
Victor menarik bibirnya ke samping kesal,
"Ya udah pergi sana. Gak berguna tau gak." Keluh Melodi sambil memegang perutnya.
"Hmm... Sakit..." Rengek Melodi.
"Dasar cengeng!"
"Sakit banget..." Tangis Melodi tak berdaya.
Victor bangkit berdiri dan mengambil minuman Melodi.
"Nih."
Melodi segera mengambil minuman itu dan menghabiskannya.
"Masih sakit..."
Victor mengusap wajahnya, "Jadi aku harus apa?"
Melodi juga gak tau apa gunanya Victor di sini. "Ya udah. Gak usah ngapain ngapain lagi. Kau bisa pulang."
Victor mengangguk. "Ya udah aku pulang."
Victor bangkit berdiri dan meninggalkan Melodi. Namun saat di depan rumah Melodi,
DUAR..
Petir dan kilat menyambar di langit. Dan kemudian hujan pun turun ke bumi dengan deras. Victor berdecak, kalau tetap di lanjutkan juga pasti bahaya.
Victor kembali masuk ke dalam. "Mel. Ada hujan petir di luar. Aku tunggu sampai hujannya reda, ya?"
Melodi tak menjawab dan keberadaannya pun entah di mana.
Victor berjalan ke arah sofa dan melihat Melodi tengah meringkuk sambil menahan sakit perutnya. Victor duduk di sebelah Melodi, "Sakit banget apa?"
Melodi mengangguk. "Tapi bentar lagi hilang kok. Udah minum jamu biasanya bakalan ampuh."
Victor mengangguk.
Beberapa saat kemudian Melodi menegakkan badannya, "Hujan masih deras. Gimana dengan mu? Aku mau nutup rumah sekarang."
Victor menggaruk kepalanya, dia juga mau pulang tapi cuaca sangat tak bersahabat, "Kalau aku-"
"Gak bisa nginap di sini. Aku gak bisa terima tamu laki laki sampai larut malam." Ucap Melodi memutuskan kalimat Victor.
"Aku juga ngak mau kali nginap di sini. Cuma mau gimana lagi? Ini terpaksa. Nanti kalau aku kecelakaan gimana? Kalau aku mati gimana?" Lontar Victor. Dia tak terima jika di usir dalam keadaan seperti ini.
Melodi menghembuskan nafas dan menunjuk luar. "Kau tidur aja di mobil mu. Dua orang berlainan jenis gak bisa dalam satu rumah. Itu lebih bahaya. Kalau nanti mau ke kamar mandi ke kamar mandi yang ada di luar aja. Dekat gudang. Selesai kan?"
Victor membelalakkan matanya, "Kau sanggup melihatku tidur di mobil? Setaga itu kau Melodi?"
Melodi mengangguk, "Tentu. Cepat cepat keluar sana. Aku mau tutup semuanya." Pungkas Melodi sambil menepuk pundak Victor.
Victor mengusap dadanya menahan emosi. Bisa bisanya dia di perlakukan serendah ini!
"Baiklah aku akan tidur di luar! Dasar tak punya hati!"
Melodi tak perduli dam tetap menyuruh Victor keluar, "Udah sana."
Victor keluar rumah dengan menggerutu dan masuk ke dalam mobilnya. Sedang Melodi segera mengamankan semuanya, Melodi menutup pagar, pintu dan jendela.
"Tega sekali! Aku akan membalasnya nanti! Lihat saja nanti!" Victor bermonolog dengan sangat emosi.
Melodi merebahkan dirinya di tempat tidur. Bukannya Melodi jahat, tapi ini demi menjaga diri juga dari hal hal negatif yang mungkin saja terjadi.
Melodi pun menutup matanya.
***
Keesokan paginya Victor terbangun dan merenggangkan badannya yang rasanya sangat sakit dan pegal. Dia tertidur dengan posisi yang sangat tak nyaman di mobil. Ini semua karena Melodi!
Melodi mengetuk dengan siku tangannya. Victor membuka pintunya, "Apa?"
"Makan dulu. Ini udah aku sediakan."
Victor memutar bola matanya, "Gak. Masakan mu gak enak pasti. Aku gak selera. Geser geser, aku mau pulang sekarang aja. Bukain pagarnya." Usir Victor.
Melodi menghembuskan nafas, "Maaf soal kemarin. Tapi itu sudah adat bukan? Jadi wajar aku melakukan itu."
