
Angkasa masuk ke dalam kelas sambil mencanting tasanya di salah satu bahunya, satu hal yang pasti Banu Angkasa adalah, jika anak aneh alias Langit kembali datang mendekatinya dengan tingkah aneh maka Angkasa takkan segan-segan langsung mencampakkan tas ini di tepat di depan wajahnya. Biar rasakan dia!
Angkasa sudah siap siap akan melakukan aksinya jika di perlukan. Saat Angkasa mulai masuk ke dalam kelas tak ada seorang pun, yang terlihat hanyalah tas Langit tanpa manusianya di sana.
Angkasa tak memperdulikan itu karena dia rasa itu bukan urusannya, dan dia pun kembali melangkahkan kaki kembali memasuki kelas dengan santai.
Angkasa mengambil buku matematika karena memang hari ini mata pelajaran pertama adalah matematika.
Dia mulai membaca dan sesekali mengerjakan tugas yang akan dipelajari minggu depan ini. Karena bab bab sebelumnya sudah dia baca dan segala latihan dan soalnya sudah dia kerjakan pula, so.. dia lanjutkan sajalah ke bab berikutnya dari pada menunggu, lagi pula itu akan memperlancar Angkasa menjawab pertanyaan untuk minggu depannya bukan? Dan dia akan kembali menjadi siswa yang paling berprestasi lagi nantinya. Terutama bisa mengalahkan Langit yang menurutnya adalah seorang yang sangat caper. Kedudukannya bisa jatuh jika tak melakukan kerja yang lebih keras di bandingkan dengan anak sialan itu.
Brak!
Pintu di tendang dengan sangat kencang membuat Angkasa spontan menoleh dan ingin marah sekarang juga karena ketidak sopannya.
Menyebalkan sekali saat melihat si caper plus pendek itu ternyata yang membuat pintu itu terbanting, "Heh! Kau! Heh?" Emosinya yang memuncak tadi hilang seketika saat melihat tampilan Langit si caper. Lihatlah bagaimana dia berpakaian, lengannya yang di gulung ke atas di tambah dengan kaki nyeker terlihat segitu sangat gembel bukan?
Langit mengalihkan pandangannya dari Angkasa berjalan masuk ke dalam kelas dan duduk di sebelah Angkasa seperti tak terjadi hal apapun.
Ni orang aneh banget memang dari kemarin, kayaknya otaknya memang rada korslet kali ya? Pikir Angkasa menyelidik Langit.
Langit tampak santai merapikan bajunya dan kemudian mengambil sepatu dan kaus kakinya dari dalam tas lalu segera dia pakai.
Dia baru saja menyelesaikan misinya untuk mengintai mantan si setan remaja SMA itu. Lelaki itu bilang dia tak mengingat bagaimana dia meninggal dan yang dia paling ingat adalah terakhir kali dia jalan bersama mantannya yang saat itu tingkahnya sangat mencurigakan.
Langit kembali mengambil sesuatu lagi dalam tasnya, dia mengambil buku dan kemudian bersandar sambil menulis dan membaca bukunya.
Hari ini Langit menulis segala kegiatannya, apa yang dia dapat dan bagaimana dia melakukan aksinya. Yang menurutnya terlihat keren, ini adalah hal pertama yang dia lakukan, biasanya kegiatan sehari hari yang dia lakukan adalah belajar.
Untuk sekarang mungkin tak masalah karena dia sudah belajar buku paketnya sampai habis, namun buku lainnya seperti anatomi dan mengenai cara mendiagnosis belum dia pelajari untuk mata kuliahnya kelak. Karena Langit ingin masuk jurusan kedokteran jadi dia harus mempelajari sedini mungkin mata pelajaran yang penting penting di itu.
Langit melihat ke arah Angkasa singkat, lelaki itu menyerngitkan dahinya melihat kelakuan Langit yang dia yakini pasti memang terlihat aneh sekarang, tapi ya terserah Angkasa mau anggab apa. Intinya dia bisa lepas dari gangguan ini jadi dia tak perlu harus merebut hati Angkasa untuk menjadi pelindungnya bukan?
"Kenapa? Aku mulai menyukaiku?" Tanya Langit tanpa melihat ke arah Angkasa sedikit menggoda Angkasa.
