My Different Wife

My Different Wife
Pertolongan



Victor sangat tak terima dengan kalimat itu. "Heh tua! Apa maksudmu?! Masih waras kah?!" Hina Victor dan segera maju dan menarik Melodi ke belakangnya.


Lelaki itu malah tertawa terbahak bahak dan kemudian menatap tajam Victor, "Dia akan jadi istri ku malam ini. Jadi jangan mengganggu waktu kami!"


Dengan cepat salah saru algojo menarik Melodi dari Victor dan membawanya.


Melodi tak melawan karena ini memang sudah waktunya, dia tak dapat membayar hutang piutang sang ibu panti bukan? Dan panti akan segera di musnahkan jika Melodi tak segera menyerahkan dirinya.


Itulah yang menjadi pikiran Melodi selama ini hingga dia melakukan hal gila seperti pergi ke bar dan minum minuman beralkohol.


Memang dia melihat Andreas selingkuh di depan matanya, tapi dia tak memperdulikan itu dan tak mau ambil pusing dengan segera memutuskan lelaki itu. Ingat bukan Melodi sama sekali tak mencintai Andreas, dia hanya menghargai Andreas yang sudah sangat berjuang untuk mendapat perhatiannya makannya Melodi memberi kesempatan. Tapi karena sikap Andreas yang tak berubah sama sekali dari perilaku suka bermain wanita, maka lebih baik di putuskan saja.


Melodi sudah berjanji untuk mendapatkan uang 5 M dalam satu bulan ini pada lelaki gila yang di depannya ini, tapi dia tak sanggup. Memang Melodi bukanlah orang miskin, dia bisa mendapatkan uang Leny dari pada itu jika di beri waktu beberapa tahun kedepan. Hei! Dia masih dokter spesialis pemula, dia tak mungkin langsung mempunyai uang secepat itu bukan?


Dan ya, karena kekurangan uang itu dia terpaksa membayarnya dengan menyerahkan dirinya menjadi istri lelaki tua mesum ini. Sangat tak terima dan tak adil, tapi dia juga tak bisa membantah dari perjanjian yang sudah di tuliskan.


Victor sekali lagi menarik tangan Melodi, "Tidak! Dia tidak akan menikah denganmu! Apa yang di lakukannya sampai dia harus menikahi mu?! Jangan mengada ada!"


Tangan Victor di tarik oleh salah satu algojo lainnya dengan kasar. Dan di tinju dalam sekali pukulan membuat sudut bibirnya pecah dan berdarah, "Jangan halangi bos kami." Ucap algojo itu.


Victor tersenyum miring dan menlap bibirnya yang berdarah itu dengan jempol, "Baiklah jika kau mau main kasar."


Victor mulai memasang kuda kuda dan menghajar satu demi satu lawannya itu. Tak di sangka tubuh Victor begitu lincah dan gesit dalam melawan mereka. Mereka semua ambruk dan pingsan di tempat, atau mungkin mati?


Sang lelaki tua itu bahkan sangat terkejut dan lumayan takut. Tapi kemudian saat Victor ingin melancarkan jurusnya pada lelaki itu lelaki itu segera menjauh, "Wanita itu sudah membuat perjanjian denganku. Dia tak bisa membayar hutangnya maka dia akan memberikan dirinya untuk ku nikahkan. Lihat... Lihat! Dia sudah tanda tangan."


Lelaki itu menunjuk tanda tangan Melodi yang tertera dalam kertas itu.


Victor menarik kertas dari tangan lelaki tua itu. Dan membacanya,


"Kalau dia sudah tanda tangan maka tak dapat di ganggu gugat, jika tidak dia harus membayar hutang-hutangnya 5 kali lipat secara kontan!" Sambung lelaki itu membawa aturan hukum yang sudah di tercatat.


Melodi sudah pasrah. Apa yang harus dia lakukan? tentu tak ada. Dia tak mungkin membiarkan ibu panti dan adik adik panti lainnya menjadi hancur karena tempat naungan mereka bertahan hidup dan berjuang akan dimusnahkan.


"Aku akan bayar," kata Victor santai membuat Melodi dan juga Si tua Bangka itu terkejut.


