
Nandita tidak banyak bertanya. Sebab ia tak mau dinilai terlalu ikut campur urusan pribadi Zidan. Untuk saat ini, ia hanya mau menempatkan diri sebagai teman. Seperti komitmen yang telah mereka sepakati.
Begitupun dengan Zidan. Pria ini juga berjanji akan selalu menjaga batasan. Sampai mereka benar-benar yakin membawa cinta mereka ke dalam mahligai rumah tangga.
"Mandilah, jangan bersedih lagi! Raka sudah menunggumu di meja makan. Dia sangat antusias ingin tahu di mana sebenarnya ayahnya tinggal," ucap Nandita berusaha memberi semangat pada Zidan.
"Kalau bundanya Raka, nggak pengen tahu rumah kekasihnya?" canda Zidan.
"Pengen sebenarnya, tapi kamu harus selesain dulu masalah kamu sama wanita seksi itu. Aku nggak mau jadi orang ketiga di antara kalian," jawab Nandita santai.
"Orang ketiga? Duh manisnya!" canda Zidan sambil mencolek hidung Nandita.
"Serius ih!" balas Nandita manja sembari memukul lengan Zidan.
"Dih, berani pukul-pukul. Cium ni!" ancam Zidan genit.
"Bilangin Raka ni!" balas Nandita. Sedangkan Zidan hanya tersenyum manja
"Ampun kalau itu, bisa benjol kepala Ayah kena ketapel dia," jawab Zidan. Seketika tawa pun menghiasi ruangan itu. Zidan terlihat bahagia, sangat bahagia. Ternyata Nandita memang wanita tepat. Sebab di setiap kesedihan yang Zidan rasakan, selalu ada keceriaan serta solusi jika bersama Nandita.
"Anakmu itu jago banget main ketapel, Yah!" ucap Nandita memberitahu.
"Iya, Eman juga bilang. Katanya Raka fokusnya bagus. Bidikkannya selalu tepat sasaran. Anak itu memang luar biasa, dia mirip banget dengan Papi. Papi kalau nembak jago," jawab Zidan antusias. Senyum tampannya merekah sempurna. Sepertinya ia sangat bangga dengan pria yang ia sebut papi itu. Namun, di balik senyum yang ia tunjukkan, terukir jelas bahwa ada sebaris kesedihan di sana.
"Benarkah? Wow, kayaknya bakal sefrekuensi sama Raka!" canda Nandita.
"Sayangnya, aku dan Papi udah lama nggak pernah ketemu," jawab Zidan.
Nandita mengerutkan kening. Bingung. "Kenapa? Ayah nggak pernah datengin memangnya?" tanya Nandita Heran.
"Kami memang nggak pernah ketemu, Ta. Sejak beliau pergi ninggalin aku dan mami," jawab Zidan jujur. Namun, kejujuran Zidan semakin membuat Nandita bingung. Serta bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Zidan.
"Maaf, Yah. Apakah Ayah dibesarkan di keluarga broken home?" tanya Nandita, bukan bermaksud apa-apa. Hanya saja, biar dia tak salah presepsi.
"Ya, aku dibesarkan dari keluarga seperti itu. Papi ninggalin kami demi wanita lain, kata mami. Sejatinya seperti apa aku nggak tahu!" jawab Zidan jujur.
Nandita jadi kurang nyaman. Karena Zidan terlihat sedih.
"Yang sabar ya. Jangan pernah membenci mereka, mau bagaimanapun mereka adalah orang tuamu!" ucap Nandita mengingatkan.
"Aku nggak benci sama mereka, Ta Sedikitpun nggak ada rasa benci di hati ini untuk papi maupun mami. Hanya saja, aku selalu bertanya-tanya, mengapa mami benci padaku. Apa salahku!" balas Zidan sedih.
"Sebaiknya Ayah tanya aja, kenapa Mami benci sama Ayah. Semua pasti ada jawabannya," jawab Nandita serius.
Bukannya menjawab, Zidan malah tertawa. Nandita terlihat begitu lucu. Tapi tidak salah juga sih, sebab Nandita memang tidak tahu, jika ibunya Zidan telah tiada.
"Oke, Nanti aku tanya deh. Kenapa mami sebenci itu sama aku. Anak tampan gini kok di benci, nggak bener mami ini," jawab Zidan sembari tersenyum, berusaha menyembunyikan kesedihan yang menggerogoti sanubarinya.
