
"Halo Mel. Di mana?" Tanya Victor.
Melodi melihat sekitar sebelum menjawab, "Masih di rumah sakit, kenapa?"
"Hari ini jadi kan ke bioskop?" Victor mengingatkan.
Melodi melihat ke arah agendanya, tidak ada kegiatan lain setelah pulang nanti. "Iya, jam berapa?"
"Jam 6 saja, sekaligus makan malam," Saran Victor.
Melodi mengangguk, "Boleh."
Victor mengangguk, "Nanti malam aku jemput. Jangan lama."
"Hm."
Victor mematikan sambungan teleponnya. Sebenarnya mood Victor sedang tak bersemangat. Rasanya dia malas saja keluar keluar kalau tidak masalah pekerjaan, hanya saja dia sudah janji ke Melodi untuk menonton bukan kemarin. Hitung hitung rasa terimakasih.
Victor kembali melanjutkan pekerjaannya.
Lama berselang waktu kerja sudah selesai. Victor bangkit berdiri dari tempatnya dan membawa tas nya segera berjalan ke parkiran mobil, dia masuk dan mengendarai mobilnya ke rumahnya untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum ke rumah Melodi.
Melodi berdiri di depan cermin kamarnya yang memantulkan penampilan dirinya. Dress casual berwarna oranye gelap terlihat simpel dengan kalung emas berbentuk matahari kecil yang menggantung di sana dan menggunakan sling bag berwana krem membuat Melodi terlihat simple dan elegan.
Setelah mempersiapkan dirinya Melodi kembali duduk menunggu kedatangan Victor,
Tak lama menunggu hp Melodi bergetar, wanita itu melihat ke arah hpnya dan tertera nama Victor di sana, "Aku udah di luar," kata lelaki itu singkat.
Melodi mengangguk, "Hm," Melodi segera keluar kamarnya dan menjumpai Victor.
"Hai," sapa Victor. "Lama nunggu?" Tanya Victor sekedar basa basi.
Melodi menggeleng, "Gak kok."
Victor tersenyum singkat, "Baiklah, ayo masuk," Victor mempersilahkan Melodi masuk ke dalam mobilnya. Melodi pun masuk dan mereka mulai perjalanan mereka.
Dalam perjalanan hanya di warnai dengan kekosongan, diam tanpa bicara. Bagi Melodi sikap diam itu biasa olehnya, tapi Victor? Ini suatu hal yang jarang terjadi.
Victor tak banyak berfikir. Dia hanya ingin untuk menyelesaikan janjinya pada Melodi dan setelah itu pulang dan kemudian kembali mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan di rumahnya seperti mengecek laporan perusahaannya atau hal lain yang lebih berguna.
Hati Victor sungguh sudah terkunci dan beku. Dia merasa suatu hal itu akan kelam pada masanya, ya.. seperti yang dia rasakan sekarang.
Setelah sampai di bioskop, Melodi dan Victor pun menonton film setelah membeli tiketnya, itu film genre komedi. Melodi lumayan terhibur dengan pemutaran filmnya.
Melodi terkekeh singkat saat adegan yang terlihat lucu, kemudian Melodi menoleh ke arah Victor. Dia hanya diam bahkan terlihat seperti melamun.
"Vic?" Panggil Melodi.
Victor menoleh ke arahnya dan menaikkan kedua alisnya, "Hm? Kenapa?"
Melodi yakin ini pasti efek dari kejadian beberapa hari yang lalu terhadap Victor. Dia jadi pemurung, "Gak, bukan apa apa." Melodi kembali melihat lurus ke layar lebar di hadapannya.
Victor melihat ke arah Melodi bingung, "Serius Mel, tadi kau mau bilang apa?"
Melodi menggeleng, "Gak jadi, aku udah lupa."
Victor menghela nafas, "Terserah."
Setelah menonton Victor dan Melodi keluar ruangan. Melodi haid ikut diam dan tampak berfikir, "Mikirin apa?" Tanya Victor karena jadi penasaran.
Melodi mengedikkan bahunya acuh, "Bukan apa apa. Hanya kepikiran pekerjaan saja."
Victor mengangguk, Melodi memang Worker Holik. Jadi wajar saja begitu.
"Hm,"
"Sebelum pulang kita makan dulu ya," kata Victor pada Melodi.
Melodi yang tadinya diam tiba tiba tersenyum miring singkat. Victor mengerutkan keningnya, "Heh! Kemasukan ya?"
Dia bingung, pasalnya yang melamun tadi kan dia, kenapa setannya malah ke Melodi?
Melodi memutar bola matanya malas, "Siapa yang kesurupan? Jangan aneh aneh."
"T-tadi kau senyum tau," Victor menunjuk bibir Melodi.
"Aku mikirin hal lucu, teringat film tadi," jawab Melodi singkat.
Victor mengusap dadanya, hampir saja jantungnya copot. Itu normal bukan, bayangkan saja jika kalian punya teman pendiam dan tiba tiba tersenyum. Kan horor..
Melodi menganguk, "Ya udah cari tempat makannya saat jalan pulang saja," saran Melodi.
Victor mengangguk, "Ya udah terserah."
Mereka pun menuju ke arah parkiran dan masuk ke dalam mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang keluar dari tempatnya tadi dan mulai melintas di jalan raya besar.
