
Zidan masih belum bangun meskipun beberapa kali Nandita menciumi tangannya. Bukan hanya menciumi tangan pria itu. Nandita juga mengelus rambut Zidan yang mulai gondrong. Membisikan kata-kata sayang untuk pria itu. Bukan hanya itu, Nandita juga mengatakan bahwa dirinya telah memaafkan Zidan. Memaafkan segala kesalahan Zidan yang mungkin pernah pria itu lakukan. Baik sengaja maupun tidak.
"Aku akan marah Zidan, kalo sampai kamu nggak bangun-bangun. Aku akan marah Zidan. Sungguh," ancam Nandita lembut. Tepat di telinga pria yang ini masih terlelap dalam tidurnya.
"Apakah kamu tahu, Zidan? Aku sangat merindukan keisenganmu. Aku rindu kekonyolanmu. Aku rindu semua tebtangmu, Zidan. Bangunlah!" Nandita kembali memainkan anak-anak rambut pria tampan ini. Berharap dia geli, lalu bangun, lalu menyapa dan tersenyum padanya.
Namun sayang, harapan Nandita tida terwujud. Zidan seakan tidak mendengar permintaan itu. Pria tampan ini malah semakin tenggelam dalam mimpi.
"Bunda jangan nangis terus! Udah Bunda istirahat, kata dokter, Insya Allah besok ayah pasti bangun, ya!" ucap Raka sembari memberikan pelukkan untuk ibunda tercinta.
"Ya, tapi ayahmu menjengkelan, Ka. Kenapa dia nggak mau bangun sekarang? Apakah ayahmu tidak merindukan, Bunda?" tanya Nandita lugu. Terdengar seperti permintaan anak kecil. Tetapi sekali lagi, Raka mengerti, itu wajar. Secara, mereka saat ini saling menyayangi.
"Ayah pasti lelah, Bun. Pokoknya Bunda harus yakin. Ayah pasti bangun. Untuk Bunda, untuk Raka, untuk kita semua. Oke! Buda yang sabar," jawab bocah tampan ini lagi. Lalu dengan penuh kasih sayang, Raka pun memeluk wanita yang sangat ia sayangi itu.
Selepas menghibur dan bercengkrama dengan sang ibunda. Dion dan juga Raka pun memutuskan untuk meninggalkan ruangan ini. Mereka sengaja membiarkan dua sejoli itu tetap bersama. Karena mamang Nandita tak ingin jauh dari pria yang ia cintai itu.
Dion dan Raka ingin memberikan kesempatan pada wanita cengeng itu untuk menemani cintanya. Namun, mereka tak lengah. Mereka tetap bergantian menjaga kedua orang yang bisa dikatakan bahwa saat ini dalam bahaya.
"Ka, kamu siapkan besok kita terbang ke Jakarta?" tanya Dion memastikan.
"Siap, Om!" jawab Raka tegas.
"Semoga ayahmu sadar malam ini. Sehingga kita bisa sedikit lega meninggalkan mereka," ucap Dion khawatir.
"Tenang aja Om, ayah pasti sadar malam ini. Kan ada bunda," jawab Raka dengan senyum kalemnya.
Dion melirik sang keponakan. Ternyata wajah Raka begitu menggemaskan jika tersenyum begitu. Mirip sekali dengan sang abang.
"Ka, seandainya kita udah usia nangkep biang kerok dari pembuat onar, kamu mau ngapain?" tanya Dion.
"Entahlah, Om. Yang berhak memutuskan adalah ayah. Raka bukan siapa-siapa. Tapi Raka akan tetap berjanji untuk jagain ayah. Tetap berada di samping ayah. Sebenarnya ayah lebih menderita dari apa yang kita duga, bener kan Om?" jawab Raka jujur.
