My Different Wife

My Different Wife
Bersama Langit



"TIDAK!" tolak Langit mentah mentah.


Ryan tertawa geli dan kemudian mengacak rambut Langit, "Baiklah. Intinya kau harus menepati janjimu untuk menyelesaikan misiku."


Rian kembali menegakkan badannya, "Kau tau, aku pun sebenarnya sangat bosan dengan dunia perhantuan ini. Tak ada hal lain yang ku kerjakan selain mengganggu orang dan juga bergentayangan. Tak ada arah dan ujungnya.


Aku ingin segera masalahku selesai dan pergi dengan tentram." Langit duduk sambil mendengarkan Ryan berbicara.


"Kau tau, ini terasa begitu menyebalkan," Rian menghela nafas berat sebelum dia kembali melanjutkan kalimatnya, "Kadang aku merasa ketakutan ntah kenapa, kadang aku marah tiba-tiba dan setelahnya aku kembali teringat akan mantanku dengan hati yang pilu."


"Tunggu," potong Langit, "Apa maksudmu dengan pilu? Bukankah kau yang memutuskan dia? Kenapa kau yang sedih?"


Rian menggeleng, "Aku tak tau. Selain aku tak mengingat bagaimana caranya aku mati, aku pun tak mengingat hal-hal mendasar dari hidupku seperti orang tua atau pun tempat tinggal. Aku hanya mengingat rasa sakit, takut dan mantanku saja."


Langit kembali berfikir, ini sangat aneh.


"Lalu, kenapa kau menyuruhku untuk menyelesaikan misimu padahal kau sendiri juga tak tau. Gimana sih?" Tanya Langit masih bingung.


Lagi-lagi Rian menggeleng, "Aku juga tak tau. Makanya aku memintamu untuk mencari tau dari mantanku itu."


"Heh, ada yang mau aku tanya juga. Kau tau kan kalau mantanmu itu satu sekolah dengan ku? Kenapa tidak dari-"


"Tidak!" Potong Rian, "Aku baru mengetahuinya beberapa hari lalu. Ntah kenapa dia muncul sekarang. Sejak dari itu aku terus mengikuti dirinya tapi..."


"Tapi apa?"


"Aku merasa begitu gemetar berada di dekatnya. Rasa sesak ingin menangis dan juga amarah terus bergejolak di dadaku. Makanya aku selalu memantaunya dari jauh, itu terasa begitu menyakitkan."


Langit dan Rian saling berpandangan dengan pikiran masing masing,


"Aku rasa aku punya ide!" Pendapat Rian.


"Apa?"


"Bagaimana kalau kau berusaha menjadi temannya, nah setelah itu kau lebih leluasa-"


"Wait. Gak! Gak akan. Aku gak bisa berteman dengan siapapun, kau tau itu kan?"


Rian menghembuskan nafasnya, "Hanya itu cara terbaik untuk mengkorek habis apa yang terjadi. Ku mohon..."


Langit ingin kembali membantah. Tapi jika di pikirkan itu ada benarnya, takutnya kalau dia malah makin lama tak mendapatkan clue juga dari mantan Rian, lelaki ini akan semakin terus menempel padanya.


"Baiklah." Langit memutuskan untuk menyetujui lelaki itu.


Rian tersenyum, "Baiklah! Terimakasih!"


Lelaki itu menghilang.


Langit bangkit berdiri dan kemudian kembali berjalan ke dalam sekolahnya. Dan lihatlah, jam olahraga yang tengah berlangsung tadi ternyata telah selesai.


Langit pun kembali ke kelasnya dengan santai.


Langit melihat ke arah Angkasa yang samasekali tak menoleh ke arahnya. Lelaki itu tengah berkutat dengan bukunya, ya sudahlah terserah.


Langit duduk di sebelahnya dan mulai membuka buku.


Jam pelajaran pun di mulai namun di tengah pembelajaran bel sekolah berbunyi, di jelaskan bahwa ada rapat untuk para guru sehingga murid di perbolehkan untuk pulang lebih cepat. Sebenarnya Langit ingin menelpon ayahnya untuk menjemputnya atau mungkin ibunya, tapi Langit urungkan karena dia akan menggunakan waktu luang ini untuk mendekatkan dirinya pada kakak kelasnya alias mantan Rian itu.


Baru saja keluar kelas tangan Langit di tahan oleh seseorang, yang tak lain dan tak bukan adalah Angga, "Langit kita perlu bicara."


Wajah Angga terlihat begitu serius beda dengan biasanya. Langit menggeleng, "Aku tak bisa mendengarkanmu sekarang. Aku ada urusan penting."


Angga kembali menarik tangan Langit, lelaki itu melihat Clara dengan cemas dan marah, "Kau mau apa dan kemana, huh? Jangan aneh-aneh. Kalau memang kau mau pergi aku saja yang mengantarnya sekarang juga. Aku harus memastikan kau sampai di rumah dengan keadaan baik."


