
Sebagai manusia yang menjalani kehidupan tentunya kita tidak lepas dari berbagai macam masalah. Masalah memang tidak bisa diprediksi dan terkadang datang dalam berbagai macam bentuk yang senantiasa membuat hidup kita semakin sulit baik secara fisik maupun mental. Terkadang kita membutuhkan kata-kata motivasi hidup dari orang-orang terdekat kita untuk senantiasa membuat hidup kita lebih semangat.
Layaknya roda kehidupan yang terus berputar, terkadang kita sering merasa masalah yang kita hadapi berat dan membuat kita berpikir bahwa masalah tersebut tidak akan berlalu. Namun percayalah, semua hal di dunia ini tidak ada yang permanen dan suatu saat akan berlalu termasuk masalah kita.
Agar masalah kita cepat terselesaikan dan hidup tidak terbebani, ada baiknya kita sebagai manusia selalu mencoba terus berpikir positif dan menjauhkan diri dari pikiran negatif yang timbul dari masalah tersebut.
Memang rasanya sulit untuk berpikir positif ketika sedang tertimpa masalah, namun perlu diingat dengan berpikir positif kita mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari masalah yang sedang kita alami. Bahkan dengan bersikap positif, kita bisa tetap tenang dalam menghadapi masalah yang muncul dan mencari solusi yang terbaik dalam menyelesaikannya.
Raka memantapkan hatinya untuk membantu Dion menangkap para penjahat yang tega menghancurkan bisnis ayahnya.
Bukan dendam yang tersemat dalam hati bocah tampan ini, hanya saja, ia ingin memberi pelajaran pada orang-orang yang telah berani menyakiti sang ayah.
"Raka, semua yang membantu kita sudah siap. Kita bisa tenang meninggalkan ayah dan bundamu. Tapi, satu yang membuat Om ragu .... " Dion menatap Raka.
"Apa yang membuat Om ragu, apakah perihal opa?" tebak Raka.
"Yes!" Dion tak ingin menutupi apapun dari Raka sekarang. Karena sejatinya ia memang meragukan kebaikan orang tuanya.
"Soal itu, Raka nggak bisa jawab Om. Tapi percayalah, kita harus berani dan jangan mau dipermainkan sama mereka lagi. Ayah terlalu baik, terlalu banyak diam. Makanya dimanfaatin terus." Raka sedikit tidak suka dengan sikap ayahnya yang satu ini.
"Kamu benar, Raka!" jawab Dion.
Tak ingin dikalahkan oleh keadaan, Raka dan Dion pun tetap memutuskan untuk berangkat ke Jakarta. Tetap memantapkan tujuan mereka. Meringkus orang-orang yang telah tega mempermainkan Zidan, pria yang mereka sayangi dan hormati itu.
***
Di sisi lain, Galih meronta marah. Karena kakak kandungnya yang ia percaya, ternyata malah menghianatinya. Menghianatinya dan kini malah mengincar harta dan nyawa putra semata wayangnya.
Dengan penuh emosi, pria paruh baya ini pun berteriak marah.
"Brengsek kamu! Aku pikir kamu adalah pelindung keluarga kita. Ternyata kamu adalah sumber petaka bagi keluarga kita. Aku sungguh tidak menyangka, Bang!" ucap Galih sembari menyemburkan ludahnya, tepat di depan kakak kandungnya itu.
Jeritan dan teriakan permintaan ampun Galih seakan tidak sampai di telinga pria itu.
Tiga puluh menit kemudian, Galih sudah tak berdaya akibat siksaan yang ia terima.
Sedangkan pria-pria yang menyiksanya langsung menghadap bos mereka.
"Bagaimana? Apakah dia mau memberikan sertifikat-sertifikat yang aku mau?" tanya pria itu.
"Maaf, Bos! Dia sama sekali tidak mau memberi tahu di mana surat-surat tersebut di sembunyikan," jawab kepala preman itu.
"Berarti dia benar-benar cari mati. Bungkam saja mulutnya. Lalu kirimkan mayatnya pada putra bodohnya!" ucap Pria itu. Memerintahkan.
Tak ada lagi perbincangan. Beberapa orang yang diberi tugas mengerikan itu langsung melaksanakan tugasnya tanpa protes.
Menghujamkan beberapa tembakan tepat di kepala Galih. Darah pun mengucur deras. Beberapa detik berlalu, tak terdengar lagi suara rintihan pria itu. Hanya ada darah yang mengalir deras dari pelipis pria itu.
Salah satu anak buah preman itu memeriksa denyut nadi Galih dan dia menggeleng. Pertanda pria paruh baya itu telah kehilangan nyawanya.
"Dasar bodoh! Harusnya kamu kasih tahu saja di mana barang itu kamu sembunyikan. Setidaknya kamu tidak akan kehilangan nyawamu percuma!" ucap ketua preman itu sembari tersenyum sinis.
"Bawa dia, mari kita kirimkan pada keluarganya. Agar mereka tahu, siapa yang sedang mereka hadapi," ucapnya lagi, memerintahkan.
Benar saja, mereka pun segera memasukkan mayat Galih ke dalam sebuah koper dan berniat mengirimkan koper tersebut ke rumah di kediaman tempat tinggal Dion.
Karena yang mereka tahu, Galih memang serumah dengan anak angkatnya tersebut.
Bersambung...