"Dih. Gila ya?" Sambung Angkasa seketika itu juga, "Pede bener."
"Tuh dari tadi ngeliatin."
Angkasa berdecih, "Cih, sikap kau itu aneh. Siapapun pun akan melihat mu seperti ini karena aneh."
Langit malah tersenyum miring tanpa menjawab Angkasa. Ini kah yang di katakan anak yang terpintar di kelas? Pikirannya terlalu kekanak kanakan, baperan dan menurut Langit sangat lebay.
Angkasa menggelengkan kepala, gak waras memang.
Angkasa kembali pada bukunya dan mengerjakan soal latihan sambil menunggu jam masuk kelas. Dia sangat ingin ke perpus tapi perpustakaan sedang tahap renovasi jadi masih di tutup, ck, itu sangat mengganggu.
Menurut pikiran Langit ada kemungkinan kalau kakak itu balas dendam dengan melakukan pembunuhan berencana karena sakit hati di putuskan Rian.
Ada yang janggal di sini dari tadi. Rian sudah lama menghantui Langit bahkan sejak dia kecil, lelaki itu sudah memakai seragam SMA. Langit juga sudah menjelaskan pada lelaki itu bahwa kemungkinan mantannya itu sudah bekerja atau melanjutkan kuliahnya S2 jika di hitung dari waktu.
Rian sebenarnya juga membenarkan apa yang di katakan Langit, tapi remaja itu sangat mirip dengan mantannya, dari perilakunya, cara bicaranya dan bahkan tutur katanya. Sangat mirip dan super duper mirip. Dia yakin dia tak salah orang.
Sebenarnya ini sangat tidak mungkin terjadi tapi Langit kembali berfikir ulang, ada kemungkinan remaja itu memiliki hubungan dengan mantan Rian bukan? Ntah saudara ataupun apa karena wajah yang sangat mirip.
Ya, setelah ini Langit akan kembali mengintai kakak itu. Oh tidak, lebih baik kita lakukan saja pendekatan dengan kakak itu agar mendapatkan informasi yang lebih lengkap dan akurat.
Langit menutup bukunya.
Deg!
Langit terkejut melihat Rian sudah di hadapannya dengan senyuman bodoh, "Hai... Makasih ya udah bantu aku mengintai. Kau adalah anak yang manis." Kata Rian memuji Langit.
Sebenarnya dari dulu Rian teramat sangat gemas melihat Langit. Anak kecil berpipi tembam dan rambut sebahu ini terlihat seperti adik kecil yang menggemaskan, itulah sebabnya dia selalu menganggu Langit terutama karena Langit bisa melihatnya. Dulu rencananya sih dia ingin menjadi teman Langit, tapi karena sikap Langit yang cetus, duka merepet dan galak membuat Rian jadi beralih haluan menjadi ingin terus menganggunya saja.
Langit memutar bola matanya malas dan tak sengaja melihat Angkasa yang melihatnya aneh, bagaimana tidak? Langit tiba terkejut tak jelas.
Langit bangkit berdiri dan keluar kelas di ikuti oleh Rian.
Di luar Rian langsung memeluk Langit, "Makasih... Nanti kita intai dia lagi ya?" Kata Rian girang.
Langit melapaskan pelukan sialan Rian, "Jangan sok asik!"
Rian memutar bola matanya. Dia heran dengan pikiran Langit, bukankah dia ini adalah lelaki tampan? Dulu saja banyak wanita yang mengincarnya dan bahkan rela memberikan apapun padanya untuk memilikinya. Masakan Langit bahkan tak mau di peluk olehnya?
Rian kembali memasang wajah menyeramkan dan menakutkan seperti saat dia meninggal dulu.
Set!
Dia mendekatkan wajahnya pada Langit menakutinya. Langit mundur dan menutup matanya kemudian membukanya, sedikit takut memang tapi kemudian dia memiliki keberanian lain, "Jika kau melakukan itu lagi aku akan berhenti membantumu!"
Rian sedikit mundur dan kembali berdiri tegak, mengubah wajahnya normal, "Gak seru ancamannya."
"Biarin."
"Intinya jangan pernah mengangguku saat belajar, khusus saat mengintai saja kau muncul, saat ku panggil! Paham?" Jelas Langit.
Rian menghembuskan nafasnya malas dan mengangguk, "Baiklah."