
Tak menunggu waktu lagi, Zidan pun kembali melajukan kendaraannya, menuju kediaman keluarga kandung Nandita. Dengan harapan kedua orang tua Nandita membawa wanita itu pulang ke rumah. Meskipun harapan itu sangat tipis. Sebab wanita yang merencanakan ini sangat licik dan licin. Bisa jadi dia menyediakan tempat khusus untuk menyembunyikan Nandita dari dirinya.
***
Di sisi lain, ada Kartika yang kini sedang mondar-mandir menunggu kedatangan Nandita. Beberapa kali wanita paruh baya ini terlihat gelisah. Sebab, jadwal keberangkatannya semakin dekat. Ia harus segera terbang ke Jakarta untuk menghadiri salah satu event bergengsi di sana.
Beberapa kali wanita ini menghubungi putrinya itu. Namun sayang, tidak diangkat.
"Ke mana anak itu!" gerutu Kartika kesal.
Kembali wanita ini mencoba menghubungi Nandita. Namun hasilnya sama. Masih tidak diangkat. Masih tidak dijawab.
Akhirnya Kartika pun menghubungi ponsel Raka. Tak butuh waktu lama, Raka pun segera menyambut pangilan itu.
"Assalamu'alaikum, Uti!" sambut Raka di seberang sana.
"Waalaikum Salam! Di mana bundamu, Raka. Kenapa ndak datang-datang. Uti telat ni?" balas Kartika sedikit ketus. Mungkin dia kesal.
Di seberang sana, Raka terlihat menatap sang ayah. Lalu ia pun memberitahu orang tuanya, bahwa yang menghubunginya adalah Kartika. Utinya. Sedang mencari Nandita.
"Biarkan sini Ayah yang ngomong!" pinta Zidan. Tanpa banyak bertanya, Raka pun memberikan ponselnya pada sang ayah.
"Iya, Bu. Ini Zidan!" ucap Zidan basa-basi. Padahal jika boleh jujur, detak jantungnya sulit ia kendalikan. Sebab inilah saat menengangkan baginya.
"Di mana Dita, kenapa nggak pulang-pulang? Kamu kasih apa putriku sampai betah banget di rumahmu!" ucap Kartika langsung mengeluarkan emosinya. Tanpa peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Maafkan Zidan, Bu. Sebenarnya!" Zidan terlihat menelan salivanya. Beberapa kali pria ini juga mengusap keringat yang mulai keluar dari keningnya.
"Sebenarnya apa Zidan? Kamu apain putriku?" tanya Kartika sedikit membentak. Sampai Zidan terpaksa menjauhkan ponselnya dari telinga. Sedangkan Raka malah tersenyum. Sebab dia sangat hafal bagaimana Kartika. Jangankan masalah seberat ini, dia tak sengaja menginjak tanamannya di belakang rumah saja, suara Kartika bisa terdengar dari ujung ke ujung.
Zidan hanya melirik lucu pada Raka, yang kini sedang tertawa geli di sampingnya.
"Sebenarnya apa, Zidan!" Kartika kembali mengulang pertanyaannya. Nada suaranya meninggi, terdengar mulai tak bisa menahan sabar.
"Sebenarnya Nandita dijemput sama orang tuanya, Bu!" jawab Zidan jujur.
Tentu saja jawaban Zidan sukses membuat wanita ini sport jantung. "Apa? Memangnya ada masalah apa?" tanya Kartika bingung.
"Ceritanya panjang, Bu. Yang jelas saat ini Nandita dalam bahaya!" tambah Zidan lagi.
Terang saja, jawaban Zidan kali ini sukses membakar emosi Kartika. Wanita ini tahu betul bagaimana perangai orang tua kandung wanita itu. Kartika jadi ingat bagaimana perlakuan mereka ketika ia mengantarkan Nandita pulang. Bukan hanya itu, Kartika juga ingat betul bagaimana mereka menyeret Nandita, mengucapkan sumpah serapah nya. Lalu, setelah puas mereka mengusirnya.
Mendengar ucapan sekaligus kenangan yang kembali terlintas membuat Kartika lemas. Ia takut jika gadis yang ia jaga selama ini kembali trauma. Ia takut jika Nandita kembali menjadi gadis sebelas tahun silam.
