
Dion sedikit lega. Sebab Nandita dan Raka berada di tempat yang bisa dikatakan aman. Sedangkan dirinya saat ini sedang berada di rumah ayah angkatnya. Sedang meminta pertimbangan pria paruh baya itu. Berkonsultasi, siapa tahu sang ayah punya cara bagaimana agar dia bisa menyeret Regen hidup-hidup di depan Zidan dan dirinya.
"Dion udah larang abang kembali ke Jakarta dulu, Pi," ucap Dion serius.
"Bagus, itu lebih baik untuk abangmu. Kita harus berhati-hati dan lebih cerdik darinya. Kamu tahu kan jika pria jahanam ini sungguh licik, dia punya banyak kolega yang siap membantunya. Kamu sendiri juga harus hati-hati, Dion. Jangan gegabah. Ingatkan abangmu terus. Jangan sampai terpancing. Lebih baik sekarang hindari dulu tempat umum. Sebab bisa saja dia memang mencari tempat yang ramai untuk menghabisi abangmu," ucap Galih memperingatkan.
"Papi benar. Sepertinya Regen memang ingin menghabisi abang di keramaian. Dengan begitu, jejaknya tidak akan mudah terbaca! Itu sebabnya Dion melarang abang kembali ke Jakarta terlebih dahulu, " jawab Dion mengerti. Tak lupa ia juga menjabarkan maksud dan tujuannya melarang Zidan kembali ke Jakarta.
"Bagus, sebaiknya begitu. Papi nggak tahu, abangmu ini kenapa? Lembek banget ngadepin musuhnya." Galih terlihat meremas jari-jarinya. Geram pada putra pertamanya.
"Apa kita perlu perketat pengamanan untuk abang dan anak istrinya, Pi?" tanya Dion.
"Nggak perlu. Zidan punya pelindung yang hebat. Putranya adalah pelindung sejati yang Zidan miliki. Sinar matanya menunjukkan jiwa Ksatria yang sesungguhnya. Ku lihat dia sangat cerdas. Dia bisa menjaga dirinya dan membabat musuh-musuhnya. Dan dia juga tampan seperti ayahnya!" ucap Galih. Senyum nerekah sempurna di wajah pria paruh baya ini. Sepertinya diam-diam Galih juga bangga terhadap Raka. Dia juga sering mencari tahu tentang Raka, sejak ia mengetahui bahwa dia memiliki seorang cucu yang tampan.
"Dia pandai sekali memainkan alat itu ya, Pi. Rasanya Dion baru pertama lihat alat aneh itu," canda Dion, pria tampan ini terlihat heran.
"Papi saja baru tahu kalau ada mainan begituan," jawab Galih, ikutan terkekeh.
"Bagaimana pria yang menganggu calon mantuku Apakah sudah kamu libas?" tanya Galih.
"Masih kita tahan di markas, Pi. Dia masih belum mau buka mulut," jawab Dion.
"Dia sama liciknya dengan Regan. Heran di kasih apa sih!" Galih terlihat mulai tak sabar. Sedangkan Dion hanya diam.
"Oiya, Kapan abang dan mbakmu mau meresmikan hubungan mereka kejenjang yang lebih serius?" tanya Galih.
"Belum tahu, Pi. Abang belum membuka obrolan soal itu," jawab Dion.
"Abangmu itu ngawur saja, belum menikah sudah bilang istri-istri. Oia setelah kita ringkus pria biadab itu, antarkan Papi ke rumah orang tua kakak iparmu. Papi mau lamar duluan, biar abang bodohmu itu nggak bingung nyari restu mereka," pinta Galih lagi.
Dion tersenyum bahagia. Karena sang ayah tak sedikitpun melupakan kewajibannya sebagai orang tua. Apapun yang Zidan lakukan selalu ia awasi. Apapun yang Zidan kerjakan, diam-diam dia juga mengback-up dengan caranya. Galih hanya menyayangkan Ratna yang tidak mau menerima penjelasannya dulu. Andai wanita itu mau kebenarannya terlebih dahulu. Mungkin perceraian diantara mereka tidak akan terjadi. Dan Galih bisa menjaga merawat sekaligus membimbing putra-putrinya dengan baik.
"Baik Pi nanti Dion antar. Sementara ini Dion akan mengikuti Natalia, sepertinya wanita itu tahu tempat persembunyian Regen," ucap Dion, tak lupa ia juga menyerahkan bukti rekaman CCTV yang ia dapatkan dari salah satu orang suruhannya.
