
Nandita membantu Zidan memakai jaket. Terlihat seperti seorang istri yang melayani suami. Wanita ini begitu perhatian dan penuh kasih sayang. Tanpa mereka sadari, nyatanya cinta yang mereka begitu dalam. Saling mengasihi dan memberi dukungan. Terlebih saat ini Zidan juga sedang membutuhkan dukungan moril darinya.
"Nanti bawa mobilnya hati-hati ya. Jangan ngebut!" pinta Nandita lembut.
"Siap Bunda. Ayah akan hati-hati. Bunda juga hati-hati ya di rumah. Kabari Ayah kalau ada apa-apa!" pinta Zidan sebelum pergi.
"Iya, Bunda balakan hati-hati. Ayah juga ya, jangan terlalu memaksakan diri. Jika lelah istirahatlah. Bunda nggak mau Ayah sakit," balas Nandita tak kalah perhatian.
"Kan sekarang ada Bunda yang bakalan ngrawat Ayah kalau sakit," canda Zidan.
"Husst, belum halal. Mana boleh!" balas Nandita. Zidan tersenyum.
"Ya udah kapan Bunda mau Ayah halalin?" tanya Zidan serius.
"Selesaikan urusan Ayah dulu. Dengan wanita itu sekali. Biar langkah kita enak. Minta restu keluarga Ayah dulu. Temui orang tua Bunda juga. Baru kita bisa menikah," jawab Nandita tak kalah serius.
"Baiklah, Bun Akan Ayah pikirkan. Eh, Bun, kok kita manggil Ayah Bunda aja. Emangnya boleh ya, Bun?" tanya Zidan. Wajahnya memelas, lugu namun juga menggemaskan. Mirip sekali dengan Raka jika begini.
"Sebenarnya belum boleh, tapi nggak etis juga kalau kita pakek bahasa aku kamu, kurang sopan rasanya." Nandita tersenyum malu.
"Ya udah deh, lagian kita kan udah ada anak, ya kan, Bun?" balas Zidan sok lugu. Nandita hanya mengangguk pelan.
"Udah sekarang Ayah balik gi, ini udah larut malam. Ingat pesan Bunda. Jangan terlalu capek. Apapun yang terjadi sekarang adalah kehendak Tuhan. Jangan terlalu memikirkan apa yang telah hilang. Tapi pikirkan juga apa yang harus tetap diperjuangkan. Ayah paham kan maksud Bunda?" Nandita kembali menatap Zidan. Pun dengan pria itu.
Kali ini Zidan kembali mengakui kebijaksanaan Nandita. Pantas saja jika Raka baik hati dan selalu berhati-hati dalam ucapan dan perbuatan. Ternyata didikan Nandita begitu tulus. Ikhlas dan selalu menyerahkan hasil usahanya pada Tuhan. Dan Zidan berharap ia bisa menjadi manusia yang tulus seperti Nandita. Seperti Raka. Seperti mereka berdua. Orang-orang yang ia cintai dengan hatinya.
Nandita menutup mata Zidan dengan jari-jari lentiknya. Sebab ia malu. Zidan terus menatapnya seolah ingin melakukan sesuatu padanya.
"Kok mata Ayah ditutup kenapa?" tanya Zidan.
"Habis mata ngliatin Bunda terus. Malu, Yah!" jawab Nandita jujur.
"Biarin to, Bun. Kan nanti kita bakalan ketemu lagi, kan lama." Zidan menundukkan kepalanya sedih.
"Nggak pa-pa, Yah. Kan kita bisa saling beetujar kabar. Lewat chat, video call juga bisa kan?" jawab Nandita lembut.
"Iya juga sih. Pokoknya Bunda ingat pesan Ayah. Oke!" Zidan menarik Nandita dan memeluknya sekilas.
"Iya, Bunda pasti ingat. Bunda titip Raka ya, Yah. Jangan biarkan dia kesepian. Dia suka sekali mengobrol dan menceritakan pengalamannya ketika hendak tidur. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Nandita serius.
"Aamiin, Ayah ngerti Bun!" jawab Zidan tak kalah serius. Akhinya, setelah kesepakatan komitmen itu mereka rajut kembali, Zidan pun merasa amat sangat tenang. Dengan hati berbunga akan cinta Zidan pun berpamitan dari kediaman Nandita. Melanjutkan kembali perjalanannya. Bermaksud menyelesaikan masalah yang kini sedang menghadangnya.