Tanpa berpikir panjang, Kartika pun meminta Zidan menjemputnya. Kartika ingin ikut menjemput Nandita. Sebab bagi Kartika, sejak saat itu Nandita adalah putrinya. Nandita adalah miliknya. Nandita adalah haknya. Mereka sudah membuang gadis itu. Dia yang memungutnya kala itu. Dia yang memberinya makan. Bahkan Kartika rela menghabiskan uangnya untuk membawa Nandita ke psikiater. Hingga gadis itu sekarang bisa tersenyum kembali dan berani menatap masa depannya kembali.
"Zidan, sekarang putar balik. Ibu mau ikut. Berani sekali mereka menyentuh putriku!" ucap Kartika memberikan perintahnya.
"Baik, Bu. Zidan segera ke sana!" jawab Zidan menyanggupi. Sedetik kemudian mereka pun memutus panggilan telepon tersebut. Dan Zidan langsung balik arah untuk menjemput ibu Ratu, sang penguasa.
Namun begitu, nasib Zidan belum bisa dikatakan aman. Sebab di titik ini dia juga bersalah. Karena ada wanita lain yang masuk ke dalam hubunganya dengan Nandita yaitu Natalia.
***
Ternyata benar apa yang Raka curigai. Nandita tidak dibawa pulang ke rumah oleh kedua orang tuanya. Melainkan di bawa ke rumah saudara mereka yang berada di luar Jawa.
Seperti yang mereka takutkan bahwa Zidan pasti akan datang ke kampung. Kampung di mana mereka tinggal.
"Dita mau dibawa ke mana, Bu?" tanya Dita pada Rita, sang ibu yang telah melahirkannya.
"Kita mau ke rumah paklekmu. Biar lelakimu itu nggak bisa nemuin Kamu. Kamu ini bikin malu kami saja," jawab Rita kesal.
"Bikin malu gimana toh, Bu! Dita kan nggak ngapa-ngapain!" jawab Nandita, berusaha membela diri.
"Kumpul kebo kok nggak ngapa-ngapain!" balas Rita, kembali wanita ini mengeluarkan kekesalannya.
"Dita sama mas Zidan kami nggak serumah Ibu. Selama ini Dita tinggal di rumah ibu Kartika. Ibu angkat Dita. Yang hari itu nganterin Dita pulang. Dita di apartemen mas ...." belum sempat Nandita menyelesaikan ucapannya, Rudi langsung menyaut.
"Dasar anak nggak tahu diri, sudah bikin malu, pintar pula berbohong," saut Rudi dengan tatapan penuh kebencian pada Nandita.
"Astaghfirullah, Bapak. Dita serius, demi Tuhan!" jawab Nandita tak kalah kesal. Mata wanita ayu ini kembali mengeluarkan air matanya.
"Katakan sama Bapak sudah berapa lama kamu seatap sama pria itu?" desak Rita.
Nandita diam, malas saja menjawab. Toh mereka juga nggak akan percaya. Percuma kasih penerangan sama orang yang buta. Percuma kasih penjelasan kalau pada akhirnya tidak dipercaya juga.
"Kenapa diam Dita! Kamu ngelawan sekarang?" tanya Rita mulai tak sabar menghadapi Nandita yang hanya menangis sembari membuang pandangannya. Bukan hanya itu, mereka juga kesal karena seperti tidak dianggap ada oleh putri semata wayang mereka.
"Biarkan saja, Bu. Kalau dia masih seperti ini. Kita nggak usah kasih makan. Kurang saja dia," tambah pria paruh baya ini.
Nandita kembali tak peduli. Meskipun saat ini mereka membunuhnya, Nandita tetap tak peduli. Toh percuma hidup jika memiliki orang tua yang tak menginginkannya. Hanya bisa menghakimi tanpa mau mendengar penjelasannya. Tanpa mau mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi selama ini.
Sesak, iya, seperti itulah rasa yang kini Nandita rasakan. Bukan bermaksud membandingkan. Kartika bukanlah ibu kandungnya. Namun beliau begitu paham dan mengerti bagaimana dirinya. Bagaimana keinginannya. Bagaimana menghadapinya. Sedangkan ibu kandungnya, yang melahirkanya, yang merawatnya sedari kecil malah tidak pernah mengerti dirinya. Tidak memahaminya. Nandita bingung, bagaimana menjelaskan ini pada dunia.
Mungkinkah dia akan dianggap durhaka jika melawan mereka?
Bersambung....
Jangan lupa like komen n Votenya ya...
Yang belum kenal sama babang Juan bisa cus ke PENJARA CINTA UNTUK STELLA... dijamin makin kesal n gemes dibuatnya🥰🥰🥰