My Sunshine

My Sunshine
TAMU ITU DIA



Keesokan harinya...


Hari yang indah. Tidak mendung seperti biasa. Terlihat seorang bocah tampan sedang bersiap di kamar di bantu oleh seorang wanita paruh baya yang ia anggap sebagai neneknya sendiri.


Dia adalah Raka. Bocah tampan dengan segala kecerdasannya. Raka terlihat malas, seperti tak ingin pergi. Namun, sang ibu memintanya untuk tetap pergi, mengambil hadiah travelling itu. Nandita bilang, Raka harus bersenang-senang. Sebab ini adalah hadiah. Dan hadiah harus di nikmati. Kapan lagi bisa jalan-jalan gratis keluar pulau.


"Kok Raka nggak semangat gitu?" pancing Kartika. Raka hanya tersenyum sekilas, sembari memasukkan beberapa coklat dan juga cemilan kecil ke dalam tas punggungnya.


"Nggak pa-pa, Ti. Raka baik-baik saja!" jawab Raka. Wajahnya ditekuk, sehingga terlihat jelas bahwa anak ini sedang memikirkan sesuatu.


"Nanti kalau udah sampai Bali, telpon Uti. Jangan lupa!" ucap Kartika memperingatkan.


"Siap, Uti." Raka hanya tersenyum sekilas. Tidak ceria seperti biasanya. Tentu saja kesan ini membuat Kartika lebih curiga.


"Ada yang Raka pikirkan?" tanya Kartika sembari manatap wajah tampan sang cucu kesayangan.


"Uti tahu kan kalau Raka menang lomba," ucap Raka, terdengar lirih. Tidak jelas. Seperti dia ragu untuk bercerita.


"Iya, Uti tahu itu. Ini Raka mau pergi juga karena dapet hadiah itu kan. Lalu?" tanya Kartika.


"Tapi Uti jangan kasih tahu bunda ya. Sebenarnya Raka ingin cerita sama Uti. Raka bingung dengan bunda. Bunda kenapa seperti orang ketakutan ya, Ti?" tanya Raka. Jelas saja dia masih bingung sebab dia masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi.


"Nggak ada apa-apa! Kan Raka tahu sendiri, bundanya Raka itu salah satu wanita yang mempunyai keistimewaan. Memang sedikit berbeda, karena cenderung memiliki kecemasan lebih tinggi dibanding kita. Tidak apa-apa, pokoknya yang harus Raka pikirkan sekarang adalah belajar dengan giat. Selalu jujur dan mau membantu sesama. Tetap sayang sama bunda, walaupun kadang-kadang bunda bersikap berbeda. Raka ngerti kan maksud Uti?" tanya Kartika sembari tersenyum penuh kasih sayang.


"Iya, Ti. Raka hanya heran. Setelah acara itu bunda ketakutan. Seperti .... Entahlah, Ti," jawab Raka. Bingung, harus bagaimana menjelaskan perasaannya pada wanita paruh baya ini.


"Apakah Raka tahu, ada sesuatu yang hanya boleh kita rasakan. Uti tahu saat ini Raka sedang bingung. Mengapa Bunda begitu, setelah melihat seseorang yang mirip dengan Raka, kan?" sedikit Kartika menyinggung penyebab kebingungan bocah tampan ini. Agar Raka tidak dilema.


"Iya, Ti. Raka ingin mengatakan itu!" jawab Raka jujur.


"Ya, Uti paham. Raka berdoa saja semoga, apapun yang terjadi. Jangan pernah membenci mereka. Sebab mau bagaimanapun. Jika tidak ada mereka maka tidak akan pernah ada Raka! Raka paham maksud Uti?" tambah Kartika lagi. Berharap Raka mengerti dengan apa yang ia maksud.


"Iya, Ti. Apakah?" tanya Raka curiga.


"Kemungkinan iya," jawab Kartika jujur.


"Tetapi, jujur Uti sendiri juga belum tahu. Yang tahu hanya bunda, karena Uti sendiri juga nggak tahu. Raka sudah besar, pinter pula, pasti Raka paham maksud Uti!" tambah Kartika, sembari mengelus lengan Raka. Berharap bocah ini kuat ketika nanti tahu yang sebenarnya.


Tak mungkin bagi Kartika untuk membuka semuanya sekarang. Sebab ini adalah masalah sensitif, terutama untuk Raka sendiri. Kartika hanya takut ketika sang cucu mengetahui fakta yang sebenarnya, ia akan marah dan membenci kedua orang tuanya.


Selain itu ia sendiri juga belum tahu apakah pria itu adalah benar dia ataukah hanya mirip saja.


Kartika hanya tak ingin menghakimi seseorang tanpa melihat dan mempelajari bagaimana sejatinya orang tersebut. Mau bagaimanapun pria itu adalah ayah kandung Raka. Mau terima atau tidak, pria itu tetap ayah kandung bocah tampan ini. Kartika takut, jika dia salah bicara. Takut hati Raka tak menerima. Itu sebabnya Kartika memilih tidak membahas pria itu dengan bocah tersebut.


