
Catatan penulis:
Dua Part tambahan deh. Buat makin semangat untuk kalian bacanya... wkwk
Dan... Jangan lupa dukungannya loh yaa... Jangan hanya jadi pembaca gelap guys. karena itu sangat menyakitkan bagi author 🥺😭..
Like, comment, Vote atau Gift yaaa.... Thanks 🥰❤️❤️....
------------------------------------------------------------------------
Victor tersadar dan segera berlari mengejar Melodi.
Tep
Lelaki itu menahan tangannya dan menatap Melodi dengan wajah kesal, "Apa maksudmu? Kita sudah membuat perjanjian bukan? Kita-"
"Perjanjian? Perjanjian itu berdasarkan kebenaran. Bukan penipuan seperti yang kau lakukan!" Bentak Melodi.
"Oh ayolah. It's okey. Apa masalah? Hanya karena dia telah menikah? Semua orang bisa menikah dan bercerai, jadi tak ada yang perlu di besar besarkan." Kata Victor santai. Seperti tak ada masalah dan beban dalam kalimatnya. Membuat Melodi menggeleng tak percaya dan menokok kepala lelaki yang di hadapannya itu.
"Apa kau tak punya otak? Ku rasa sewaktu Tuhan membagikan otak kau malah Absen makannya jadi seperti ini." Hina Melodi dengan meliriknya sekilas.
Melodi kembali membalikkan badannya namun kembali di tahan Victor. "Tidak bisa gitu! Aku sudah merencanakan semuanya kau tau."
"Ya itu urusanmu. Apa gunanya bagiku? Cih."
Victor menarik tangan Melodi dan menahannya. "Aku tak mau tau- akh!"
Tubuh Victor langsung di balik oleh Melodi dan mendorongnya tepat menempel pada dinding bangunan yang ada di sebelah mereka, "Jangan buat aku melakukan hal kasar. Paham." Tekan Melodi dan kemudian melepaskan tangannya dengan dorongan dan pergi meninggalkan Victor.
Ck. Wanita tidak berguna. Menyesal sekali berharap lebih pada wanita tolol itu. Victor mendengus malas dengan emosi.
Semua rencananya gagal. Padahal dia sudah sangat menata segalanya dengan rencana yang sangat berpotensi besar untuk menang.
Ck.
***
Steve pulang ke rumahnya. Melihat sang istri tercinta tertidur dengan posisi duduk di meja belajar.
Steve berjalan ke arah sang istri dan menggendongnya untuk segera di baringkan di atas tempat tidur.
Venus terbangun dari tidurnya saat Steve baru saja menggendongnya, "Kamu udah pulang?" Tanya Venus.
Steve tersenyum dan kemudian membaringkan istrinya sambil duduk di sebelahnya, "Hm.. Aku mandi dulu ya sayang. Sebentar lagi aku akan kembali."
Venus mengangguk.
Steve pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, mengenakan pakaian tidur dan berbaring di sebelah Istrinya. "Cape banget." Keluh Steve sambil memeluk Venus.
Venus tersenyum singkat, "Banyak banget ya kerjaannya?"
Steve mengangguk dan kemudian mengeratkan pelukannya, "Kamu juga kayaknya banyak kerjaan. Banyak baca buku ya? Soalnya banyak catatan di sana sini."
Venus mengangguk, "Hm.. Dan kamu... Apa tadi pagi ada hal lain selain pekerjaan?" Tanya Venus.
Venus masih mengingat kejadian yang membuatnya terus bertanya tanya mengenai siapa wanita yang di peluk Steve.
Steve coba mereview ingatannya, "Kayaknya gak ada. Kenapa?"
Venus melipat kedua tangannya dan mengalihkan pandangannya, "Kamu yakin? Ngak ada mau di bahas... Misalnya wanita lain gitu..."
Steve mengingat sesuatu, "Ah iya, ada tadi wanita yang mau terjatuh di hadapanku. Jadi spontan aja aku menolongnya." Jelas Steve.
"Kok kamu tau?" Tanya Steve balik.
"Tadi siang ada yang mengirimkan ku pesan. Dan itu as gambar kamu dengan wanita lain."
Pesan?
"Mana dia?" Tanya Steve.
Venus menunjukkan hpnya. Steve menyerngitkan dahinya, "Kayaknya kita sedang di permainkan Sayang."
Venus kembali melihat ke arah Steve bingung, "Maksudnya?"
Venus menelaah apa yang di katakan Steve, memang ada benarnya, "Dia membuat perselisihan seakan kami berselingkuh dari aku dulu. Dan sekarang malah kembali membuat seakan akan aku yang berselingkuh dari aku." Jelas Steve.
