
Kali ini Dion percaya, bahwa yang bisa membuka teka-teki ini hanyalah Raka.
Dion juga yakin, dengan ketelitian dan juga kecerdasan bocah tampan itu, dia pasti bisa menemukan akar dari permasalahan ini.
Namun, sekali lagi Dion harus bersabar. Ia harus tetap menunggu sampai operasi yang di jalani Zidan selesai. Barulah dia bisa mengambil keputusan. Bagaimana harus bertindak.
Beberapa jam telah berlalu. Terlihat Raka sibuk bermain game. Namun, anehnya, permainan itu terlihat seperti dia sedang menyusun rencana. Membuat Dion curiga.
"Raka ngapain?" tanya Dion.
"Ini lo Om. Raka pengen ngiring para penjahat itu ke tempat ini. Baru kita nakalin mereka. Kalo bisa sih. Cuma ini baru rencana Raka." Raka tersenyum sekilas sambil menunjukkan game yang sedang ia mainkan.
"Ide bagus tu, Raka. Cuma om sangsi nih. Pasukan kita tinggal sedikit," jawab Dion.
"Tenang Om, kita nggak perlu lawan mereka dengan kekuatan. Kita tipu saja mereka dengan ini," jawab Raka sembari menunjuk kepalanya.
Dion tersenyum sebab ia mengerti apa yang dimaksud bocah tampan ini.
Mereka berdua pun kembali menatap layar ponsel tersebut dan memainkan game itu. Berharap strategi yang Raka susun berhasil.
"Aahhhhh.... keren Raka, oke kita pakek cara yang kedua saja, sepertinya lebih oke!" ucap Dion.
"Boleh Om! Oiyaa Om, malam ini Raka harus ambil bunda sama uti dulu. Gimana? Apakah Om tidak lelah?" tanya Raka.
Dion yang saat ini hatinya diselimuti rasa penasaran tentu saja tak merasakan lelah sedikitpun. Rasa lelah itu telah direngkuh oleh rasa penasaran. Maka tak ada alasan baginya untuk berkata lelah.
"Om tak akan bisa tidur tenang sebelum bisa mengungkap tabir kepalsuan tang membingungkan ini, Raka. Tolong bantu Om. Otak Om serasa mau meledak memikirkan masalah ini. Gila aja kalo sampai apa yang kamu ucapkan adalah benar!" jawab Dion geram.
"Sabar Om, yakinlah bahwa Tuhan selalu berada di pihak yang benar. Yang penting ayah sembuh, bunda dan uti dalam keadaan aman dulu. Baru kita bertindak. Oiya, seandainya kita besok terbang ke Jakarta, lalu ayah bagaimana?" tanya Raka.
Dion melongo, lagi-lagi pikiran semrawut nya kalah dengan pola pikir Raka. Anak ini memang menguasai segala hal. Bahkan keamanan sang ayah.
Dion menatap sejenak bocah tampan yang sangat mirip dengan abangnya ini. Lalu ia pun menjawab.
"Raka nggak tahu, Om!" jawab Raka lugu.
"Astaga! Sebaiknya aku banyak-banyak mengkonsumsi minyak ikan. Biar cerdas dikit!" ucap Dion spontan.
Nyatanya, jawaban itu malah membuat Raka terkekeh. Aneh saja, orang yang lebih besar darinya tak memikirkan ini. Yang ia pikirkan hanya bagaimana cara menemukan oknum-oknum yang memainkan peran. Tetapi anggota timnya tidak dipikirkan keselamatannya.
"Sebaiknya Om cari cewek Om. Biar ada yang ngedampingin. Biar Om tenang. Lalu bisa berpikir cerdas!" selepas berkata demikian, Raka terkekeh. Sedangkan Dion hanya tersenyum kesal.
Bisa aja jawaban si bocah tampan ini. Ia tahu, Raka hanya meledeknya. Tetapi bisa juga jawaban itu menjadi sebuah ide yang cemerlang.
"Jangan ngledek Raka, selesaikan satu-satu masalah kita. Dari mana pemikiran bodohmu itu muncul... cari cewek, cari cewek. Kamu tahu nggak cewek itu apaan?" canda Dion.
"Cewek itu ya cewek Om. Kayak bunda! Gimana sih! Kan ayah sama bunda, berduaan semangat banget ngejalanin ujian. Siapa tahu dengan Om punya cewek, bisa kompak ngejalanin ujian Om!" balas Raka. Sungguh pemikiran bocil milenial. Dion melirik kesal pada sang keponakan. Geram, kenapa bisa punya pemikiran yang genius seperti ini.
"Do'ain aja, ommu ini cepat laku!" jawab Dion.
Tak ada perbincangan lagi selain tawa yang tercipta. Raka dan Dion memang bisa di katakan tim yang kompak. Mereka sangat pandai mengatur strategi. Sangat kompak dalam setiap candaan. Sungguh, Zidan adalah manusia beruntung. Sebab dalam kesusahan anya di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
***
Di lain pihak, ternyata apa yang dikatakan Raka bukanlah isapan jempol belaka. Terlihat beberapa orang berjaket hitam dengan logo pedang di lengan kiri sedang keluar masuk sebuah rumah mewah. Yang diketahui, rumah tersebut adalah rumah Ronal. Yang tak lain adalah kakak kandung dari Galih. Yang artinya, pria itu adalah paman dari sang ayah.
Di sana, terdengar gelak tawa penuh kebahagiaan. Karena pria itu merasa puas. Usahanya untuk membuat sang adik terpuruk semakin nyata. Ronal puas, karena ia mengetahui bahwa saat ini, sang pewaris dari adik harta adik kandungnya telah meregang nyawa. Ia tinggal mencari cara untuk melancarkan aksi keduanya. Yaitu melenyapkan bocah kecil yang menurutnya jauh lebih licin dibanding sang keponakan.
Bocil yang bernama Raka itu. Baginya lebih licin di banding sang keponakan. Membuat Ronal sedikit gusar.
Bersambung.....
Emak kembali lagi.. Jangan lupa dukung karya baru emak yes, dalam event BERBAGI CINTA dengan judul KETULUSAN HATI ISTRI KEDUA. Lebih melo dan bisa bikin emosi tingkat dewa.. Stay Tune🥰🥰🥰🥰