"Seandainya benar dia ayah Raka, apa yang akan Raka lakukan?" pancing Kartika.


"Entahlah, Ti. Raka bingung!" jawab Raka lagi.


Wajar jika bocah tampan ini bingung harus bagaiamana. Sebab, melihat reaksi ibunya, pasti ia berpikir bahwa situasi saat ini ada yang salah dan kurang beres. Namun, sudahlah Raka hanya bisa menunggu jawaban atas keresaahannya. Berharap, semua akan baik-baik saja.


"Raka pergi dulu, ya Bun. Bunda jangan nangis lagi. Bunda jaga diri baik-baik ya. Terus jangan lupa makan!" ucap Raka sembari memeluk dan mencium pipi wanita yang melahirkannya ini.


"Baiklah," jawab Nandita. Senyum mengembang di wajah pucatnya.


"Raka nggak tega ninggalin Bunda. Apa Raka di rumah saja, jaga Bunda?" tanya Raka sembari menatap sang ibu tercinta.


"Nggak usah, Sayang. Raka pergilah. Bersenang-senanglah. Ini reward untuk diri Raka, untuk jiwa Raka. Pergilah! Percayalah Bunda nggak akan seperti itu lagi," ucap Nandita menyakinkan Raka, agar sang putra tak terlalu mencemaskannya. Raka memeluk Nandita, kemudian wanita ini pun berjanji akan menjaga dirinya dengan baik. Agar orang-orang di sekitarnya tidak khawatirkan.


***


Hari menjelang malam, senja pun datang. Seperti biasa, di jam segini Nandita pun menyibukkan dirinya di dapur, untuk memasak makan malam. Namun, aktivitasnya diganggu oleh dering ponsel milik Kartika.


"Hallo Assalamu'alaikum!" Terdengar suara lembut Kartika menyamput sang penelpon.


Nandita hanya diam dan ikut mendengarkan. Beberapa menit kemudian panggilan telepon pun berakhir. Kartika mendekati Nandita dan berkata. "Dita, Ibu ada panggilan merias jenazah. Dita mau ikut apa di rumah?" tanya Kartika.


Nandita menghentikan aktivitasnya, lalu dia pun menjawab, "Dita pengen di rumah aja, Bu. Boleh nggak Dita nggak ikut!"


"Oh, ya nggak pa-pa. Tapi bener di rumah sendiri berani?" tanya Kartika.


"Berani, Bu!" jawab Nandita yakin.


"Okelah kalau begitu, Ibu jalan dulu ya. Kalau Dita takut, panggil pakde ama bude aja suruh nemenin ya!" pesan Kartika, hanya untuk mengantisipasi saja. Sebab, Kartika sangat paham bagaimana Nandita.


"Iya, Bu." Nandita mematikan kompor dan membantu Kartika bersiap.


"Yang meninggal ini agak jauh rumahnya, kemungkinan Ibu nginep," ucap Kartika.


"Iya, Bu. Hati-hati ya di jalan." Nandita membawakan tas make up itu ke mobil. Kartika mengangguk mengiyakan ucapan sang putri. Lalu setelah semua dirasa siap, Kartika pun segera menyalakan mobilnya dan melaju meninggalkan rumah.


***


Malam pun tiba. Hujan turun dengan derasnya. Padahal dari pagi sampai sore cuaca cerah. Memang cuaca sekarang ini susah diprediksi.


Nandita sedang bersantai di ruang kerjanya. Meneriksa pekerjaan yang beberapa hari ini ia tinggalkan. Lembar demi lembar nota penjualan menjadi temannya.


Ketika sedang asik menghitung, telinga Nandita mendengar seseorang memencet bel rumahnya. Tanpa curiga ia pun beranjak dari tempat duduk. Untuk membukakan pintu sang tamu.


"Iya pakde sebentar!" ucap Nandita, karena ia pikir yang datang adalah pakde Herman dan istrinya. Sebab beberapa saat yang lalu Nandita memang menghubungi mereka, supaya datang dan menemaninya.


Bel kembali berbunyi, Nandita pun berlari keci. "Astaga, tak sabaran amat sih!" gumam Nandita.


Dengan senyum manisnya, Nandita pun membukakan pintu untuk kedua orang yang ada dalam pikirannya. Namun sayang, tamu yang datang bukanlah orang yang ia duga. Melainkan pria itu. Pria yang beberapa ini menganggu jiwanya. Tentu saja Nandita shock. Gemetar. Kakinya lemas. Napasnya tersegal. Ketakutan kembali merasuki nya. Keringat dingin keluar begitu saja dari keningnya. Nandita tak sanggup menguasai diri. Pandangannya kabur seketika. Seluruh ototnya serasa mati. Raganya seperti melayang. Nandita pingsan.


Bersambung....


like dan komennya jangan lupa ya gaes.. lope u semua🥰🥰🥰