Lampu jalan dan juga cahaya di beberapa sudut kota terlihat indah di mata Melodi. Tidak terlalu ramai jalannya memuat Melodi semakin menyukai malam ini.
"Kita mau makan dimana?" Tanya Victor membuat dia tersadar. Melodi menoleh ke luar dan melihat ada jualan ayam bakar di sana.
Victor mengerutkan keningnya, "Di situ? Gak akan enak. Pilih tempat lain saja."
Melodi melipat kedua tangannya dan menatap kearah Victor kesal, "Enak di sana. Aku pernah makan di sana juga."
"Gak higenis."
"Astaga lebay banget, bersih tau mereka masaknya. Udah makan di sana aja," paksa Melodi.
Victor mengembuskan napas panjang, "Mel, udah malam, jangan cari masalah. Aku aja yang pilih tempat makannya." Bantah Victor.
"Ih.. aku mau makan di sana. Pokoknya di sana, kalau gak di sana aku gak akan mau makan," Melodi berkeras.
"Keras kepala banget."
"Kalau ngak keras gak kepala namanya," sambung Melodi lagi tak terbantahkan.
Victor terpaksa mengalah demi menyelesaikan malam yang panjang ini.
Victor kembali mengarahkan mobilnya berbalik arah menuju jualan ayam bakar kaki lima itu dan memarkirkan mobilnya tak jauh dari situ.
Victor menghentikan mobilnya dan melihat ke arah Melodi yang tersenyum menang.
"Puas?" Kesal Victor.
Melodi mengangguk, "Puas."
Victor keluar mobil begitu pun Melodi.
Melodi segera mengambil tempat duduk yang kosong dengan santai sedangkan Victor berjalan dengan perlahan dan menatap jijik tempat terbuka ini.
Melodi menarik tangan Victor untuk segera duduk membuat lelaki itu duduk dengan terpaksa, "Kok mau banget makan di sini. Ck,"
Melodi terkekeh, "Makanya, sekali kali makan di sini biar tau nikmatnya."
Victor menggeleng, "Ini pertama dan terakhir. Ck. Menjijikan. Kau aja deh yang makan, aku gak akan mesan apa apa."
Melodi memutar bola matanya, kemudian memanggil pelayannya, "Pak pesan dua!"
Sang pelayan mengangguk dan segera memberitahukan penjual berapa pesanan yang di pesan tadi.
"Dua? Siapa satu lagi? Aku gak makan." Bantah Victor.
"Itu untuk aku lah dua duanya."
Victor menggeleng tak percaya, "Badanmu yang kecil begini ternyata rakus," cela Victor.
Melodi hanya mengacuhkan Victor.
Tak lama menunggu pesan pun datang, Melodi tersenyum puas mencium aroma sedap dari makanan di hadapannya.
Victor geli sendiri melihat Melodi. "Mel, kau kan dokter. Masa makan makanan begini, gak etis banget."
"Terus, masalah? Kalau gak mau makan ya diem aja. No comment," jawab Melodi membuat Victor geleng geleng.
Melodi menutup matanya dan berdoa sebelum makan.
Victor yang memperhatikan Melodi terkadang salut juga. Dia pikir wanita sepertinya seorang yang religius juga.
"Selamat makan," Melodi mulai mengangkat sendoknya dan menyulangkan sesuap ke dalam mulutnya.
Melodi menutup matanya dan tersenyum menikmati makan malam yang nikmat ini. Melodi bukan orang yang munafik dia sangat menyukai makanan terutama berbau daging dagingan.
Dia dulu pernah merasakan susah perkonomian, bahkan makan sesuap nasi pun jarang di nikmatinya dulu saat di panti karena serba kekurangan. Oleh sebab itu dia sangat bahagia setiap kali dia bisa merasakan suatu makanan, apalagi ayam yang dulu sangat jarang di makannya.
Victor jadi ikut tersenyum melihat Melodi. Victor berfikir Melodi mempunyai kepribadian ganda mungkin, kadang terlihat lucu seperti anak kecil, kadang terlihat sangat galak seperti ibu ibu kos. Aneh.
Melodi menoleh ke arah Victor membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya dan mengalihkan pandangan. Melodi mengambil sendok lainnya dan menyendok nasi dan juga lauknya, "Coba satu sendok saja," kata Melodi.
Victor menoleh ke arah Melodi, "Udah di bilang aku gak suka."
"Satu saja,... Setelah itu aku gak akan paksa makan lagi," bujuk Melodi.
Victor menghembus nafas dan terpaksa mengiyakan. Victor membuka mulutnya Melodi segera memasukkan sesendok itu.
"Gimana? Enak kan?" Tanya Melodi saat Victor sudah mulai mengunyah.
Rasanya memang enak. Tapi ya enak standar. Tidak sampai membuat Victor terkagum.
"Biasa aja, rosto lebih enak," jelas Victor.
Melodi mengangguk, "Memang aku akui. Tapi makanan ini tak kalah enak."
Melodi kembali melihat ke arah Victor, "Mereka jualan di sini sudah payah pasti untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Tak ada salahnya makan di sini sambil membantu rezeki orang dengan makan di sini."
Mendengar itu membuat sudut pandang Victor kembali berubah, sudut bibirnya tertarik tersenyum kecil.
"Udah diem, makan sana. Yang ini aku yang habisin," Victor menarik piring yang kedua. Melodi berhasil membujuknya dengan caranya sendiri. Itu yang membuat Melodi berbeda.