My Sunshine

My Sunshine
MEMBINGUNGKAN



Nandita tak bisa melepaskan rasa khawatir yang membelenggu hatinya. Kecurigaan Nandita bertambah ketika melihat kain batik yang Zidan jadikan alas kepala. Entah mengapa hati wanita ini menjadi iba. Pikirannya kembali melayang, penasaran. Penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada pada pria tampan ini.


Alarm ponsel Zidan berbunyi, namun Zidan tak jua membuka mata. Akhirnya wanita ayu ini pun mencoba membangunkan Zidan dengan memanggilnya.


"Yah, ayah, bangun!" ucap Nandita tanpa berani menyentuh Zidan.


Zidan tak bereaksi, pria itu tetap terlelap. Tetap tenggelam dalam mimpi. Nandita tak menyerah, ia pun kembali mencoba membangunkan. Sayangnya tetap sama, Zidan tetap diam dan tak bereaksi.


Akhinya Nandita memutuskan untuk menyentuh pria tampan itu. Disentuhnya dada Zidan. Dielus nya pelan. Lembut dan penuh kasih sayang.


"Zidan bangun. Sudah siang!" ucap Nandita. Namun sayang, sentuhan lembut dan suara pelan Nandita malah mendapatkan balasan yang sangat ekstrim dari Zidan. Pria ini langsung menangkap tangan Nandita, lalu menarik tangan tersebut sekuat tenaga. Hingga tubuh wanita itu ambruk dan menimpa tubuh Zidan sendiri.


"Siapa kamu?" tanya Zidan spontan.


"Aku Nandita, Zidan!" jawab Nandita sembari meringis kesakitan. Karena tangan dan tubuhnya serasa menabrak benda keras. Tentu saja keras, dada Zidan sangat kekar.


Zidan yang menyadari kesalahannya, hanya menghela napas kasar. Sedangkan Nandita berusaha bangkit dari atas tubuh Zidan.


"Mau kemana?" tanya Zidan.


"Bangun Zidan, dadaku sakit. Badanmu keras sekali!" jawab Nandita lugu sembari mengelus dadanya yang terasa sedikit nyeri.


"Maaf, maaf, aku nggak sengaja. Habis kamu ngagetin," balas Zidan pura-pura lugu.


"Ngagetin gimana toh? Kan aku pelan banguninnya!" Nandita cemberut.


"Sorry, ya. Maaf!" Zidan ikutan bangun dan mengusap kasar wajahnya.


Zidan menatap sekilas ke wajah ayu itu. Lalu ia kembali fokus pada lantai yang ia pijak.


Nandita masih belum berani bertanya perihal kain batik itu. Tapi matanya tertuju pada benda itu. Sedetik kemudian Zidan menyadari jika Nandita sedang memandang barang kesayangannya itu.


"Ada apa?" tanya Zidan sambil menyembunyikan kain itu di bawah bantal.


"Nggak ada apa-apa. Kenapa disembunyiin?" tanya Nandita penasaran.


"Itu milik mamiku, nggak ada yang boleh lihat selain aku!" jawab Zidan sedikit ketus. Seperti tak tak menyukai seseorang menatap kain itu.


"Baiklah kalau kamu nggak suka aku melihatnya. Tapi aku yakin, mamimu pasti sangat bangga memiliki putra sebaik dan sesayang kamu," ucap Nandita lembut.


"Aku yang bilang. Pasti mamimu bangga padamu Zidan. Aku yakin itu. Aku aja bangga sama kamu. Kamu kan baik hati, Zidan," jawab Nandita dengan wajah semringah. Namun tidak dengan Zidan. Pria ini terlihat sangar. Melirik tak suka dengan sekelilingnya.


"Kamu kenapa Zidan? Apakah terjadi sesuatu padamu? Apakah ada yang menyakitimu?" tanya Nandita lembut.


Diraihnya tangan pria tampan ini, seakan berusaha memberikan kekuatan pada Zidan. Menyakinkan Zidan bahwa dia memang baik.


"Apakah aku baik?" tanya Zidan mulai mau menunjukkan ketidakpercayaan nya pada apa yang orang lain nilai tentangnya. Mengingat orang dekatnya saja menilainya sangat buruk.


"Tentu saja kamu baik. Kamu pria tampan yang berhati mulia Zidan. Siapapun yang memilikimu pasti bangga!" jawab Nandita sungguh-sungguh. Sesuai dengan penilaiannya terhadap Zidan selama ini.


"Aku jahat, Nandita. Aku pernah memperkosamu, bukan?" jawab Zidan sembari tersenyum sinis.


"Ya kalau soal itu kamu memang jahat! Namun terlepas dari itu, kamu pria baik. Pria baik yang berhati mulia. Percayalah! Jika tidak, mana mungkin kamu mau memberikan hampir separo hartamu untuk membiayai sekolah anak-anak yang kurang mampu, " jawab Nandita mencoba membuat Zidan merasa bahwa dia tak seburuk yang ada di dalam pikirannya sendiri.


"Aku hanya tak ingin anak itu bernasib sama sepertiku, Ta!" jawab Zidan, suaranya terdengar lemah. Seperti menahan sesuatu.


"Apa maksudmu Zidan? Apakah kamu pernah mengalami sesuatu yang menyakitkan? Maaf jika aku lancang?" tanya Nandita, sedikit gugup. Terlebih ketika Zidan menatapnya. Meski tatapan itu tidak lama, tetap saja, tatapan itu sukses membuatnya gemetar.


"Maaf, Zidan. Maafkan aku. Percayalah! Apapun yang kamu lalui, itu semua adalah kehendak Tuhan. Yakinlah bahwa kamu adalah pria yang baik dan berhati baik!" ucap Nandita kembali berusaha membangkitkan kepercayaan diri Zidan.


Zidan menatap sekilas wajah ayu Nandita, lalu ia pun berkata, "Kamu salah Nandita. Aku adalah anak buruk serta pembawa sial." Zidan menatap kosong ke arah lantai di mana kakinya berpijak. Berusaha memberikan signal pada Nandita bahwa dia menderita selama ini. Selalu terpuruk karena merasa buruk dan hanya merepotkan orang lain.


"Tidak Zidan. Jangan bicara seperti itu. Kamu adalah pria berhati baik yang luar biasa. Siapa yang bilang kamu buruk? Heemm?" tanya Nandita, ditatapnya wajah rupawan Zidan. Tergambar jelas bahwa ada banyak kekhawatiran yang tergambar di sana.


"Mami yang bilang. Mami sangat membenciku, Ta," jawab Zidan mulai mau terbuka dengan masa lalunya.


"Mami? Kenapa dia bilang begitu?" Nandita semakin heran dengan apa yang terjadi pada Zidan.


"Karena wajahku sangat mirip dengan papi. Mami sangat membenci papi, Bahkan mami selalu ingin aku mati." Zidan kembali menghela napas berat. Berusaha menyembunyikan air mata yang coba ia tahan.


Nandita semakin tidak mengerti. Mengapa ibunya Zidan, bersikap seperti itu? Mana boleh, benci sama suami, anaknya pun ikut ia benci.


Ingin merasanya Nandita bertanya. Namun kembali lagi, ia tak ingin terlalu mendesak. Nandita takut jika pertanyaannya malah akan membuka trauma pria ini. Lalu, Nandita pun memutuskan untuk menunggu. Menunggu Zidan mau terbuka dan menceritakan sendiri apa yang sebenarnya terjadi.


Bersambung...


Terima kasih atas like komen dan Votenya...