Terjadi keheningan beberapa saat kemudian terdengar tawa kuat dari lelaki itu, "Kau pikir aku percaya? Kau masih muda dan kau pikir kau sekaya itu? Jangan membodohiku!"


Victor menunjukkan 5 black cardnya dan menatap tajam si tua itu, "Aku akan bayar sekarang juga. Dan semua beres. Jangan pernah mendekati Melodi lagi jika tidak aku akan mencincangmu hidup hidup."


Lelaki tua itu meneguk air liurnya berat dan mengangguk, "B-baiklah T-tuan." Ucapnya tergagap gagap.


***


Victor melirik ke arah Melodi yang masih diam tak berkata apapun. Victor baru tau kalau Melodi sungguh tertekan beberapa hari ini, dia sudah di selingkuhi dan juga berusaha memutar otak untuk membayar hutangnya yang akhirnya membuat dia terpaksa harus menandatangani kontrak untuk menikah dengan lelaki sialan itu.


Setelah sampai di rumah Melodi, Victor memberhentikan mobilnya dan menghadap ke arah Melodi setelah melepas sabuk pengamannya, "Sudah aku katakan ada aku. Kamu tak perlu-"


"Vic, jangan menyusahkan dirimu karena aku ku mohon," ucap Melodi tanpa melihat ke arah Victor.


Victor menarik nafasnya dan kemudian mengeluarkannya, "Tak ada yang sudah karena hal itu. Itu hal kecil bagiku dan kau tak perlu berterimakasih."


Victor mengenggam tangan Melodi, "Karena dirimu aku bisa merasakan suatu hal yang benar sekarang. Bahkan kau juga merawatku di saat aku tak punya siapa siapa untuk berbagi, padahal dulu aku sangat kasar padamu. Kamu selalu ada untukku dan aku pun juga harus ada untuk mu."


Victor juga merasakan ketakutan Melodi saat mau di bawa oleh algojo tadi. Tangan Melodi sangat bergetar ketakutan, wanita tangguh seperti Melodi merasakan ketakutan itu sungguh membuat hatinya sangat tertusuk.


Melodi menatap wajah Victor dan menangis, lelaki ini kembali menyelamatkannya.


Melodi melepaskan sabuk pengamannya dan memeluk Victor, "Makasih..."


Victor tersenyum dan mengelus rambut Melodi dan membalas pelukan wanita itu tak kalah erat, "Aku yang seharusnya berterima kasih."


Melodi menatap Victor membuat mata mereka bertemu. Victor mengusap air mata yang membasahi pipi Melodi, "Kamu lebih cantik kalau galak. Makanya jangan nangis."


Melodi tersenyum mendengar kalimat bodoh Victor, "Dasar menyebalkan." Kata Melodi dengan suara serak karena menangis.


Victor terkekeh singkat,


Setelah itu Melodi melepaskan pelukannya itu dan menunduk, "Vic, bagaimana pun aku harus tetap membayar hutangku padamu. Apapun itu harus tetap terbayarkan,"


Victor memutar bola matanya lelah, "Astaga Mel, gak usah di pikirkan. Aku ikhlas."


Melodi mengangguk, "Aku tau niatmu sangat baik padaku, tapi ini tetap saja di katakan sebagai hutang, aku harus membayarnya padamu. Aku selalu di ajarkan sejak kecil untuk tidak menjadi beban bagi orang. Jadi aku mohon kamu terima uangku nanti dan rasa bersalah ku akan hilang dan hidupku akan lebih tentram."


Melodi mohon untuk Victor dapat mengerti, "Vic, kumohon kau harus menyetujuinya."


Dengan terpaksa Victor mengangguk, tak mungkin dia menolak karena itu akan menyakiti hati Melodi.


Victor menghela nafas panjang, "Baiklah aku setuju." Jawab Victor berat.


Walaupun seperti itu Victor tak akan mau meminta uangnya kembali seandainya Melodi tak membayarnya, it's okey. Lagipun uang itu masih dalam nominal yang kecil di mata Victor.


Melodi tersenyum, "Terimakasih."