My Different Wife

My Different Wife
I Come Back Venus



Catatan penulis:


Hai hai... Selamat datang di bulan baru my readers ✨


Aku senang banget untuk dukungan kalian selama ini, kalian selalu mendukung karyaku penuh sebulan kemarin... Yeay... Hehe


Thanks yakkk


Udah puas belum sama crazy up kemarin. Puas dong ya... Harapannya begitu hehe


Oh ya guys. Akan ada konflik baru yang akan datang, memicu emosi dan gereget kalian pastinya. Tapi dari pada itu aku sangat berharap untuk kalian mendukung karya aku terus guys. Plis semangatin terus dong karya author kalian ini guys... Jadi aku pun semakin semangat update ceritanya :)


Udah sih, cuma mau sampaikan ini doang.. thanks ya... Jangan lupa tinggalkan jejak. Love you ❤️❤️❤️


-----------------------------------------------------------


Davin terkekeh, "Kenapa hm? Kau meragukan kehebatan Papamu ini?"


Davin mengambil kursi yang ada di dekatnya dan duduk di sebelah anaknya itu, "Untuk satu hal maafkan Papa yang tanpa sepengetahuan kamu memantau perkembangan kamu, apapun dan sekecil apapun itu."


"Nak, kamu harus tau. Ayahmu saja bisa melakukan suatu hal yang sangat di luar pemikiranmu seperti sekarang. Dan ayah yakin kamu pasti bisa lebih dari ini." Jelas sang Ayah.


Victor hanya memasang wajah datar, "Pa, Victor pamit. Mengenai pembahasan ini akan Victor pertimbangkan." Ucap Victor mengakhiri pembicaraan dan bangkit berdiri.


Davin mengangguk dan bangkit berdiri, "Suatu pilihan yang bijak jika kamu menuruti Papa nak." Ucap sang Ayah sambil Victor menyalam sang Ayah.


"Victor pulang Pa." Pamit Victor.


***


Victor membaringkan dirinya di atas ranjangnya. Memandangi langit-langit kamar dengan pikiran ntah kemana.


"Apa yang di katakan Papa ada benarnya." Gumam Victor dengan tatapan menerawang.


Walaupun dia membenci sang Ayah setidaknya dia memiliki pemikiran yang lebih maju di bandingkan dirinya. Dia harus menyadari itu.


"Aku bisa mengalahkan Steve bukan?"


Victor menghela nafas panjang, "Tapi aku akan bertahun-tahun lamanya tak melihat Venus lagi sampai aku tamat di sana."


Victor tersenyum miring, "It's okey. Hanya beberapa tahun, bukan selamanya." Victor menyemangati diri nya.


Victor akan menyetujui ucapan sang Ayah.


"Venus, kamu takkan bisa lepas dariku. Selamanya tidak."


Pagi harinya Victor menjumpai sang Ayah. Ayahnya tersenyum bangga melihat anaknya kembali datang padanya,


"Pagi Pa." Sapa Victor.


Davin mengangguk, "Pagi nak. Masuk masuk." Ajak sang Ayah sambil bangkit duduk dan mempersilahkan Victor duduk.


Victor duduk begitu pun sang Ayah.


"Bagaimana nak?" Tanya Davin pemasaran akan keputusan sang anak.


Victor mengangguk, "Aku menyetujuinya Pa." Sang Ayah sontak sangat berbahagia dan bahkan bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Victor dan merangkulnya,


"Kau memang anak kebanggaan Papa." Ucap lelaki paruh baya itu.


Victor tersenyum singkat.


"Baiklah, semua akan Papa siapkan dan bahkan besok kamu sudah bisa berangkat ke Amerika. Papa yakin kamu bisa dengan mudah bersosialisasi di sana." Jelas Davin.


Victor mengangguk.


"Baiklah kalau begitu pa. Victor balik dulu, cuma itu saja yang mau Victor sampaikan."


Sang Ayah mengangguk dan memberikan tangannya untuk di salam Victor.


Victor menyalam sang Ayah dan kemudian pergi.


***


Victor kini berada di bandara. Begitu berat rasanya harus meninggalkan semuanya termaksud Venus.


Astaga!


Victor kembali mengembuskan napasnya, "Demi Venus. Aku akan melakukan apapun." Gumam Victor.