Galih diam sesaat. Menganalisa pergerakan sekaligus wajah seseorang yang berada di dalam rekaman video tersebut.
"Kamu benar, sepertinya wanita itu tahu keberadaan bajingan itu. Suruh seseorang mengawasi, tapi ingat Regen bukan orang bodoh. Aku yakin dia juga memiliki tim," ucap Galih memperingatkan.
"Siap, Pi! Dion akan segera meminta mereka untuk cepat bergerak. Biar kita nggak keduluan pria itu," jawab Dion tegas.
Galih mengangguk-anggukan kepalanya. Ia percaya bahwa apa yang ia ajarkan pada Dion selama ini tak mungkin sia-sia, sebab pada hakekatnya Dion memiliki kecerdasan dan ketulusan hati seperti dirinya.
"Pergilah dan ambil ini!" pinta Galih sembari menyerahkan sembuah card berwarna hitam pada Dion.
"Apa ini, Pi?" tanya Dion sedikit bingung.
"Pin-nya tanggal lahir abangmu. Oiya, jangan lupa, abangmu jangan sampai tahu! Jika Papi tahu semua masalahnya. Kamu cukup peringatkan dia, jangan kemana-mana sebelum pria jahanam itu kita lenyapkan, mengerti!" tambah Galih mewanti-wanti.
"Siap, Pi!" jawab pria tampan ini tegas. Tak lama percakapan pun berakhir. Setelah berpamitan, Dion pun langsung pergi ke markas di mana Vano dan teman-teman mereka berada.
Kini tinggallah Galih dengan segudang kekhawatiran. Kepergian Ratna dan Zevana adalah pukulan terberat bagi pria paruh baya ini. Hatinya serasa tercabik. Ia pun merasa gagal melindungi kedua wanita yang jadi dambaan hatinya itu. Kembali kata andai menyerang batinnya.
Andai waktu itu dia tidak menyerah membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. Andai waktu itu dia lebih bersabar menghadapi kemarahan Ratna. Mungkin saat ini mereka masih bisa bersama. Membesarkan dan menjaga anak-anak mereka bersama.
***
Lain Galih lain juga dengan Zidan. Pria ini gelisah. Ia merasa tak bisa terus berdiam diri dan menyerahkan semuanya pada sang asisten. Terbesit sebuah keinginan untuk mengawasi sediri tentang apa yang terjadi. Zidan juga ingin menyelesaikan masalah yang membelitnya ini sendiri.
Apa yang dikatakan Nandita benar. Bahwa dia harus tahu perjalanan masalah yang ia hadapi. Ia tak bisa berpangku tangan seperti ini. Zidan ingin terjun langsung ke lapangan untuk menghadapi musuh-musuhnya.
Zidan terlihat mondar-mandir di ruang kerjanya. Lalu Raka pun masuk.
"Yah!" panggil Raka. Zidan membalikkan badannya dan menatap bocah tampan itu.
"Ya," Zidan hanya menjawab singkat. Sebab ia sedang fokus pada masalah yang kini membelitnya.
"Apakah Ayah mengkhawatirkan sesuatu?" tanya Raka.
"Ya, Ka. Kayaknya Ayah mesti tetep berangkat ke Jakarta. Ayah nggak bisa diam terus begini!" jawab Zidan jujur.
"Raka ikut!" pinta Raka. Zidan tersenyum.
"Boleh! Tapi agak bahaya, Raka paham kan maksud Ayah?" Zidan menatap sang putra. Begitupun dengan Raka
"Paham, Yah! Nggak pa-pa. Siapa tahu Raka bisa sedikit membantu Ayah." bocah tampan ini malah terkekeh.
"Bunda tahu kalau Ayah dalam bahaya. Terus kalau kamu mau ikut, Kira-kira di kasih nggak sama Bunda?" tanya Zidan sedikit takut. Mau bagaimanapun Raka adalah milik berdua. Apapun harus mengedepankan izin keduanya. Keikhlasan keduanya.
"Boleh, Yah. Nanti Raka rayu, tenang aja!" jawab Raka antusias. Zidan tersenyum. Sebab ia tahu, Raka pasti berhasil merayu wanita cantik itu.
***
Apa yang dicurigai oleh Galih menjadi kenyataan. Bahwa Regen memang bukan pria sembarangan. Kali ini pria ini telah siap dengan pistol ditangannya. Bersiap menyambut kedatangan Zidan di tempat yang telah ia sepakati dengan anak buahnya.
Bersambung....
Thanks buat dukungan kalian selama iniπππ