My Sunshine

My Sunshine
KEMBALI BIKIN ULAH



Seseorang yang lemah mental, biasanya akan mudah terpancing oleh sesuatu yang sebenarnya bisa di selesaikan hanya dengan senyuman. Seperti yang dialami oleh sorang wanita bernama Natalia ini. Dia begitu emosional ketika tahu bahwa pria yang membantunya telah diringkus oleh pihak berwajib.


Emosinya menggebu-gebu. Bagaimana tidak? Sekarang ia sudah tak punya bala bantuan. Bukan hanya itu, anak yang sekarang ia kandung juga mulai merepotkan. Membuatnya beberapa kali muntah dan lemas.


"Nggak anaknya, nggak bapaknya sama-sama brengsek!" umpat Natalia kesal.


Ingin rasanya ia melenyapkan anak yang masih ada di dalam kandungannya ini. Namun, anak ini adalah senjata baginya untuk menjerat Zidan. Tanpa anak ini, ia tak mungkin bisa menjerat pria itu.


Dengan tingkat percaya diri yang tinggi akhirnya wanita ini pun bertekat tetap melanjutkan tujuan utamanya yaitu memasukan Zidan ke dalam perangkap, menggunakan bayi tersebut.


Untuk melancarkan aksinya, Natalia pun menghubungi salah satu sahabatnya. Ia ingin meminta bantuan orang tersebut untuk memalsukan hasil tes DNA bayinya. Ia ingin tes DNA tersebut dibuat cocok dengan DNA Zidan. Hanya dengan begitu, maka Zidan tak akan berkutik. Pria itu pasti langsung menikahinya tanpa banyak bicara.


"Buat sealami mungkin. Kamu tahu kan orang-orang yang ada di samping kanan kirinya adalah orang-orang yang memiliki kecerdasan yang tinggi. Terutama putra jeleknya itu!" ucap Natalia pada pria yang saat ini ia hubungi.


"Yang penting cocok bayarannya. Semua akan aku kerjakan!" jawab pria tersebut.


"Jangan takut! Jika aku berhasil menikah dengan pria itu, maka semua yang kamu inginkan akan aku berikan. Sementara aku transfer dulu yang aku punya saat ini. Oke!" tambah Natalia.


"Oke! tidak masalah. Siapkan saja bahannya. Biar terkesan natural!" jawab pria itu. Tak lupa, pria itu juga mengajari Natalia prosedur yang harus ia lewati. Otak licik kedua insan itu pun mulai beraksi. Begitu detail dan teliti.


Natalia tertawa bahagia. Sebab, tertangkapnya Regen malah membuatnya semakin bebas untuk melakukan apapun.


Tidak peduli seberapa banyak uangnya yang dihabiskan oleh Regan. Nyatanya, uang incarannya jauh lebih banyak. Natalia tak peduli, beribu cara akan ia coba. Asalkan bisa mendapatkan Zidan. Bisa merebut Zidan dari tangan Nandita dan Raka.


Sekarang, fokusnya hanya memanfaatkan anak ini serta mencari cara untuk melenyapkan Nandita dan Raka.


***


Hujan gerimis mengiringi prosesi pemakaian Rita. Yang tak lain adalah ibu kandung Nandita.


Seluruh pelayat yang membantu prosesi pemakaman tersebut telah meninggalkan tempat. Kini tinggallah Nandita dan juga Kartika. Dion dan Raka masih di rumah sakit menjaga Zidan. Sebab pria itu juga membutuhkan mereka. Sedangkan Vano menjaga Rudi.


Wanita cantik itu menangis menjadi-jadi di atas pusaran wanita yang telah melahirkannya itu. Nandita menyesal, karena tak pernah menengok orang tuanya selama mereka masih ada? Mengapa ia tak mengabaikan larangan mereka saja? Mengapa ia hanya sibuk merenungi nasib yang menjeratnya? Mengapa baru sekarang ia menyadari, pentingnya menyambung tali silaturahmi dengan keluarganya.


Andai dia mengalah, menekan sedikit egonya. Mungkin dia tak akan semenyesal ini.


"Yang sabar, semua sudah ada yang menentukan. Sekarang yang harus Dita lakukan adalah mendoakan beliau. Dita paham!" ucap Kartika sembari memeluk anak angkatnya ini.


"Dita menyesal, Bu," jawab Nandita di sela-sela tangisnya.


"Ibu tahu, tapi sekarang, yang harus kamu lakukan adalah tetap kuat, tetap tegar. Rawat bapakmu, dia juga membutuhkanmu. Sekarang ibumu yang melayani setiap kebutuhannya sudah tidak ada. Gantian, ini adalah kesempatanmu untuk berbakti pada cinta pertamamu. Kamu paham maksud Ibu, kan?" ucap Kartika menasehati.