***
Dion memang bukan asisten sembarangan. Ia selalu berusaha profesional dan kompeten dalam bidang yang ia selami. Pria ini selalu menjunjung tinggi nilai kesempurnaan dalam hal apapun. Tanpa terkecuali dalam hal pekerjaan.
Mungkin orang lain yang tidak mengenal pria ini, akan mengatakan bahwa dia pria yang kamu. Tidak bersahabat. Sebab dia memang tegas dan jarang tersenyum.
Seperti malam ini. Dengan mengenakan jaket hodie dan motor sport miliknya. Ia pun berkendara menuju pabrik milik perusahaan di mana ia bernaung. Dion memang tidak setengah-setengah dan bekerja. Apapun akan ia lakukan selama itu demi kebaikan. Pikirannya sama dengan sang atasan. Menyelamatkan nyawa pekerja jauh lebih utama di banding apapun sekarang. Itu sebabnya Dion ingin memantau sendiri bagaimana tim pemadan kebakaran menyelamatkan para pekerja yang sedang masuk pada shift malam ini.
Bukan hanya Dion, Zidan pun meminta bantuan pada salah satu temannya yang kini bekerja sebagai penyidik di salah satu badan intelijen negara. Zidan khusus, secara pribadi meminta sumbangsih pria tersebut untuk menyelidiki apa yang telah terjadi. Beruntung pria tersebut tidak keberatan membantu Zidan. Dia malah senang bisa membantu pria itu. Sebab, baginya Zidan adalah pria yang berjasa bagi kehidupannya. Zidan pernah membantunya, mendonorkan darah untuknya ketika ia pernah kecelakaan tiga tahun silam.
"Tenang aja, Bro. Malam ini juga aku meluncur ke pabrikmu." Suara pria tersebut terdengar lirih namun tegas.
"Kamu masih ingatkan pria yang menyebabkan Zevana pergi?" tanya Zidan pada sang sahabat.
"Regen?" tanya pria itu lagi.
"Heeemm!" jawab Zidan singkat.
"Ada apa dengannya?"
"Sepertinya dia terlibat dalam masalah ini. Dion bilang dia melarikan diri dari penjara." Zidan membuka laptopnya dan mengirimkan sebuah foto yang Dion kirimkan untuknya beberapa hari yang lalu. Zidan curiga bahwa pria yang memakai masker dan topi serta lengkap dengan kaca mata hitamnya itu adalah Regen.
"Kamu sudah terima foto yang aku kirim?" tanya Zidan.
"Ya. Nanti coba aku analisa. Semoga ini memang dia," jawab pria itu.
"Thank, Bro. Bantuanmu sangat berarti untukku," ucap Zidan pada sang sahabat.
"Santai, Bro. Sama-sama. Aku akan sellau ingat bagaimana kamu berjuang menyelamatkanku. Kalau bukan karenamu mungkin aku sudah di alam baka." Pria itu tertawa.
"Sembarangan, udah sana pergi. Ingat pria ini sangat licin. Dia bisa membumi hanguskan siapapun yang berani mengusiknya. Aku harap pergerakanmu tidak tercium olehnya. Semoga dia tidak menyadari bahwa kamu ada di pihakku. Mengerti!" ucap Zidan mewanti-wanti. Sebab Zidan tahu, jika Regen sampai menyadari pergerakan Vano, tak menutup kemungkinan bahwa pria jahat itu juga akan menjadikan Vano sasaran. Dia tak akan segan-segan menghancurkan karir Vano. Bukan hanya itu, ia juga tak akan berpikir panjang untuk menghabisi pria ini.
"Iya tenang aja, Bro. Aku akan selalu waspada. Nanti aku minta beberapa temanku untuk membantu. Aku nggak sendirian. Percayalah!" Vano memakai jaketnya bersiap untuk pergi ke lokasi kejadian.
"Oke, besok aku kembali ke Jakarta. Aku menanti kabar baik darimu. Oke!" ucap Zidan.
"Siap laksanakan komandan!" jawab Vano tegas. Bersemangat seperti biasa. Sebab mendapatkan kasus baru adalah semangat tersendiri baginya. Seperti Dion. Pria ini juga selalu bekerja dengan hati.
Bersambung....
Thanks buat like komen n Votenya ya gaes🥰🥰