, Zidan belum tahu kebenarannya.


"Dari mana kamu tahu kalau papanya bang Zidan sudah tahu tentang kami. Bahkan selalu menanyakan kabar kami? Kamu kenal beliau? " cecar Nandita curiga.


Seketika Dion menyadari bahwa dia keceplosan. "Nggak Mbak, itu... anu ... eemmm!" sangkal Dion.


Sayangnya, Nandita yang terlanjur curiga tak mau menyerah begitu saja. Wanita ini pun kembali mendesak Dion agar jujur, bicara apa adanya kepadanya.


"Aku mohon Dion, jika kamu terus menutupi kenyataan ini. Masalah ini nggak akan selesai. Lebih baik bicaralah sesuai kenyataan yang kamu ketahui. Kasihan juga Zidan," pinta Nandita memohon.


Sejenak Nandita dan Dion diam. Mungkin Dion masih berpikir, berusaha menimbang keputusan yang benar. Dion sendiri pun tak ingin gegabah. Ia pun takut jika ia terbuka sekarang, takutnya papa angkatnya tidak menyukai ini. Meskipun cepat atau lambat semuanya pasti akan terbuka.


"Aku akan jujur, tapi Mbak janji ya, jangan kasih tahu abang tentang apa yang aku sampaikan pada Mbak hari ini!" pinta Dion serius.


"Iya, Dion. Percayalah! Aku sendiri juga takut sama bang Zidan. Mau bagaimanapun... kamu tahu dia kan?" balas Nandita.


Setelah perbincangan panjang itu akhirnya mereka pun sepakat untuk saling terbuka satu sama lain. Tentang apa yang Nandita tahu dan tentang apa yang Dion tahu.


Diawali dengan Dion, yang menceritakan tentang siapa dirinya dan bagaimana dia mengenal Galih, sang ayah angkat. Lalu keinginan Dion untuk balas budi lah yang mengantarkan pria tampan ini bekerja sebagai asisten pribadi Zidan. Padahal Galih juga sudah menyiapkan usaha sendiri untuknya. Dion malah memilih bekerja pada perusahaan lain.


Awalnya Galih tidak tahu bahwa anak angkatnya ini bekerja pada sang putra. Lambat laun setelah kondisi dirasa cukup aman, akhinya Dion pun menceritakan yang sebenarnya. Tujuan sekaligus niatnya untuk menyatukan Galih dan Ziean kembali. Sayangnya, sampai saat ini Galih sendiri yang terus menghindar. Ia hanya tak ingin semakin menambah luka di hati sang putra.


"Jadi selama ini om Galih juga mengawasi bang Zidan?" tanya Nandita.


"Iya, Mbak. Papa tak pernah melepaskan tanggung jawabnya untuk abang. Andai dulu mama Ratna tidak salah paham terhadap papa, mungkin keluarga mereka akan tetap utuh," jawab Dion jujur.


"Lalu, kok Zidan nggak pernah bicara soal kamu?" tanya Nandita bingung.


"Iya, aku kan hanya anak angkat papa, Mbak. Kami bertemu setelah papa dan mama berpisah. Jadi abang nggak kenal siapa aku!" jawab Dion jujur.


"Baiklah, aku mengerti! Lalu apakah kamu tahu pasal pria yang menghancurkan masa depan adiknya abang?" tanya Nandita lagi.


"Tahu, Mbak. Dia juga yang membakar pabrik, abang," jawab Dion.


Nandita diam sesaat. Berusaha mencerna setiap kata yang disampaikan oleh Dion. Jujur masih banyak yang ingin Nandita ketahui pasal apa yang menimpa Zidan selama ini. Mengapa pria itu begitu dendam kepada Zidan? Apa yang sebenarnya ia inginkan dari kekasihnya ini?


Bersambung....


Makasih masih setia dengan karya saya😍