
Zidan sudah memutuskan, tak mungkin baginya untuk mundur. Apapun yang terjadi, Zidan harus tetap membawa Nandita kembali. Jika tidak rasa bersalah terhadap Raka pasti akan menghantuinya. Terlebih rasa bersalah kepada wanita yang selama ini menjaga Nandita. Yaitu Kartika. Ya, wanita itu. Wanita itu juga menakutkan.
"Hah, kenapa aku bisa melupakan wanita itu. Matilah aku sekarang!" gumam Zidan. Seketika pria ini merinding. Membayangkan kemarahan Kartika, yang mungkin tidak akan bisa ia hindari.
Kartika telah percaya padanya. Bisa menjaga Nandita untuk wanita itu. Untuk Raka. Intinya, Kartika telah mempercayakan keselamatan Nandita padanya.
Melihat sang ayah hanya diam, Raka pun bertanya, "Ada apa, Yah?" tanya Raka.
"Tidak, Ayah hanya takut pada utimu. Beliau pasti akan menghajar ayah kalau sampai tahu bahwa bundamu diambil kelurganya," jawab Zidan jujur.
"Kok begitu, Yah? Memangnya kenapa?" tanya Raka bingung.
"Ada sesuatu yang Raka belum ketahui. Nanti setelah semuanya selesai Ayah janji, Ayah pasti akan ceritakan semuanya. Dan Ayah berharap, apapun yang kamu dengar nanti, jangan salahkan ibumu. Karena yang jahat adalah Ayah. Kamu boleh membenci Ayah, Raka ngerti!" ucap Zidan pasrah.
Raka diam. Berusaha mencerna setiap kata yang ayahnya sampaikan. Namun, di saat semua kata itu berputar dalam ingatannya, saat itu juga Raka ingat pesan ibunda. Bahwa ayahnya adalah orang baik. Setiap manusia boleh melakukan kesalahan. Yang penting dia menyadari kesalahannya itu dan mau memperbaiki diri serta tidak mengulangi kesalahan serupa. Nasehat Nandita berhasil, nyatanya kalimat itu masih Raka ingat sampai saat itu.
"Kata bunda, Ayah itu orang baik," ucap Raka tiba-tiba.
"Benarkah? Kapan bunda bilang begitu?" tanya Zidan.
"Setiap kali Raka nanyain Ayah," jawab Raka jujur.
Zidan tertegun, tidak menyangka ia akan mendengar kalimat itu. Nandita! Wanita yang ia pernah sakiti. Namun tak sedikitpun memiliki dendam padanya. Bahkan, di depan putra mereka Nandita masih menjaga wibawanya. Zidan tak tahu harus dengan cara apa dia membalas ketulusan hati wanita itu.
Sekelebat mata, Zidan jadi teringat, betapa Nandita menangis kesakitan waktu itu. Waktu dia menjamah nya. Waktu ia menikmati tubuh Nandita. Zidan sungguh jahat. Sangat-sangat jahat. Ya Tuhan, ampuni aku, ucap Zidan dalam hati. Beberapa kali ia juga terlihat mengambil napas dalam-dalam. Memikirkan betapa jahatnya dia terhadap Nandita kala itu.
Suasana di mobil kembali hening. Raka dengan fokusnya melihat jalan di ponsel miliknya. Sedangkan Zidan dengan angannya tentang kebodohannya kala itu. Dalam hati, pria ini berjanji akan membahagiakan wanita itu. Tak akan lagi dia menyakiti Nandita. Walau apapun yang terjadi.
Hampir satu jam mereka berkendara, namun belum ada tanda- tanda mereka akan sampai di kediaman orang tua Nandita.
"Masih jauh lagi nggak, Dek?" tanya Zidan pada sang putra.
"Satu jam lima belas menit lagi, Yah. Tapi Ayah yakin kan kalau mereka membawa bunda ke tempat ini?" tanya Raka.
"Mereka nggak ada tempat lain lagi, Dek. Nggak mungkin mereka membawa bundamu ke hotel atau villa," jawab Zidan yakin.
"Ayah jangan salah, bukankah yang membakar emosi mereka orang kaya. Bisa saja sekarang bunda di bawa ke tempat wanita itu," jawab Raka. Tentu saja Zidan terkejut. Tak menyangka jika pemikiran Raka jauh di depannya. Pria ini pun langsung meminggirkan mobilnya. Memarkirkan mobil tersebut. Zidan tertegun. Namun, tak dipungkiri bahwa dia juga membenarkan apa yang dipikirkan oleh Raka.
