My Sunshine

My Sunshine
KEBAIKAN HATI NANDITA KEBANGGAAN ZIDAN



Setelah selesai berkonsultasi dengan sang ayah, Raka pun merapikan buku beserta peralatan belajarnya. Kemudian melirik sang ibu yang masih terlihat menutup diri.


"Bunda kenapa?" tanya Raka.


"Nggak, Bunda nggak kenapa-napa," jawab Nandita tanpa menatap Raka.


"Oh, baiklah kalau tidak kenapa-napa. Soalnya kata ayah, Raka suruh jagain Bunda. Nanti kalau Bunda kenapa-napa, terus nggak bilang ama Raka, Nanti Raka diomelin ayah, Bun," jawab Raka dengan senyum tampannya. Sebenarnya dia serius, hanya saja cara penyampaiannya berbeda.


"Bilang aja ama ayahmu, nggak usah segitunya ama Bunda. Bunda bisa jaga diri," jawab Nandita, sedikit terdengar ketus.


Raka mengerti jika terkadang sang bunda memang tidak menyukai sang ayah. Entah apa alasannya. Tetapi jika boleh jujur Raka bingung dengan mereka.


"Bun, minggu depan ayah mau datang. Ayah mau ajakin Raka lihat rumah tinggi ayah yang ada di kota. Raka boleh ikut nggak?" tanya Raka.


"Nggak usah, di rumah aja," jawab Nandita melarang. Raka terlihat sedih. Tanpa mereka sadari Kartika melihat dan mendengar perbincangan mereka.


"Ta, mbok ya jangan begitu. Kasihan juga Raka. Hari itu gagal liburan karena hawatir sama kamu. Sekarang main sama ayahnya kok ya dilarang. Mbok ya dikasih, kalau kamu hawatir kamu ikut aja sama mereka. Sekalian refresing. Lihat-lihat dunia luar. Biar pikiran kamu nggak melulu bunga," ucap Kartika. Bukan berniat membela Raka hanya mau meluruskan keadaan saja.


Nandita diam, tak menjawab.


"Nggak apa-apa, Ti. Raka ngerti kok. Oia Ti, Raka pamit berangkat ngaji dulu ya. Bun Raka berangkat ngaji dulu ya, assalamu'alaikum," ucap Raka seraya beranjak dari ruang tamu.


Nandita dan Kartika pun membalas salam itu dan menatap punggung Raka yang terlihat malas.


"Jangan gitu toh, Ta. Ibu tahu kamu nggak suka ama bapaknya Raka, tapi jangan hukum Raka juga. Kalau Ibu lihat, Zidan juga nggak seburuk itu. Dia bisa jaga batasannya kok. Setiap manusia itu berhak melakukan kesalahan, Ta. Setidaknya sekali. Jadi alangkah baiknya jika kita kasih kesempatan buat dia untuk memperbaiki diri," ucap Kartika sambil merangkai bunga pesanan pelanggan.


Nandita diam. Namun terlihat jelas bahwa ego masih bersarang di pikiran wanita ayu ini.


"Ibu tidak memaksamu untuk memaafkan Zidan sekarang. Ibu hanya meminta, berilah kesempatan Zidan untuk menjadi lebih baik. Tidak ada salahnya memberi kesempatan orang yang ingin kembali ke jalan kebaikan, Ta. Allah saja Maha Pemurah. Masak kita yang manusia jual mahal," tambah Kartika. Pelan halus namun tempat sasaran. Tepat menembus jantung pertahanan Nandita. Terlihat mata itu berkaca-kaca, berarti apa yang diucapkan Kartika sukses mempengaruhi jiwanya.


"Entahlah, Bu. Dita pikir-pikir dulu," jawab Nandita seraya beranjak dari tempat duduknya.


Kartika tidak bisa memaksa jika begini. Namun ia yakin jika Nandita bukanlah wanita pendendam. Hanya saya ia belum sukses menata hatinya untuk lebih berlapang dada. Mungkin sebelum pertemuannya dengan Zidan, Nandita sudah melupakan pasal kejadian itu. Berhubung bertemu lagi, maka kejadian dan masalah itu muncul kembali.


