
Andreas pulang ke rumahnya. Dia masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang big sizenya.
Kembali dia memikirkan Melodi. "Aku sayang sama kamu."
Andreas menyadari kalau dia bukan seutuhnya mencintai Melodi, dia hanya sekedar suka dan penasaran. Tapi di sisi lain juga dia tidak mau melepaskan Melodi karena dia tau Melodi adalah wanita mahal yang tak sembarangan pria bisa miliki.
Kalau saja Melodi sedikit loyal padanya tentang sikap dan cintanya pasti Andreas akan sangat bahagia.
Tapi hari ini dia cukup senang. Melodi bersedia untuk di peluk manja seperti tadi. Biasanya Melodi akan segera melepas pelukannya dan menatap dingin Andreas, tapi kali ini tidak.
Andreas tersenyum kecil, "Apa mungkin Melodi mulai mencintai ku lebih dalam?"
Andreas tersipu sipu sendiri.
Di sisi lain Melodi tengah berkutat dengan pikirannya sendiri. Sedari tadi dia sedang fokus pada satu topik dalam otaknya hingga dia tak terlalu memperdulikan Andreas. Itu sebabnya dia tak marah saat Andreas bergelayut padanya.
Melodi yang tengah menutup matanya sambil menghirup udara semaksimal mungkin pun akhirnya mendapatkan ide. Dia mesti mencari seorang wanita untuk Victor agar lelaki itu bisa move on dan mencari wanita lain.
Melodi memainkan hpnya dan melihat beberapa nomor kontak teman wanitanya yang masih lajang dan juga cantik. "Sepertinya ini akan di sukai Victor."
Melodi menelpon Victor dan tak lama kemudian di jawab. "Halo ratu es. Kenapa? Mau cari masalah lagi, hm?" Tanya Victor membuat Melodi memutar bola matanya jengah.
Namun dari nada Victor kelihatannya dia tengah mabuk.
"Besok aku mau bertemu denganmu." Jelas Melodi.
"Waduh, aku gak ada waktu senggang besok, kalau pun ada aku tetap ku bilang ngak ada." Hina lelaki itu sambil tertawa di akhir kalimatnya.
"Dengar ya, aku itu gak tertarik denganmu. Kau coba untuk menggodaku bukan? Ya ya aku tau aku ganteng, tapi kau itu bukan tipeku... Lihat wajah mu saja sudah membuatku mual. Uekk..." Racau Victor dan kemudian dia bersendawa.
Ck. Dasar lelaki tak tau malu. Dia yakin Victor pasti tengah mabuk mabukan total.
Kemudian sambungan di putuskan dan membuat Melodi menggelengkan kepalanya, "Dasar lelaki. Semua nya sama saja." Kesal Melodi.
Melodi meletakkan hpnya di meja, tak berusaha untuk kembali menelpon Victor.
Melodi membaringkan tubuhnya untuk tidur. Mengenai hal pertemuan nanti saja di atur, dia juga malas menanggapi orang yang sedang mabuk karena gak akan nyambung nantinya.
Melodi menutup matanya dan mulai tertidur.
Melodi pun terlelap.
Keesokan harinya Melodi bangun seperti biasa. Pertama kali yang di lakukannya adalah berdoa kemudian memasak untuk sarapan setelahnya dia mandi dan sarapan. Dan saatnya dia berangkat ke rumah sakit untuk bekerja.
Disana dia mendapati banyak pasien. Wanita muda itu pun melakukan tugasnya dengan sebaik mungkin.
Beberapa saat berlalu dan kini hampir saatnya makan siang ada seorang pasien yang mengetuk pintunya, "Permisi, saya mau berobat." Katanya.
"Iya masuk," Melodi yang tengah merapikan alat pun melihat ke arah pasien itu. Wajahnya kembali berubah menjadi sangat dingin.
"Biasa aja kali." Pasien yang menyebalkan itu langsung berdiri di hadapannya, "Ada apa kemarin telpon?" Tanyanya.
Melodi yang telah menyiapkan alat itu pun melipat kedua tangannya di dada, "Kau suka wanita yang seperti apa?" Tanya Melodi to the point.