"Kamu benar juga, Dek. Ayah kenal wanita itu," ucap Zidan lemah.
"Jadi gimana Yah? Kita ke tempat mereka dulu atau gimana?" tanya Raka.
"Sebentar, mana ponsel Ayah. Biar Ayah minta teman-teman Dion yang bekerja," jawab Zidan. Tak banyak bertanya, Raka pun memberikan ponsel yang ia pegang.
"Kalau bisa jangan terlalu percaya pada mereka, Yah. Mereka itu lamban sekali," jawab Raka, sesuai dengan apa yang ia amati selama ini.
"Lamban, maksudnya?" tanya Zidan bingung.
Kembali Zidan tersenyum. Sang putra yang ia kenal masih seperti anak kecil, ternyata diam-diam jago menganalisa keadaan. Memiliki pemikiran yang cerdas dan bisa diandalkan dalam segala hal. Pantas saja Nandita begitu bangga pada bocah tampan ini. Ternyata Raka memang bisa diandalkan.
Dengan gemas, Zidan pun mengelus kepala sang putra. Sambil mencari nomer kontak Dion yang ada di ponselnya.
"Bagaimana?" tanya Zidan, langsung pada intinya.
"Regen kabur keluar negeri, Bos!" jawab Dion, terdengar kesal.
"Astaga? Kenapa bisa? Bukankah dia buronan?" tanya Zidan.
"Bos benar, tapi sepertinya dia memakai topeng karet dan memakai identitas orang lain, Bos. Maaf kami kecolongan," jawab Dion jujur.
"Astaga!" Zidan menjatuhkan tubuhnya di kursi kemudi. Rasanya kesal saja. Mengapa masalah yang ia hadapi malah semakin bertambah.
"Maafkan kami, Bos. Ini kesalahan kami," ucap seseorang yang ada di belakang Dion. Mungkin itu adalah Vano.
"Persetan dengan Regen. Saat ini aku menghadapi masalah yang jauh lebih rumit dibanding itu. Nandita dibawa paksa oleh orang tuanya. Bantu aku lacak di mana keberadaan mereka. Sekaligus keberadaan Natalia. Ringkus orang-orang yang ada di belakangnya, laksanakan sekarang juga!" pintar Zidan. Kali ini pria yang biasanya tanpa ekpresi itu, berubah marah, kesal dan ingin meremas siapapun yang saat ini sengaja membuatnya marah.
"Siap, Bos!" jawab Dion tegas.
Beberapa detik kemudian mereka pun mengakhiri panggilannya. Sedangkan Zidan tak habis pikir. Mengapa timnya begitu mudah di kelabuhi oleh Regen.
"Sial!" umpat Zidan.
"Sabar, Yah. Yang diinginkan pria itu adalah ketakutan Ayah. Emosi Ayah yang tidak stabil. Jangan terburu-buru. Mungkin pria itu kabur bukan cuma punya masalah dengan Ayah. Mungkin ada pihak lain yang dia takuti!" ucap Raka mengingatkan.
Seketika Zidan ingat, bahwa Regen memang memiliki banyak musuh. "Kamu benar, Dek. Pria itu memang memiliki banyak musuh. Dia juga terlibat beberapa kasus," ucap Zidan.
Raka diam. Namun bocah tampan ini diam-diam membantu sang ayah memikirkan cara untuk menangkap pria itu.
"Yah!" ucap Raka.
"Ya!" jawab Zidan.
"Apakah Regen punya pacar?" tanya Raka.
"Pacar? Hisst, masih kecil kok tanya pacar-pacaran," jawab Zidan, malah meledek Raka.
"Bukan begitu, Yah! Gini maksud Raka. Seperti Ayah gini, nggak rela kan kalau pacarnya disakiti orang lain. Begitupun dengan Regen, dia pasti nggak rela juga kalau pacarnya disakiti orang lain. Gimana kalau kita manfaatin aja pacar Regen, biar dia balik ke Indonesia. Ayah ngerti kan maksud Raka?" jawab Raka. Menyuarakan idenya. Bahasanya memang bahasa anak-anak, namun Zidan paham dan mengerti apa yang putranya maksud.
Lagi-lagi Zidan merasa emezing dengan apa yang putranya pikirkan. Ide yang Raka utarakan bisa dicoba. Siapa tahu berhasil.
Bersambung....
Jangan lupa like komen dan votenya ya. Mari kita lihat, seberhasil apa ide Raka dalam membantu sang ayah menyelesaikan masalah-masalahnya🥰🥰🥰