
Rudi dan Rita sepakat untuk menyembunyikan Nandita dari Zidan. Begitupun dari wanita yang selama ini menjaga Nandita. Entah mengapa timbul rasa iri di hati kedua pasutri tersebut. Sebab Nandita lebih patuh pada wanita itu dibanding dengan mereka.
"Sampai kapan kamu mau diam Nandita! Heran Ibu sama kamu, laki-laki itu sudah beristri Nandita. Otak kamu di mana? Astaga!" ucap Rita kesal.
Nandita diam bukan melamun. Sebenarnya wanita ayu ini merencanakan sesuatu untuk kabur. Untuk kabur dari orang tua yang tak mau mengerti akan dirinya.
"Sudahlah, Bu. Biarkan saja dia. Dia sudah dewasa, harusnya dia mikir bahwa pria yang ia sukai itu sudah beristri," tambah Rudi. Kembali pria paruh baya ini menatap sang putri dengan tatapan tak suka.
"Ayah selalu bilang mas Zidan punya istri. Memangnya siapa istri mas Zidan?" tanya Nandita kesal.
"Tu lihat anakmu, Bu. Giliran Bapak nyinggung laki-laki brengsek itu dia langsung ngegas. Kita memang nggak salah ngusir dia dulu, Bu!" serang Rudi tanpa berpikir panjang.
"Bapak sama Ibu ini memang aneh. Nuduh orang tapi nggak punya bukti," gerutu Nandita. Merasa tertantang, Rita pun akhirnya mengambil tasnya dan mengeluarkan amplop warna coklat yang Natalia berikan padanya. Di dalam amplop tersebut, selain ada beberapa foto dirinya dan Zein. Ada juga beberapa foto-foto kemesraan Natalia dan Zein.
"Nih, kamu lihat. Mereka sudah menikah Dita. Kamu ini kenapa sih?" ucap Rita sambil menyerahkan foto pernikahan Natalia dan Zidan. Bukan hanya itu, Rita juga menyerahkan foto kopi surat nikah kedua orang tersebut.
Melihat bukti- bukti yang diberikan oleh kedua orang tuanya, Nandita pun goyah. Antara percaya dan tidak. Tapi bukti yang ada di tangannya itu, nyata adanya. Foto pernikahan antara Zidan dan Natalia. Yang ia pegang bukan hanya itu, tetapi juga ada buku nikah. Meskipun itu hanya foto kopi.
"Ya Tuhan!" ucap Nandita spontan.
"Percaya sekarang kamu, kalau pria yang kamu agung-agungkan itu ternyata penipu kan ha? Dia itu suami orang Nandita. Ngerti nggak sih kamu?" cecar Rita kesal. Kali ini wanita ini tak mau menghentikan omelannya. Ia terus saja mengungkapkan semua rasa kecewnaya terhadap Nandita. Bukan hanya itu, wanita ini juga mengatakan bahwa sampai kapanpun dia tak akan menyetujui hubungannya dengan Zidan.
Nandita diam. Menatap nanar foto dan juga selembar foto kopi surat nikah itu. Hatinya serasa terkoyak. Perih bukan main. Nyeri luar biasa. Andai saat ini dia bisa berteriak pasti Nandita tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Sekarang kamu percaya kan apa kata Ibu?" tanya Rita, tentu saja dengan muka meledek. Sebab ia merasa menang.
"Dia itu bodoh, Bu. Sudah termakan cinta. Makanya jadi idiot begitu. Nggak bisa menilai mana baik dan mana yang buruk!" tambah Rudi. Sungguh itu adalah ucapan yang tak pantas dikeluarkan oleh seorang bapak kepada anaknya.
Sebagai orang tua yang benar. Harusnya Rudi dan Rita berempati pada putri semata wayang mereka. Bukan malah menertawakan ketika anaknya masuk ke dalam jurang kesengsaraan.