Victor pun melanjutkan perjalanannya dan kini bersama dengan penerbangan dia melihat kekosongan kembali dalam dirinya. Sungguh tanpa wanita itu dia sama sekali tak bergairah untuk menjalani kehidupan,


Tapi tujuannya kini sudah bulat dan di pastikan dia akan memiliki Venus nantinya.


***


Hari tiap hari di lalui Victor dan dia dapat menjalankan semuanya dengan baik. Bahkan dia mendapat nilai terbaik di kampusnya dan menjadi mahasiswa kebanggaan di sana.


Pergaulan bebas tentu saja tak terelakkan.


Wanita, minuman dan lainnya sudah pernah dia rasakan. Namun tak terasa menyenangkan hatinya sama sekali. Hanya sekedar hiburan semata.


"Faster Babe... Ah... Nice..." Desah wanita bule yang begitu nikmat mendapatkan hujaman penuh gairah Victor.


Tentu saja Victor sangat berpengalaman membuat seorang wanita takluk padanya. Lelaki ini sangat lihai dalam segala hal baik pelajaran kampus maupun jasmaniah seperti ini.


Sampai pada akhirnya Victor dan dirinya mendapat pelepasan terkahir mereka.


Victor mengerang nikmat, "Venush....."


Fantasinya selalu bersama Venus. Bayangan tubuh wanita itu tampak sangat menikmati permainannya membuat Victor tersenyum miring.


Sedangkan wanita yang baru saja mendapatkan pelepasannya menatap lelakinya dengan kesal.


Siapa Venus? Dan kenapa tatapan Victor begitu hangat dan bernafsu menatapnya hanya saat mereka berhubungan badan saja?


Wanita itu ingin bertanya namun tubuhnya begitu lelah karena ulah lelaki yang kini notabenenya adalah pacarnya.


Mereka tidur dengan nyenyak saling berpelukan.


Pagi telah menyingsing dan Victor terbangun setelahnya baru Barbara terbangun,


Victor melepaskan pelukannya dengan tatapan dingin menatap Barbara.


Barbara menarik tangan lelaki itu hingga kembali menindihnya. Sudah lama dia memendam pertanyaan ini (-Sebenarnya tiga hari karena Victor tak pernah berpacaran dengan seorang wanita lebih dari seminggu paling keras, karena tentu saja  bosan-)


"Who is Venus? Are you forget my name huh?" Kesal wanita ini.


"We break up." Telak Victor bangkit dari wanita itu dan beranjak dari tempat tidur.


Deg!


Kalimat itu sontak membuat wanita itu membolangkan matanya sangat kaget bukan main.


Tidak! Tentu wanita itu tidak terima! Dia sungguh menyukai lelaki ini. Semua yang Victor miliki di dirinya adalah keinginan setiap wanita yang pernah berhubungan dengannya.


Bagaimana bisa dia semudah itu mencampakkannya? Apa dia gila?!


"No! I don't want it! I can't acceptance it Victor! I-it recent three days!! Y-you want to leave me?!" Wanita itu tak kuasa menahan tangisnya.


Kejam sekali cara Victor memutuskannya tepat setelah melakukan hubungan intim dengannya. Sungguh tak dapat di terima akal!


Victor menggaruk alisnya malas, "I don't care. You always disturb me every day with your annoying mouth." Victor membuang wajahnya malas karena merasa tak minat lagi dengan wanita yang menjengkelkan ini.


Barbara kembali mengoceh dengan emosi namun Victor tak perduli dan memilih membersihkan diri di kamar mandi. Setelahnya langsung menggenakan bajunya dan kembali ke apartemennya tanpa rasa bersalah.


Besok adalah tepat hari wisudanya. Dan penantian pun berakhir hari ini.


Setelah penantian panjang akhirnya hari ini datang juga. Tentu ini saja berkuliah di sini sungguh membuka wawasannya lebih mengenai dunia perbisnisan lebih banyak dari pada yang di dapatnya di perkuliahan sebelumnya.


Victor kembali mengingat bagaimana wajah Venus, dia merindukan wanita itu setengah mati. Dalam segala hal setiap detik dia terus mengingat wanitanya itu.


"Venus. I'm comming. Akan ku bawa kau kembali pada pangkuanku." Victor menyeringai sinis.