"Dita paham, Bu. Insya Allah, Dita akan selalu ada buat bapak." Nandita kembali menangis. Apa lagi ia ingat, ibunya berpulang karena apa. Karena masalahnya. Karena dia. Nandita terus menyalahkan dirinya sendiri. Meskipun berkali-kali Kartika mengingatkan jika ini bukanlah salahnya.


"Ayo pulang! Kita lihat bapakmu. Semoga beliau sudah stabil sekarang!" ajak Kartika sembari memapah anak angkatnya itu.


Tampak beberapa orang mengejar mereka. Dengan cepat Kartika mengajak Nandita masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan kendaraannya.


"Pegangan Nandita!" perintah Kartika. Nandita tak banyak bicara, wanita ayu ini pun langsung memasang seat beltnya dan berpegangan. Wanita ayu ini juga ikut memerhatikan beberapa preman yang sibuk masuk ke dalam salah satu mobil yang terpakir di sana.


"Mereka ngejar, Bu!" ucap Nandita sembari melihat spion yang ada di sisi kiri bodi mobil.


"Nggak apa-apa. Mereka cuma ngajak main," ucap Kartika santai. Wanita ini terlihat begitu tangguh, tanpa rasa takut ia pun mengarahkan mobil yang mengejarnya ke jalanan sepi dan berjurang. Sebab Kartika punya niat untuk menceburkan mobil para penjahat itu ke sana.


Agak jahat, tetapi mereka memang harus di kasih pelajaran. Supaya bisa memilih, mencari jalan rezeki tak harus dengan cara haram seperti itu.


"Ibu mau ngapain?" tanya Nandita ketika Kartika mulai mengarahkan mobilnya ke jalan yang berliku dan memiliki tikungan tajam.


"Kamu diam saja, kita lihat siapa yang lebih jago bawa mobil, ha. Kartika mau di ajak main beginian! Mari kita ladeni mereka Nandita. Pegangan Nandita, dah lama Ibu tak main beginian, ha. Asik juga ternyata," ucap Kartika sambil terus berkonsentrasi pada jalanan yang ada di depannya. Sesekali wanita paruh baya ini terkekeh.


"Astaga Ibu, ini bahaya!" balas Nandita takut.


"Hah, kamu ini, dasar penakut. Sarung tinju Raka ada nggak di mobil ini?" tanya Kartika. Seketika wanita ini teringat mainan-mainan Raka yang ia sembunyikan di mobil kesayangannya ini. Karena, Kartika memang suka geram dengan anak itu. Baginya, Raka adalah perusak bunga-bunga kesayangannya. Jadi wajib dibalas dengan menyembunyikan beberapa mainan kesayangan bocah tampan itu.


"Yang mana, yang tajam-tajam itu?" tanya Nandita.


"Iya!" jawab Wanita tangguh ini, sembari terus mencari akal untuk membuat mobil musuh oleng dan akhirnya jatuh tersungkur ke jurang. Sedangkan Nandita langsung meloncat ke belakang dan mencari senjata rahasia milik anaknya itu.


"Ada, Bu ini," jawab Nandita sembari menunjukkan satu kantong plastik mainan Raka.


"Eh, Ibu ingat. Di belakang situ ada kantong plastik warna ungu nggak?" tanya Kartika.


"Ada, Bu!" jawab Nandita. Terdengar kembali suara tembakan. Namun, Kartika berhasil menghindarinya. Nandita terpental, beruntung dia tidak terlempar keluar.


"Plastik warna ungu itu isinya paku, kamu sebar ke jalan, usahakan sebelum tikungan itu sudah tersebar. Cepat lakukan Nandita!" teriak Kartika. Sebab mobil yang mengejar mereka semakin Dekat.


Nandita tak banyak bicara. Wanita ayu ini pun langsung melaksankan perintah sang wanita super hero tersebut. Meskipun jujur, Nandita sangat takut dengan aksinya tersebut. Namun tak ada pilihan lain. Karena pilihannya hanya ada dua, membunuh atau terbunuh. Dengan penuh keberanian, Nandita pun menyebar paku-paku itu. Dan .... jika boleh jujur ini adalah adegan paling menegangkan sepanjang hidupnya.


Nandita tak menyangka bakal melawan penjahat-penjahat itu bersama Kartika. Wanita yang selalu terlihat anggun namun pemberani di saat-saat tertentu itu.


Nandita tersenyum, karena berhasil menyebar paku itu tepat di tempat di mana Kartika memberinya aba-aba. Mobil musuh tak bisa menghindari ranjau tersebut. Mobil musuh oleng. Sang pengendara tak bisa mengendalikan mobil. Mobil oleng dan menabrak pembatas jalan. Akhirnya, sesuai harapan Kartika, mobil terget pun masuk ke dalam jurang.


Kartika dan Nandita bersorak bahagia. Akhirnya mereka berhasil mengalahkan bandit-bandit yang mengincar nyawa mereka tersebut.


Bersambung.....


Jangan bosan ya, ditunggu selalu like komen n sharenya ya....