
Seminggu kemudian...
Berkat kerja keras Vano, kecerdasan Raka yang didukung oleh kecerdikan Dion, akhirnya mereka pun berhasil menemukan markas orang-orang yang saat ini sedang menyulut api di dalam keluarga.
"Siapkan beberapa pasukan, mari kita akhiri sampai di sini!" ucap Zidan memerintahkan.
"Bolehkan, Raka, ikut, Yah!" pinta Raka.
"Tidak, Putraku! Jika terjadi apa-apa sama kamu, lalu bagaimana ayah menjelaskan ini pada bundamu?" tolak Zidan.
"Raka janji, Raka akan hati-hatinya. Karena Raka yakin, Ayah dan om Dion pasti membutuhkan Raka!" pinta Raka.
"Nggak apa-apa, Bang! Dion janji bakalan jagain Raka. Jujur, Dion butuh ketajaman telinga putra abang," ucap Dion, sedikit berbisik.
"Oke! Kita jalan! Raka, ingat... jangan gegabah. Ayah nggak mau kamu kenapa-napa. Ingat, bundamu bisa menghajar ayah kalo sampai terjadi sesuatu denganmu. Mengerti!" ucap Zidan memperingatkan.
"Siap, Yah!" jawab Raka, semangat.
Saling percaya. Saling melindungi. Saling mendukung. Begitulah tim yang dipimpin langsung oleh seorang Zidan.
Tekatnya untuk meraih menghancurkan kebatilan, tak diragukan lagi. Zidan kembali mengotak-atik ponselnya. Data dan juga arahan yang diberikan Vano padanya tidak ada satupun yang ia abaikan. Semua ia telusuri satu persatu.
"Bagaimana tim Vano. Apakah mereka sudah sampai sana?" tanya Zidan.
"Sudah, Bang! Itu sebabnya mereka bisa memberi kita petunjuk. Di sana Vano juga bilang, mereka tidak bekerja sendiri. Beberapa petinggi perusahaan juga ada. Berarti, kemungkinan besar, kecurigaan Raka benar," jawab Dion.
"Pemimpinnya yang memakai jas warna biru itu kan Om?" tanya Raka.
"Yes, kamu bener, Raka. Kecurigaanmu benar. Dialah orang yang bermain di perusahaan. Itu adalah utusan orang yang telah membunuh opamu," jawab Dion. Sesuai dengan kabar yang Dion terima dari orang-orang yang ia percaya.
***
Di lain pihak, Vano tak tahan menunggu kedatangan Dion dan timnya. Di takut, jika tidak segera bergerak, maka komplotan ini akan semakin senang membuat rencana. Dan pada akhirnya merekalah yang kalah.
Vano dan orang-orang yang kini membantunya, langsung menyerbu markas mereka. Karena ia sudah yakin, dengan pasukan yang ia bawa saat ini, pasti ia bisa meringkus mereka.
"Siapa kalian?" teriak salah satu seseorang yang berperan penting di sana.
"Siapapun kami, bukankah itu tidak penting? Sebaiknya kalian menyerahkan diri, atau semua akan berakhir di sini!" ancam Vano, memberi peringatan.
Sayangnya, apa yang diucapkan oleh seorang Vano, mereka megangapnya hanyalah gertakan berlaka. Mereka memilih melawa dibanding menyerahkan diri begitu saja.
Pertengkaran pun tak terelakan. Adu jodoh, adu senjata tajam bahkan sampai aksi kejar-kejaran pun terlihat di sana.
"Brengsek!" umpat Vano ketika melihat salah satu targetnya melarikan diri.
Vano tak putus asa. Ia pun segera mengejar pria jahanam yang di sinyalir sebagai biang kerok dari masalah ini.
Beberapa menit berlalu, pengejaran yang di lakukan Vano berhenti. Karena ia kehilangan jejak.
Namun, pria tampan yang bekerja sebagai salah satu staf badan intelijen negara ini tidak putus asa.
Ia pun segera menghubungi Dion dan membagikan foto tersebut serta informasi yang ia punya. Siapa tahu, dalam perjalanan Dion dan timnya ke tempat ini, boleh jadi bisa berpas-pasan dengan pria bajingan itu.
"Oke, kita sambil cari," ucap Dion.
"Baik, beberapa orang sudah bisa dilumpuhkan. Tapi ada satu kabar buruk, Yon!" ucap Vano.
"Apa itu?" tanya Dion.
"Salah satu petinggi perusahaan tewas. Sengaja bunuh diri. Dia takut masuk penjara. Dia memilih mengakhiri hidupnya," ucap Vano.
"Brengsek, dia memilih membawa bukti mati bersamanya. Oke makasih Van, kamu hati-hati," pinta Dion. Kemudian mereka pun mengakhiri panggilan tersebut.
Dion geram, karena pertempuran ini menurutnya kurang asik. Sebab Vano meninggalkannya. Dion ingin melihat langsung wajah-wajah bajingan yang berani memperalat ayah angkatnya. Dion ingin melumpuhkan mereka sendiri dengan kedua tanganya. Dion ingin memotong yang orang yang telah berani menghabisi pria yang telah membesarkannya.
"Bagaimana kondisi di sana?" tanya Zidan.
"Sudah kondusif, tapi satu di antara mereka berhasil melarikan diri," jawab Dion.
"Siapa?" tanya Zidan.
"Dia!" jawab Dion tegas.
Kali ini bukan hanya Dion yang mengumpat kesal. Zidan pun sama. Pria ini pun terlihat geram. Rahangnya ngerasa. Jiwa pembunuhnya meronta. Rasanya tangannya gatal ingin mematahkan tulang orang yang telah berani menghabisi orang tuanya.
Lima belas menit setelah mendapatkan telpon dari Vano, terdengar suara tembakan dari atas bukit.
Semenit kemudian, mereka dikejutian dengan seongok jahat yang menggelinding dari atas bukit.
Terang saja, Sopir yang mengendarai mobil yang ditumpangi Zidan dan gengnya mengerem mendadak. Beruntung, seseorang itu tidak tertindas oleh mobil mereka.
"Brengsek! Siapa itu? Mungkinkah?" u apa Dion.
Tak sengaja, mata Raka menangkap bayangan seseorang yang mengarahkan senapannta ke arah mereka. Dengan cepat Raka pun mengingatkan sopir tersebut.
"Om, awas... !" teriak Raka.
Beruntung sopir tersebut tanggao. Ia pun langsung menginjak pedal gasnya untuk meninggalkan tempat menyeramkan ini.
Bersambung...