Victor segera tertawa kencang, "Kenapa huh? Kau sungguh menyukaiku? Seharusnya aku sadar dari dulu. Pantas saja kau selalu cari perhatian."
Cih.
Melodi mengembuskan napas panjang, "Aku mau memperkenalkanmu dengan seorang wanita. Dia cantik, baik dam pintar. Sama seperti Venus, dia juga bukan wanita murahan, pendidikan dia juga tinggi dan sekarang sedang melanjutkan S3 jurusan psikologi. Gimana?" Melodi memperkenalkan temannya itu.
Victor mengangguk, "Oh jadi intinya gini. Kau memperkenalkanku dengan wanita lain agar menjauhi Venus gitu? Gak. Gak akan bisa." Victor membalikkan badannya hendak meninggalkan Melodi.
Melodi menahan tangannya, "Apa sih yang kau cari dari wanita bersuami itu?! Dia itu udah punya pasangan! Apa susahnya coba dengan wanita lain?! Pasti ada lah yang nyangkut di hati mu! Paling enggak coba!" Kesal Melodi.
Victor memutar bola matanya, "Apa sih hubungannya samamu. Ya terserah aku lah mau gimana. Kenapa kau yang sewot!"
"Aku sebenarnya gak punya masalah apapun denganmu. Tapi perilaku mu itu keterlaluan! Jangan egois! Semua orang berhak bahagia! Emang kau udah pastiin kau bisa bahagia kalau udah dapatkan Venus!" Bentak Melodi.
"Dan kau, kau bisa pastikan aku bisa bahagia kalau tidak dengan Venus? Gak kan?!"
"Bisa!!" Sergah Melodi membuat Victor terdiam.
"Bisa aku akan buktikan!" Tekan Melodi.
Dia tak tau apakah yang di katakannya ini bisa dipertanggungjawabkan olehnya atau tidak, intinya Melodi selalu meyakini semua orang pasti punya kebahagiaan masing masing. Jika Venus sudah bahagia, Victor pasti juga punya kebahagiaan juga dari orang lain. Tuhan itu adil dalam membagikan kebahagiaan!
Victor tersenyum miring, "Baiklah jika kau terus berisikeras. Aku akan berhenti dengan Venus."
Melodi mengangguk, akhirnya lelaki keras kepala ini paham maksudnya.
"Aku akan memperkenalkanmu dengan-"
"Sttt... O o tidak. Aku tak mau dengan semua wanita yang kau punya." Victor menyela kalimat Melodi.
Melodi menaikkan salah satu alisnya bertanya.
"Aku mau kau yang menjadi wanitaku. Buat aku bahagia dan jika kau bisa lakukan itu aku akan lepaskan Venus dan menyakini ucapanmu itu... Setiap orang punya kebahagiaan masing masing." Victor mengulang kalimat Melodi di akhir kalimatnya.
Melodi terdiam.
Victor tersenyum miring, "Oh, gak bisa buktiin ya. Ya udah."
"Baiklah!" Jawab Melodi cepat. "Tapi dengan satu syarat. Karena misi ini hanya untuk membuatmu bahagia cukup kau dan aku yang tau. Tidak dengan orang lain, terutama Andreas. Dan setelah aku sudah bisa buktikan kita putuskan hubungan ini dan kau bisa mencari wanita lain yang bisa mencintaimu tulus karena itu pasti ada." Ucap Melodi dengan penuh keseriusan.
Victor mengangguk, "Okey aku setuju. Tapi aku juga punya syarat yang harus di penuhi."
"Kalau kau tak bisa membuktikan kalimat mu itu kau harus menjadi pembantu ku seumur hidup. Simpel bukan?" Ucap lelaki itu licik.
Melodi mengangguk pasti.
Damn! Padahal hatinya rasanya ingin menolak. Astaga, apa yang dia lakukan?!
"Hm... Baiklah. Mulai hari ini dan seterusnya lakukanlah apa yang kau mau... Eh tunggu tunggu. Kita harus buat batasan waktu, enak aja lama lama, entar kau yang nyaman samaku."
Melodi menatap jijik Victor. Nyaman katanya? Gedeg iya!
"Aku beri waktu sebulan. Gak lama lama." Jelas Victor.
"Baiklah!"
Dan persepakatan pun terjadi.