"Duh, tampan terus yang disebut. Ingat udah punya satu putra. Jangan genit-genit Yah. Nanti Raka nanya lagi siapa wanita yang ngaku-ngaku mengandung adiknya Raka. Bunda jadi bingung jawabnya," balas Nandita sedikit gemas dengan pria ini.
"Iya, aku tahu. Aku percaya kok kalian teman. Tapi mungkin dia menganggapmu lain, makanya jangan tampan-tampan jadi orang," balas Nandita. Zidan langsung menatap ke arah Nandita. Spontan wanita ini tersadar malu. Ia pun langsung membalikkan tubuh hendak beranjak untuk menghindar . Namun dengan cepat Zidan menarik tangan wanita cantik itu dan memaksa Nandita untuk tetap berada di sampingnya.
"Mau ke mana?" tanya Zidan.
"Nggak kemana-mana, mau dateng Raka di meja makan!" jawab Nandita malu.
"Bilang apa tadi? Aku kenapa?" canda Zidan.
"Hah! Apa? Kenapa?" balas Nandita gugup. Wanita ini hanya berani menatap sekilas pada Zidan. Lalu ia kembali memunggungi pria itu dan menyembunyikan senyumannya.
"Kenapa ngadepnya ke sana, Bun. Emang di sana ada apaan sih?" ledek Zidan. Terang saja ledekan itu sukses membuat Nandita bertambah malu.
"Pokoknya nggak ada apa-apa. Udah jangan ngliatin aku kek gitu!" pinta Nandita malu.
"Bunda tadi bilang apa?" tanya Zidan dengan lirikan yang menggemaskan.
"Nggak, aku nggak ada bilang apa-apa. Emang aku bilang apaan?" Nandita masih berusaha menyembunyikan kekhilafannya.
"Baiklah kalau Bunda nggak mau ngaku. Ayah yang tampan ini tak mandi dulu. Biar tambah tampan dan nggak bikin Bunda malu pas bersanding di pelaminan," ucap Zidan sambil tersenyum menahan tawa. Sedangkan Nandita hanya melirik lucu ke arah pria konyol itu.
"Ya udah sana mandi, tunggu apa lagi pria tampan!" ledek Nandita, wanita ayu ini pun bergegas hendak beranjak. Namun dengan cepat Zidan mencekal tangan itu
"Eh, tunggu dulu!" ucap Zidan.
"Ada apa lagi, Tampan?" canda Nandita.
"Bunda jangan tersinggung soal kain ini ya. Maaf jika Ayah sensitif soal ini," ucap Zidan serius.
"Iya, nggak apa-apa. Sifat Ayah dan Raka hampir mirip-mirip. Jadi Bunda nggak kesusahan memahami kalian," jawab Nandita dengan senyum manisnya.
Zidan tak jadi mandi, dia malah antusias membahas Raka dengan Nandita.
"Benarkah? Apa kami benar-benar mirip?" tanya Zidan.
"Iya, bukan hanya sifat kalian yang mirip. Wajah kalian juga mirip," jawab Nandita jujur.
"Maafin Ayah, ya Bun. Nggak ikut jagain Raka waktu itu. Nggak jagain Bunda juga pas hamil Raka. Maaf Ayah pernah jahat sama Bunda." Zidan meraih tangan Nandita dan menciumnya penuh cinta.
"Aku sudah bilang kan. Aku akan memaafkanmu kalau kamu berhasil menjadikan putramu pria baik hati sepertimu. Pria bertanggung-jawab sepertimu. Percayalah, lukaku sudah sembuh Zidan. Aku baik-baik saja," jawab Nandita yakin.
Zidan kembali menatap Nandita. Ingin rasanya ia mencium bibir yang selalu mengucapkan kata-kata baik itu. Andai saat ini mereka sudah halal, maka Zidan tak akan menundanya lagi. Ia pasti akan menciun bibir manis itu. Mewujudkan cinta yang kini mulai mewarnai hatinya. Mulai merengkuh sanubarinya.
Ingin Zidan berkata jujur akan keinginannya. Namun sekali lagi, pria ini tidak ingin memaksa. Sebab ia memiliki rencana yang jauh lebih indah dari kata ingin lebih cepat memiliki. Zidan ingin menjadikan pernikahan pertama ini berkesan untuk Nandita. Ia ingin memberikan kebahagiaan untuk wanita itu. Sebuah pernikahan bernuansa mewah dan romantis yang di saksikan orang-orang terdekat mereka.
Bersambung....
Terima kasih atas kike komen dan Votenya😍