Victor memicingkan matanya pada Melodi, "Kaya iya aja. Gak usah sok polos. Kalau Andreas aja pasti kau langsung bolehkah dia masuk? Ya kan. Hu..." Cibir Victor.
Melodi memutar bola matanya. "Aku gak pernah masukin cowok ke dalam rumah lebih dari 2 jam. Sekalipun itu pacarku."
"Masa? Pasti bohong."
"Kalau gak percaya bahwa ya tanya aja ke dia." Jelas Melodi.
Victor terkekeh, "Kuno! Ketinggalan jaman tau ngak. Haha. Pasti aku duga kau gak pernah ciuman."
Melodi menatap datar Victor, "Kalau iya kenapa? Dengar ya, bibirku tak semurahan bibirmu." Jelas Melodi seketika membuat Victor membelalakkan matanya kesal.
Melodi menarik tangan Victor meletakkan piring yang berisi makanan itu di atas tangannya, "Makan jangan banyak bicara. Setelah itu kalau kau mau pulang ya silahkan." Putus Melodi dan segera masuk ke dalam rumah.
Victor berdecak. Wanita yang di hadapinya ini sangat keras kepala. Bagaimana pun dia harus di beri pelajaran.
"Sabar Victor. Tinggal beberapa hari lagi kau akan menang dan menjadikan dia budakmu seumur hidup." Monolog Victor.
Victor melihat ke arah makanan yang di berikan Melodi, "Cih. Dia pikir makanannya ini hebat apa? Terlihat sangat tak berkelas." Hina Victor melihat nasi putih yang berlaukkan ikan dencis sambal dan tumis kangkung.
Karena penasaran Victor pun mencoba makanan rumahan ini dengan tak minat.
Dalam suapan pertama Victor terdiam. Di luar dugaan, rasanya enak. Victor menggeleng, "Gak. Aku gak suka makanan kampung gini." Victor hendak membuang isi piring ini. Tapi tangannya tertahan saat perutnya berbunyi.
"Kalau di buang sayang. Lagi lapar juga. Gas lah." Victor pun menghabiskan makanan itu dan setelah selesai Victor masuk ke dalam rumah hendak mengembalikan piring. Dan terlihat Melodi tengah berkutat di dapur sedang mencuci piring.
Victor berdiri di sebelah Melodi, "Ini."
Melodi menunjuk dengan dagunya ke arah sebelahnya tempat piring kotor yang akan di cucinya.
Victor meletakkan piring di sana.
"Kau bukannya sakit? Itu kenapa masih bisa kerja? Bohongan sakit ya?" Tuduh Victor.
Melodi memutar bola matanya, "Aku asam gugutnya cuma hari pertamanya. Selebihnya tidak."
Victor mengangguk, "Cewe memang aneh."
"Iya. Termaksud Venusmu." Sindir Melodi sengaja menyadarkan Victor.
Victor memicingkan matanya, "Ii... Khusus Venus tidak. Dia cuma satu satunya yang gak aneh." Victor membanggakan Venus.
"Semua wanita itu punya keunikannya masing masing. Itu bukan berarti aneh. Jadi jangan suka menjudge wanita." Kata Melodi sambil terus mencuci piring dan meletakkannya di rak piring.
"Sama seperti pria. Punya juga keunikannya. Ada yang sangat humble, ada yang susah menerima orang baru, ada juga yang bahkan membenci setiap orang yang dia jumpai. Semua orang bermacam.
Terutama kalau soal cinta. Ada yang mudah mencintai dan melupakan, ada yang sulit mencintai dan melupakan ada juga yang sulit membedakan apa itu mencintai dan obsesi.... Sama lah sepertimu." Jelas Melodi.
Melodi yang telah selesai mencuci piring dan mengeringkan tangannya, Melodi menghadap Victor dan menatapnya lekat, "Kau tepat pada orang yang tepat. Dan kau akan menjumpai kebahagiaan di sana. Jangan memaksa, semua yang terjadi karena terpaksa itu akan menyiksa."
Mata Victor terkunci pada Melodi. Setiap kalimat dari mulutnya terasa sangat menyakiti dan menusuknya.
Itulah sebabnya Victor sangat membenci Melodi.
Melodi memutuskan pandangannya dari Victor, "Kau bilang mau pulang bukan? Kenapa masih di sini?"
Victor membuang wajahnya, "Itu karena kau berbicara terlalu banyak! Dasar menyusahkan!"
Victor pergi meninggalkan Melodi dengan wajah penuh kerutan, "Aku akan membalasmu. Lihat saja."