"Makanya aku malah dengan anak nggak tahu diuntung ini, Bu. Hah sudahlah kita tinggalkan saja dia. Biarkan dimikir, biarkan dia merenung. Bahwa apa yang dia lakukan itu dilaknat oleh bumi dan seisinya. Sudah berzina, nggak mau ngaku lagi!" ucap Rudi lagi, pria paruh baya ini terlihat memunguti isi amplop yang berserakan. Memasukan kembali lembaran-lembaran foto itu ke dalam tas sang istri.
Berarti aku adalah perebut suami orang. Jadi benar apa yang dikatakan wanita itu, batin Nandita. Kali ini wanita ayu ini merasa begitu bodoh. Sangat-sangat bodoh. Mengapa ia begitu mudah percaya pada Zidan. Yang jelas-jelas dia adalah penjahat.
Dasar penipu! Dasar pria jahat! batin Nandita lagi. Wanita ini bersumpah akan menghancurkan Zidan. Akan memisahkan Raka darinya. Apapun yang terjadi, Nandita tak akan tinggal diam. Nandita marah. Wanita ini gelap mata. Sebab telah terbakar hasutan kedua orang tuanya.
"Sudah makan, biar nggak bodoh!" suruh Rita.
Nandita diam, wanita ayu ini enggan menjawab.
"Sudahlah, Bu. Ngapain kita capek-capek ngurus anak yang nggak tahu diri ini. Sudah ayo keluar! Dia memang nggak pantas dianggap anak! Udah biarkan saja! " tambah Rudi tanpa berpikir bahwa ucapannya sangat menyakiti sang putri. Dan dia juga tidak berpikir bahwa bisa saja ucapannya itu membekas di hati Nandita sampai kapanpun.
Kalau Bapak udah nggak nganggep Dita anak, kenapa Bapak masih nyariin Dita. Harusnya biarin saja Dita pergi, Pak, ucap batin Nandita. Nandita memilih membuang pandangannya keluar jendela. Sekali lagi, prinsip wanita ini tetap sama. Percuma bicara pada mereka yang tuli. Percuma kasih mereka penerangan, untuk apa? mata hati mereka kan buta.
Kalian menuduh Zidan seperti itu. Padahal kalian sendiri juga sama. Sama-sama jahat padaku, ucap batin Nandita lagi. Wanita ini kembali menangis dalam diam. Mengekspresikan kebenciannya pada orang-orang yang hanya mementingkan ego mereka sendiri. Tanpa mau mendengarkan apa yang sebenarnya ia inginkan. Tanpa mau peduli dengan apa yang ia rasakan.
"Sudahlah, Pak. Lama-lama geram juga Ibu sama anak ini," timpal Rita kesal Akhirnya wanita ini pun keluar dari kamar di mana mereka menyembunyikan Nandita. Sedangkan Nandita hanya duduk termenung sambil menangis.
Menangis karena ia begitu bodoh dan lemah ketika menghadapi mereka. Andai Nandita punya sedikit keberanian. Mungkin kedua orang tuanya tak akan menindasnya seperti ini. Terlebih Zidan, mungkin pria itu juga tak akan berani mempermainkannya seperti ini.
***
Berbeda dengan Nandita yang sedang memutar otak untuk mencari cara bagaimana bisa kabur dari tempat di mana ia dikurung. Di sisi lain ada Natalia yang sedang berpesta.
Merasakan kemenangannya karena telah berhasil memisahkan Nandita dengan Zidan. Kini dia tinggal menjalankan rencana keduanya. Wanita ini terlihat sangat antusias. Sebab ia yakin, jika rencananya kali ini pasti akan berhasil.
Sayangnya, Dion juga tak mau ketinggalan. Dengan cepat pria tampan ini langsung meminta anak buahnya untuk mencari keberadaan wanita rubah itu. Dion tak ingin mengalah lagi kali ini. Ia ingin, wanita itu segera ketemu. Dan dia sendiri yang akan memberika pelajaran padanya. Karena menurutya, Natalia sudah keterlaluan.
Bersambung....
Komen-komen, yang keren ya, biar Emak rajin update🥰🥰🥰