Kartika hanya bisa berharap, jika Nandita bisa menerima ini semua bukan hanya demi Raka. Namun juga demi kesehatan jiwanya sendiri.


***


Seminggu berlalu, seperti janji Zidan pada Raka. Bahwa ia akan menjemput sang putra dan mau membawanya ke apartemen yang belum lama ia beli. Zidan ingin, jika Raka mau, Raka boleh tinggal di tempat itu bersama sang ibu.


Senyum mengembang sempurna di bibir bocah tampan ini. Ketika deru mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Sebab ia tahu yang datang adalah sang ayah.


"Bunda, ayah datang!" ucap Raka kegirangan. Sedangkan Nandita hanya tersenyum.


"Ayah! Ayah!" sorak Raka ketika berlari membukakan pintu untuk pria tampan itu.


Di sisi lain, Zidan yang baru saja keluar dari mobil langsung merentangkan tangan untuk menyambut Raka. Senyum mengambang di antara keduanya. Mereka berpelukan sangat erat, meluruhkan rindu yang mereka rasakan.


"Raka apa kabar?" tanya Zidan seraya mengecup kening sang putra.


"Baik, Yah. Ayah gimana?" tanya Raka.


"Ayah baik juga, uti sama bunda gimana?" tambah Zidan.


"Mereka baik, Yah. Tapi bunda tukang ngambek sekarang," jawab Raka. Mereka berdua saling melempar senyum. Kemudian Raka meraih tangan sang ayah dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Duduk, Yah. Sebentar Raka ambilin minum," ucap Raka seraya berjalan menuju dapur untuk membuatkan jus jeruk kesukaan sang ayah. Sama sepertinya yang suka jus itu juga.


Nandita hanya melirik Zidan. Tidak menyambutnya. Baginya Zidan kesini untuk Raka, jadi tidak ada urusannya dengannya.


"Ini Yah jusnya. Tadi ayah dari Bangkok langsung ke sini. Nggak pulang ke Jakarta dulu?" tanya Raka antusias, langsung duduk di samping sang ayah dan memeluknya manja. Sedangkan Zidan langsung memainkan rambut sang putra. Sesekali ia juga mencium gemas kening bocah tanpa ini.


"Nggak baca pesan Ayah ya?" canda Zidan.


"Oia, Raka ingat. Semalam ayah bilang udan sampai Jakarta. Terus hari ini baru terbang ke Surabaya. Lupa, Raka," tambahnya, sambil tertawa renyah. Zidan kembali tersenyum, tapi matanya mencuri padang pada wanita yang asik menyiapkan makan malam mereka.


"Gimana? Diizinin nggak ama bunda, kalau kita main ke tempat, Ayah?" tanya Zidan sembari berbisik.


"Boleh, tapi ada syaratnya, Yah," jawab Raka, ikutan berbisik.


"Apa tuh?" Zidan menatap Raka.


"Pakde Herman harus ikut, buat jagain Raka. Gimana tuh?" balas Raka, ikutan berbisik.


"Oh, jadi bunda nggak percaya sama Ayah?" tambah Zidan.


Raka hanya mengangguk pelan.


"Oh, ya udah nggak apa-apa. Sekalian aja ama istrinya pakde, besok kita aja jalan-jalan, gimana?" balas Zidan.


"Eh, mana boleh sama bunda. Kalau pakde pergi sama bunde pergi siapa yang jaga toko? Siapa yang antar pesanan bunga?" tambah Raka.


Zidan menggaruk keningnya yang tak gatal. "Emang bunda nggak pernah ke toko?" tanya Zidan.


"Nggak, Bunda takut keramaian. Bunda juga nggak suka bau keringat orang. Bunda bisa muntah. Makanya bunda lebih memilih berdiam diri di taman, di sana nggak ada bau orang. Bunda bilang, hanya nggak mau melukai perasaan orang lain dengan sikap anehnya. Bunda nggak mau menyinggung orang lain dengan tingkah anehnya," jawab Raka sesuai yang ia tahu tentang sang buda selama ini.


