My Sunshine

My Sunshine
DILEMA



Di dalam mobil, ada Zidan yang terlihat gelisah. Apa lagi Nandita berada di dalam klinik itu untuk membayar administrasinya. Zidan takut jika Nandita bertemu dengan dokter itu. Dokter yang tak jelas itu. Zidan kesal sendiri memikirkan itu.


Zidan terlalu fokus dengan masalah Nandita. Sampai lupa mencari tahu siapa orang-orang yang menyerangnya tadi. Tak sabar menunggu, Zidan pun turun dari mobil untuk mencari keberadaan Nandita.


"Ayah mau kemana?" tanya Raka. Berusaha melarang sang ayah untuk keluar dari mobil.


"Sebaiknya kita jemput bundamu, Ayah takut bunda kenapa-napa," jawab Zidan. Terlihat khawatir.


"Oke, mari kita jemput bunda," ucap Raka.


Zidan dan Raka pun sepakat keluar dari mobil dan menjemput Nandita di ruang administrasi. Kecurigaan Zidan ternyata benar. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Nandita sedang berdebat dengan dokter yang merawatnya. Dokter itu setengah memaksa Nandita. Membuat Zidan geram.


Zidan mempercepat langkahnya meski tertatih. Sedangkan Raka yang tanggap langsung membantu memapah sang ayah.


"Itu bunda kok di paksa-paksa, Yah," ucap Raka sambil menunjuk geram pada dokter itu.


Zidan tidak menjawab, ia terus saja mempercepat langkahnya dan mendekati pria yang berani memaksa sang pujaan hati.


"Maaf, Dokter. Bisa lepaskan istri saya!" pinta Zidan sedikit mengejutkan dokter tersebut. Namun sayang, sang dokter tidak mengindahkan permintaan Zidan. Karena ia sudah terlalu lama mencari Nandita. Mencari wanita yang membuatnya tidak ***** untuk menikah. Meskipun kedua orang tuanya telah beberapa kali mendesaknya.


"Ta, kamu tega Ta," ucap dokter itu,frasa frustasi.


"Apanya yang tega, Man? Kita udah masing-masing," jawab Nandita. Mata wanita ayu ini terlihat berkaca-kaca.


"Apa kamu lupa dengan janji kita, Ta. Sampai sekarang aku menunggumu, Ta," ucap pria itu lagi. Tatapan matanya sama dengan Nandita. Terlihat nanar dan gelisah.


"Orang tuamu menolakku, Man. Aku harus gimana? Lupakan aku, Man. Kamu lihat sendiri aku sudah berkeluarga. Tak ada jalan lagi untuk kita selain ikhlas." Nandita mencoba melepaskan pegangan tangan Rahman.


Andai Zidan tidak terluka, pasti ia kan meninju wajah pria yang berani menyentuh tangan wanita pemilik hatinya.


"Sebaiknya jaga batasan anda, Dokter. Saya peringatan sekali lagi. Tolong lepaskan istri saya!" ucap Zidan tegas.


Rahman tak punya pilihan lain selain melepaskan pegangan tangan mereka. Membiarkan wanita yang masih jadi pemilik hatinya itu masuk ke dalam pelukan pria lain.


Dengan senang hati Zidan menerima pelukan Nandita. Zidan tahu jika ibu dari putranya ini sedang membutuhkan perlindungan darinya.


Bukan hanya Rahman yang terluka. Nandita pun sama. Wanita ini terlihat menangis. Seperti ada satu sesal yang ia tanggung di pundaknya.


Zidan hanya diam. Sebab ia belum tahu duduk permasalahan yang menjerat Nandita dan pria itu. Walaupun sebenarnya ia juga merasakan sakit yang teramat sangat dalam hatinya. Zidan hanya tidak menyangka. Wanita yang ia anggap tak memiliki hati dengan siapapun ternyata salah. Ternyata Nandita memiliki seseorang dari masa lalunya, dan yang membuatnya geram adalah pria itu masih tetap ada di hati Nandita sampai saat ini.


Sesampainya di mobil, telah berdiri seseorang yang Zidan utus untuk membawakan mobilnya. Zidan meminta Raka duduk di depan. Sedangkan dirinya dan Nandita berada di kursi bagian belakang. Mereka saling diam.


Nandita terus saja membuang pandangannya ke samping. Seperti tak ingin melihat wajah Zidan. Sebenarnya Nandita merasa kurang nyaman. Mengapa harus bertemu dengan seseorang dari masa lalunya itu. Terlebih masa lalunya dengan pria itu tidak bagus.


Dia mendapatkan perlakuan yang tidak baik kala itu. Hinaan dan cacian yang Nandita terima tidak tanggung-tanggung. Mereka tidak mau mencari tahu apa yang terjadi padanya terlebih dahulu. Langsung menghakimi.


Bukan hanya menghakimi, keluarga Rahman juga meminta pada seluruh warga kampung untuk menandatangani petisi agar Nandita keluar dari kampung. Sebab dianggap sebagai wanita kotor. Yang dapat mencemarkan nama baik kampung mereka.


Ziean melirik wanita ayu di sebelahnya. Terlihat Nandita beberapa kali menghapus air matanya. Ingin sekali Zidan bertanya, namun ada telinga lain di sini. Bukan hanya itu, Zidan juga tak mungkin membicarakan masalah ini di depan Raka. Zidan masih berusaha menahan egonya.


"Kita langsung ke apartemen, Bos?" tanya sang sopir.


"Ya," jawab Zidan singkat.


"Baik, Bos." Tanpa banyak bicara, sang sopir pun segera tancap gas dan melakukan kendaraannya menuju apartemen, tempat tujuan mereka.


Suasana di mobil kembali hening. Tak ada pembicaraan lagi. Nandita masih sibuk menata hatinya agar dendam itu tak muncul lagi. Sedangkan Zidan sibuk meredam egonya agar jangan sampai kecemburuannya ini menjadikan masalah baru di antara hubungannya dengan Nandita.


***


Di sisi lain, Dion sang sekertaris terlihat fustasi. Karena berberala lagi mencoba menghubungi Zidan. Tetapi tidak bisa.


Anda jarak Jakarta-Surabata bisa di tempuh dengan hitungan detik. Pasti saat ini ia sudah terbang mendatangi sang big bos itu. Hendak melaporkan segalanya tentang pria jahat yang telah keluar dari sarangnya dan bersiap membalas dendam.


Dion takut jika Zidan belum mengetahui ini dan bertindak ceroboh. Dion sangat tahu bagaimana Zidan yang mudah luluh dan percaya pada orang baru yang di kenalnya.


Beberapa kali terlihat pria ini gelisah. Tentu saja bukan tanpa alasan. Rumah Zidan yang di Jakarta kini telah di awasi oleh anak buah Regan. Beruntung setiap hari Dion tak lupa mengecek CCTV yang ada di sekeliling rumah tersebut. Andai Zidan bukan orang penting dan juga susah dianggap kakak sendiri oleh Dion. Pasti pria ini sudah pasti habis di maki oleh Dion karena hampir tiga jam dia menghubungi tetapi tidak bisa. Membuat Dion geram sendiri.


Bersambung...