My Sunshine

My Sunshine
HARUS MENERIMA



Raka terus menangis di dalam mobil sambil berusaha menyadarkan sang ayah. Berkali-kali bocah tampan ini berteriak memanggil Zidan yang masih saja terlelap.


"Om, cepat Om. Ayah semakin lemah," ucap Raka gugup.


Dion yang paham langsung mengijak kuat pedal gasnya. Pria itu sendiri juga takut jika terjadi sesuatu pada abangnya. Mau bagaimanapun baginya, saat ini keselamatan Zidan dan keluarganya adalah tanggung jawabnya. Tanggung jawab kepada ayah angkatnya. Yang tak lain adalah ayah kandung Zidan.


Hampir tiga puluh menit mereka berkendara. Akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit tujuan.


Tak menunggu waktu lagi, Dion dan Raka pun langsung meminta bantuan tim medis untuk membantu mereka menolong Zidan.


Beruntung mereka pun tanggap. Tanpa banyak bertanya para tim medis pun langsung menolong Zidan.


Raka dan Dion di minta menunggu di depan ruangan di mana saat ini Zidan sedang di rawat. Raka terus saja menangis. Bocah tampan ini takut kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.


Dokter yang menangani Zidan terlihat sangat sibuk. Beberapa perawat juga, mereka membersihkan tubuh pria itu.


Melihat para petugas medis begitu sibuk dan belum bisa ditanya perihal abangnya, tentu saja membuat Dion gelisah. Pria ini hanya mondar-mandir ke sana ke mari. Berharap pria yang sedang mereka tangani saat ini baik-baik saja.


Beberapa menit kemudian, Vano mengirim pesan teks kepada Dion, yang mengatakan bahwa Regen dan seluruh telah di bawa oleh pihak yang berwajib. Tentu saja untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Sedangkan Haya juga diamankan. Sebagai saksi dalam kasus yang melibatkan abangnya.


"Ada kabar gembira buat kita, Ka!" ucap Dion memberi tahu.


"Apa, Om?" tanya Raka dalam sela tangisnya.


"Pria biadap yang membuat ayahmu seperti ini sudah ditangkap oleh pihak berwajib. Tetapi kita belum bisa sepenuhnya senang, karena wanita ular itu masih bebas berkeliaran," ucap Dion memberi tahu.


"Semoga dia dapat balasan yang setimpal di penjara, Om. Dia pria yang sangat jahat," ucap Raka. Bocah tampan ini kembali menangis. Rasanya ia ikut merasakan apa yang ayahnya rasakan.


Beberapa menit berlalu, Vano kembali menghubunginya. Mengatakan bahwa saat ini kedua orang tua Nandita juga telah di temukan. Namun hanya ayahnya yang selamat. Sedangkan ibunya meninggal di tempat.


"Mereka di bawa ke mana?" tanya Dion.


"Satu rumah sakit dengan kalian. Anak buahku nanti akan bantu menyelesaikan masalah administrasi. Tetapi aku sedikit bingung, bagaimana caranya menyampaikan masalah ini pada ibunya Raka," jawab Vano.


"Setelah abang keluar dari ruang pemeriksaan, aku akan meluncur ke sana. Kamu tolong fokus saja pada mereka. Minta bantuan orang yang bisa dipercaya. Jangan sendirian!" ucap Dion memperingatkan.


"Oke, kamu juga," jawab Vano kemudian mereka pun menutup telepon.


Dion menghela napas dalam-dalam. terlihat dia kembali termenung. Bingung. Jelas saja dia bingung, bagaimana tidak? Masalah Zidan belum usai. Kini timbul masalah baru. Dan Dion sendiri yang harus menjelaskan ini pada Nandita.


Dion tak yakin kalau dirinya bisa menjelaskan ini pada Nandita. Mengingat kabar yang akan ia sampaikan sangatlah sensitif.


***


Di lain pihak, ada Natalia yang terlihat frustasi. Wanita ini tak ingin menunggu lagi. Dengan tekat yang kuat ia pun berniat mendatangi rumah Nandita.


Ia ingin menyelesaikan masalah ini secara wanita. Natalia berpikir, bahwa Zidan adalah miliknya. Tidak ada seorangpun yang berhak atas pria tersebut selain dirinya.


Wanita cantik yang berprofesi sebagai model ini pun langsung menginjak pedal gasnya dan mulai melakukan kendaraannya ke arah rumah Nandita.


Namun sayang, semua keberaniannya buyar total. Mana kala banyak sekali pria-pria berseragam polisi yang berjaga di depan rumah Nandita membuat wanita ini mengurungkan niatnya. Tentu saja ia tak ingin dengan mudah tertangkap oleh mereka. Natalia tak sebodoh itu. Ia pun memilih mengamankan diri.


Bersambung...