My Sunshine

My Sunshine
Tak Mau Dipisahkan



Kehebatan Raka nyatanya diacungi jempol oleh ketiga teman Dion. Bagaimana tidak? Bocah ini begitu cerdik dan lincah dalam pergerakkan. Nyatanya, saat ini dia berhasil membawa ibunda sekaligus neneknya keluar dari tempat persembunyian itu dengan selamat. Meskipun banyak sekali drama yang harus mereka hadapi.


Raka masih bersikap super tenang. Dion jadi ingat pada Zidan. Pria super santai tanpa ekpresi. Ya, Raka seperti itu. Seperti ayahnya. Dingin namum peduli. Pendiam namun cerdas. Dan masih banyak lagi sikap-sikap Raka yang membuat Dion terpana.


Sayangnya ketenangan yang tunjukkan Raka, tidak serta merta membuat Nandita dan juga Kartika ikutan tenang. Mereka tampak begitu gelisah. Terlebih ketika mereka mendengar kabar dan juga kondisi Zidan dan Rudi saat ini. Yang masih belum sadarkan diri.


Dua pria yang sangat Nandita khawatirkan. Ternyata mereka sedang berjuang melawan maut.


"Dion! Katakan dengan jujur, bagaimana kondisi bapakku dan juga ayah Raka. Kamu jangan bohong. Aku tahu kamu bohong!" desak Nandita sembari memukul kasar lengan adik iparnya.


"Tidak, Mbak. Aku mana mungkin berani berbohong. Tanya saja sama Raka. Raka kan nggak pernah berbohong!" jawab Dion jujur.


"Nggak pernah bohong apa! Sejak dia berkawan denganmu, putraku jadi tukang kabur sekarang. Bikin khawatir bundanya terus. Andai saat ini tidak dalam situasi seperti ini, pasti sudah aku hukum anak ini," gerutu Nandita kesal.


Ditatapnya putra semata wayangnya. Namun, sekali lagi, Nandita tak bisa marah. Sebab ia tahu, apa yang dilakukan sang putra adalah untuk menyelamatkan kedua orang tuanya.


"Maafkan Raka, ya Bun. Sementara ini Raka sedikit memberontak. Soalnya ayah sedang membutuhkan bantuan Raka. Raka harap bunda memaafkan dan memaklumi sikap Raka!" ucap Raka meminta maaf. Tulus, dan berharap sang ibunda memahami posisinya.


"Ya, lain kali bilang. Jangan kabur lagi ya. Kamu tahu kan, Bunda khawatir," ucap Nandita serius.


"Siap, Bun!" jawab bocah tampan ini singkat. Tak ada perbincangan lagi. Raka terlihat serius mengutak-atik ponsel miliknya. Lalu ia teringat sesuatu,


"Om, sepertinya setelah ini, kita bakalan diserang!" ucap Raka memberi tahu.


"Dari mana Raka dapat wacana seperti itu." Tentu saja, Dion penasaran.


"Mereka pasti penasaran dengan anak buah mereka yang kita celakai. Kalo bisa minta pihak rumah sakit untuk memberi pengamanan lebih pada ayah. Lalu, biar Bunda sama Uti kita pulangin mereka ke kampung," ucap Raka menyarankan.


"Bunda nggak mau, Bunda mau nemenin ayahmu. Bunda nggak mau ninggalin dia!" sela Nandita merajuk. Sungguh, kali ini Nandita tak mau di atur. Ia ingin tetap bersama pria itu. Nandita tak ingin jauh dari pria yang sangat ia cintai. Cukup baginya berpisah dengan Zidan. Entahlah, Nandita kenapa bisa segila ini. Tapi itulah kenyataannya. Nandita tak mau dipisahkan lagi dari Zidan.


"Nggak, pokoknya kalo Bunda jawab nggak ya enggak. Bunda mau sama ayahmu, titik!" jawab Nandita kekeh.


Raka tidak membalas ucapan sang bunda. Bocah tampan ini tak ingin memaksa. Dia tahu bagaimana sang bunda sayang pada ayahnya. Baiklah, Raka mengalah. Ia pun mengajak Dion berdiskusi. Bagaimana cara mencarikan tempat yang aman untuk kedua orang tuanya. Tentu saja Raka tak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan kedua orang tuanya tersebut.


"Gimana Om?" tanya Raka pelan.


"Ya udahlah, kita jangan melawan seseorang yang diselimuti cinta. Bahaya! Udah biarin aja mereka bareng. Nanti Om sama teman Om coba cari tempat yang aman untuk mereka!" jawab Dion.


Raka tak mau berdebat. Kali ini dia percaya pada Dion dan teman-temannya. Meskipun sebenarnya dia ragu. Tapi sudahlah, tidak ada salahnya mencoba. Toh mempertemukan sang ayah dengan sang ibu juga membangkitkan harapan mereka untuk kesembuhan Zidan. Raka berharap, bertemunya mereka akan membangkitkan semangat sang ayah untuk bangun.


***


Mengetahui Raka akan datang ke kantor besok, membuat para musuh-musuh Zidan bersiap. Bersiap untuk mencelakai anak tersebut.


Malam ini, mereka terpaksa menggelar rapat dadakan. Mencoba mencari cara agar kebusukan mereka tidak terbongkar. Mencari cara agar Raka tidak membaca pergerakan mereka.


"Bocah sialan ini sangat cerdas, mungkin dia akan dengan cepat menangkap kita. Sebelum rapat dimulai kitak harus tahu kelemahan bocah sialan itu," ucap pria berdasi biru itu. Yang tak lain adalah anak buah Ronal yang paling setia.


Dia adalah salah satu pekerja yang bekerja pada Zidan cukup a di llama. Namun, kebusukannya belum tercium sampai saat ini. Bahkan seorang Dion pun sama sekali tidak mencurigainya.


"Baik, Bos! Tapi info yang kami dapat, bocah ini memiliki pendengaran yang sangat tajam. Kita harus super hati, Bos. Bocah ini lebih mirip cenayang," jawab salah satu dari mereka.


Terlihat pri berdasi biru itu mengeratkan giginya. Sepertinya dia geram dan ingin segera ******* Raka habis-habisan. Sangking kesalnya, dia sendiri yang ingin turun tangan mencincang Raka.


Bersambung....