Ada sedikit kebingungan di hati Zidan. Mungkinkah bau keringat seseorang mengingatkannya pada penyekapan yang pernah ia lakukan. Atau bau itu mengingatkannya pada para preman yang menculiknya. Entahlah, hanya Nandita yang bisa menjawab semua ini.


Tak selang beberapa lama, mereka kedatangan tamu yaitu Herman. Pria yang ditugasi Nandita untuk menjaga Raka selama pergi dengan Zidan.


"Assalamu'alaikum!" sapa Herman.


"Waalaikumsalam," balas mereka serempak.


"Ada apa, Pakde?" tanya Raka.


"Anu, gini Raka. Pakde minta maaf, Pakde nggak bisa pergi sama Raka. Soalnya mbak Diah masuk rumah sakit. Ini Pakde mau izin nggak masuk kerja juga," ucap Pakde Herman. Terlihat sedikit takut.


Nandita yang mendengar penjelasan Herman langsung meletakkan pekerjaannya dan mendatangi pria tersebut. "Ya udah, Pakde nggak apa-apa! Pakde jagain Diah dulu aja, nanti kalau ada apa-apa telpon ya," jawab Nandita.


"Makasih, Neng. Sekalian itu anu!" ucap Pakde, kembali gugup. Ia ingin mengungkapkan keinginannya namun tak nyaman karena melihat ada Zidan.


"Iya, Pakde ada apa? Bilang saja!" pinta Nandita.


"Saya mau pinjam mobil buat bawa barang-barang ke rumah sakit, baju ganti dan semua peralatan sekolah Diah." Herman masih menunduk, terlihat jelas bahwa dia tak nyaman.


"Oh, bawa aja Pakde. Sebentar!" balas Nandita. Terlihat wanita itu masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian ia pun keluar dengan membawa kunci mobil dan amplop berwarna putih.


"Ini kuncinya Pakde. Ini gaji Pakde bulan ini dan ini ada sedikit buat pegangan Pakde. Semoga Diah cepet sembuh ya!" ucap Nandita. Tak hayal, Herman pun langsung bersujud di kaki Nandita. Berterima kasih sebesar-besarnya. Sebab wanita ini sangat baik terhadap keluarganya.


"Pakde jangan gitu. Kita kan keluarga," ucap Nandita sambil meminta Herman berdiri tanpa menyentuhnya. Sebab Nandita memang tak berani menyentuh lawan jenis.


"Makasih banyak Neng. Makasih," ucap Herman sebelum meninggalkan tempat ini.


"Iya, Pakde sama-sama. Nanti ada kan yang jaga toko?" tanya Nandita.


"Ada Neng, Ropik kan libur kuliah. Nanti Pakde minta tolong dia dulu," jawab Herman. Ropik adalah anak pertama Herman. Pemuda ini juga awalnya bekerja pada Nandita, karena sibuk kuliah ia pun memutuskan berhenti. Namun, jika libur ia juga masih sering ke toko untuk membantu ayahnya.


"Oh, ya udah kalau ada Ropik. Pakde hati-hati bawa mobilnya. Kabari kalau sudah sampai!" pesan Nandita. Tak lama berselang Herman pun berpamitan.


Sekarang tinggalah Nandita, Zidan dan juga Raka. Nandita kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Raka dan Zidan masih mengobrol di ruang tamu. Di sela obrolannya dengan sang putra ada kebanggaan yang tersembunyi di hati Zidan untuk Nandita. Wanita berpenampilan sederhana namun memiliki hati yang luar biasa. Ini menambah keyakinan Zidan. Bahwa Nandita adalah pilihan yang tepat untuk hatinya. Untuk hidupnya. Sekarang, bagaimana ia mencari cara untuk memenangkan hati wanita tersebut.


***


Jangan lupa like komen n votenya ya🥰🥰🥰makasih, lope u yang sudah berkenan mengikuti 💗