Venus mengangguk, "Kamu benar. Ini sangat mengarahkan dugaan terhadap Victor." Jelas Venus.
Tapi kemudian Venus mengingat bagaimana Victor terlihat begitu tampak bersalah saat terakhir kali berjumpa dengan Venus di taman. Lelaki itu bahkan tak menganggu Venus.
Apakah ini salah satu taktik Victor?
Batin Venus.
Steve mencium pipi Venus, "Sayang. Aku gak akan pernah mau melakukan perselingkuhan dengan wanita lain. Tidak akan pernah. Aku cuma sahang sama kamu. Percayalah..."
Venus mengangguk, "Kita harus terus saling percaya dan selalu terbuka satu sama lain Steve. Itu kuncinya." Ucap Venus.
Steve mengangguk dan mengeratkan pelukannya, "Hanya kau satu satunya. Tidak ada yang lain." Ungkap Steve dengan sepenuh hatinya.
"Kamu juga satu satunya untuk aku Steve." Balas Venus.
***
Victor duduk di meja makannya, memandangi makanan yang tersedia tanpa berniat sama sekali untuk menyentuh makanannya, pandangan bahkan tembus ntah kemana.
Hpnya tiba-tiba berdering membuat dirinya mengalihkan pandangannya itu dan kemudian mengangkat telepon.
"Malam Pa." Sapa Victor.
"Malam nak. Ada yang mau Papa sampaikan, namun Papa ingin kamu datang ke kantor Papa yang berada di daerah dekat Pusat Kota. Bisa?" Tanya sang Papa.
Victor menganguk, "Bisa pa."
Sang Ayah tersenyum senang, "Baiklah. Akan papa tunggu kehadiran mu."
Sang ayah kemudian mematikan ponselnya dan bersyukur. Kali ini dia akan mengungkapkan sesuatu pada anaknya.
***
"Malam pa." Sapa Victor sambil masuk ke dalam Ruangan sang Ayah.
"Malam, silangkan kamu duduk di sini." Ucap sang ayah.
Victor duduk di hadapan ayahnya dan kemudian melihat ke arah ayahnya dengan tatapan bertanya.
"Sebenarnya Papa mau membicarakan ini di rumah, namun papa terlalu banyak pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan dan juga as suatu hal yang mengharuskan Papa mengatakan ini padamu." Jelas Sang Ayah.
"Nak. Papa sudah tua. Dan ini menuntut papa untuk secepat mungkin memberitahukan kamu semuanya mengenai perusahaan dan bisnis agar mempermudah kamu untuk melanjutkan warisan Papa untuk kamu."
"Maksud Papa, kamu harus papa pindahkan berkuliah di tempat yang lebih baik dan pastinya akan lebih membuka wawasan kamu mengenai bisnis."
Davin menghela nafasnya, "Papa ingin kamu melanjutkan perkuliahan di Washington DC Amerika serikat. Di sana kamu akan lebih di tempah dan akan membuat kamu jauh lebih berilmu di bandingkan di sini."
Deg!
Victor diam beberapa saat.
Pindah?
Dan meninggalkan Venus?
Namun... Dia juga membutuhkan suatu senjata untuk melawan Steve bukan? Tentu saja dengan ilmu yang harus lebih dan di atas lelaki itu. Dengan demikian dia bisa menjatuhkan Steve dengan mudah dalam segala hal.
Tapi, berkuliah di sana akan membuatnya menjadi gila tanpa Venus bukan?
"Nak, perusahaan bergantung padamu. Kau yang sangat Papa harapkan untuk mengatur segala hal yang sudah di bangun dengan kesuksesan sebesar ini. Kau bisa memiliki apapun jika kau memiliki kekuatan nak. Dan Papa memberikan kemudahan bagimu."
Perkataan Davin itu berdasarkan pengalamannya. Dengan kekuasaan dia memiliki kekuatan, hingga bahkan dapat menghancurkan apapun.
Victor melihat sang Ayah dengan tatapan datar, "Akan aku coba pertimbangkan Pa." Jawab Victor menimbang nimbang.
Sang ayah mengangguk. Lelaki paruh baya itu bangkit berdiri dan berjalan ke arah Victor, menepuk bahu anak tunggalnya itu dan mendekatkan kepalanya ke telinga sang anak, "Memang tak mudah bagimu untuk meninggalkan wanita itu. Ayah tau. Tapi Hei... Kau bisa menghancurkannya jika kau lebih berkuasa dari pada suaminya bukan?"
Deg!
Papa tau?!