Langit merasa risih dengan perilaku Angga, dia ini kenapa? Harus banget kepoin orang lain. "Sudah aku katakan aku ada urusan penting dan itu tak ada sangkut pautnya dengan mu. Jadi kau sebaiknya pergi sana." Tekan Langit sambil menepis tangan Angga.


Angga diam menatap kepergian Langit.


Dan di saat itu dia berjumpa dengan kakak yang dia maksud. Kakak itu tengah mengobrol dengan temannya, tapi... Terlihat bukan obrolan yang baik.


Kakak itu di bentak dan kemudian di tarik masuk ke dalam kamar mandi oleh teman perempuannya.


Langit memicingkan matanya, kenapa dia tak membalas? Kakak itu terlihat pasrah.


Langit mengikuti mereka, apa yang akan terjadi setelahnya?


Sesampainya di kamar mandi terdengar suara siraman air dan kemudian suara tertawa.


Langit pun masuk dan tampaklah kakak itu tengah di bully oleh beberapa temannya itu. "Apa yang kalian lakukan?" Tanya Langit dengan tatapan tajam.


Mereka memandang rendah Langit dan segera mengerumuninya, "Heh anak kecil. Kau siapa huh? Sedang cari masalah?"


Langit menepis tangan salah satu dari mereka yang mencoba merangkul Langit, "Jangan sentuh aku dengan tangan kotor kalian. Menjijikan.


Mereka membelalakkan mata, "Berani sekali kau!" Bentak sang kakak tinggal itu.


Langit memutar bola matanya malas, "Kau pikir kau hebat?"


"Tentu saja kamu hebat!" Tentang mereka.


Langit berdecih dan tersenyum miring, "Hebat? Dari mana?"


Reyu salah satu teman Rian, yang sedari tadi sudah sangat geram pun menjambak rambut Langit membuat Langit mundur ke belakang, "Heh! Dasar kau anak tak tau diri!"


Teman yang satunya membantu Reyu untuk menahan tangan Langit. Mereka mencengkram tangan Langit hingga membuat tangannya terpelintir ngilu.


Bukk!!


Satu pukulan mendarat di bahu Reyu membuat semua orang yang tadinya mau membully Langit beralih melihat sang tokoh heroik itu.


"Jangan ganggu dia." Sorot mata lelaki itu cukup mengintimidasi mereka hingga mereka menundukkan kepala mereka. Mereka dengan cepat mengambil tas mereka dan pergi.


Langit melihat ke arah Angga yang baru saja menolongnya, "Apa yang kau lakukan di sini?"


Angga tersenyum jahil dan kemudian mencubit pipi Langit, "Menyelamatkan calon istri aku."


Langit menaikkan salah satu alisnya, "Siapa?"


Angga terkekeh dan mengelus pipi Langit. "Ya kamu lah, masa Dugong."


Langit memutar bola matanya, dasar lelaki playboy, sudah berapa banyak wanita dia bodohi dengan kata-kata gombal murahan ini?


Langit membantu korban tersebut untuk bangkit berdiri dan duduk di sebelahnya, "Kakak ada masalah apa sama mereka?"


Wanita itu menggelengkan kepalanya saat melihat Langit. "Tak ada masalah apapun di sini. Mereka berbicara sambil berjalan keluar.


Langit terus mengikuti Angkasa dan kakak yang di ajarkan dari kk.


"TIDAK!" tolak Langit mentah mentah.


Ryan tertawa geli dan kemudian mengacak rambut Langit, "Baiklah. Intinya kau harus menepati janjimu untuk menyelesaikan misiku."


Rian kembali menegakkan badannya, "Kau tau, aku pun sebenarnya sangat bosan dengan dunia perhantuan ini. Tak ada hal lain yang ku kerjakan selain mengganggu orang dan juga bergentayangan. Tak ada arah dan ujungnya.


Aku ingin segera masalahku selesai dan pergi dengan tentram." Langit duduk sambil mendengarkan Ryan berbicara.


"Kau tau, ini terasa begitu menyebalkan." Rian menghela nafas berat sebelum dia kembali melanjutkan kalimatnya, "Kadang aku merasa ketakutan ntah kenapa, kadang aku marah tiba tiba dan setelahnya aku kembali teringat akan mantanku dengan hati yang pilu."


"Tunggu," potong Langit, "Apa maksudmu dengan pilu? Bukankah kau yang memutuskan dia? Kenapa kau yang sedih?"


Rian menggeleng, "Aku tak tau. Selain aku tak mengingat bagaimana caranya aku mati, aku pun tak mengingat hal hal mendasar dari hidupku seperti orang tua atau pun tempat tinggal. Aku hanya mengingat rasa sakit, takut dan mantanku saja."


Langit kembali berfikir, ini sangat aneh.