"Kamu bener, Ka. Ayahmu itu orang hebat. Hebat karena bisa mengikhlaskan apa yang terjadi padanya. Tanpa punya rasa ingin balas dendam pada orang-orang yang pernah penyakitinya!" Dion tertunduk lesu. Sebenarnya, bukan Zidan yang bernafsu menghabisi orang-orang yang menyakiti keluarga sang ayah. Tetapi Dion. Dion ingin kedamaian keluarga yang membesarkannya. Itu saja.
"Semangat, Om. Raka yakin, mereka pasti punya titik kelemahan. Tergantung kita, berani mencarinya atau tidak!" ucap Raka semangat.
"Kamu bener, Ka. Semoga Tuhan bantu kita!" balas Dion tak kalah semangat.
***
Keesokan harinya...
Hari ini mereka harus menghadapi pertempuran yang sesungguhnya.
Mau tak mau, Dion dan Raka harus mempersiapkan stamina terbaik mereka. Jangan sampai tumbang sebelum waktunya.
Kini, dua pemuda beda generasi itu telah siap dengan penampilan mereka. Raka telihat sangat gagah dan tampan, mengenakan stelan jas mahal yang sengaja Dion siapkan. Karena begitu pesawat landing, mereka harus langsung ke kantor.
"Siap, Ka?" tanya Dion.
"Ayo Om!" jawab Raka.
Dion tersenyum. Lalu, sebelum pergi pria gagah ini pun menyempatkan diri mengkonfirmasi segala kondisi yang sedang mereka hadapi kepada teman-teman seperjuangan mereka. Terutama Vano. Karena Dion sangat percaya pada sahabatnya itu. Vano pasti bisa dia andalkan, terutama untuk keamanan Zidan dan Nandita.
Melalui panggilan Video, Dion dan Raka pun berpamitan kepada Nandita.
Meski berat, Nandita tak mungkin menghalangi langkah sang putra. Sebab Nandita tahu, bahwa misi Raka dan Dion tidak main-main. Kali ini, Mereka memang harus pergi, supaya para musuh tidak seenaknya saja mempermainkan keluarganya.
Namun, sebelum Dion dan Raka keluar dari hotel tempat mereka menginap, Dion dikejutkan oleh sebuah pesan chat yang mengatakan bahwa, jika mereka sampai berangkat ke Jakarta, maka Galih akan mereka habisi. Bukan hanya pesan teks yang mereka kirim. Mereka juga mengirimkan sebuah foto yang memperlihatkan Galih sedang diikat di sebuah kursi, mulut dilakban dan juga sedang ditodong senjata.
"Sial!" umpat Dion geram.
"Om percaya nggak kalo itu mungkin saja hanya akal-akalan opa!" ucap Raka santai.
"Maksud Raka?" tanya Raka.
"Agar kita tak jadi pergi, lalu orang-orang itu akan dengan mudah melengserkan ayah. Mungkin!" jawab Raka lagi.
Dion tak habis pikir dengan keadaan ini. Tubuhnya serasa lelah. Bingung dengan permainan ini. Bingung dengan tujuan dan maksud Galih melakukan ini.
"Sebenarnya siapa yang jahat di sini, Ka?" tanya Dion bingung.
"Entahlah Om! Raka tidak tahu." Raka tersenyum kecut.
"Lalu, apakah kita harus tetap berangkat?" tanya Dion ragu.
"Kita jangan tertipu, Om. Fokus kita adalah meringkus musuh-musuh ayah. Kita nggak tahu, apakah op tulus dengan ayah, ataukah dia mempunyai niat lain, kita nggak tahu. Untuk urusan opa, kita serahin aja ama om Vano. Kita tetap terbang ke Jakarta saja, Om. Saran Raka sih begitu!" jawab Raka.
Untuk kali ini, Dion ingin mencoba peruntungan dengan menuruti saran Raka. Pria ini berharap, kali ini perhitungan Raka tidak meleset. Mau bagaimanapun, Dion sendiri tidak tahu! Apakah Galih beneran disandera atau hanya akal-akalan pria itu semata.
Bersambung...