My Different Wife

My Different Wife
Apa yang terjadi padamu?



Melodi berlari masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ruangan Steve.


Pertama kali yang terpikir oleh Melodi adalah kematian. Apakah Steve meninggal?


Terlihat dari jauh ruangan Steve berkerumun banyak petugas medis yang berdiri di depan ruanganya. Ada apa?


Melodi hendak kembali melanjutkan langkahnya dan segera di tarik oleh seseorang di belakangnya.


Melodi menoleh, "Dokter Anas?" Melodi menunjuk ke arah kamar Steve, "Ada apa di sana dok? Apa yang terjadi?"


"Tenang Mel, tenang. Akan aku jelaskan asal kamu tenang dulu," jelas lelaki itu. Melodi begitu terlihat panik.


Anas mengelus punggung Melodi, "Tenangkan dirimu dulu. Tak ada masalah apa-apa, kau jangan kuatir. Itu hanya di lakukan pemeriksaan dan pengobatan di sana."


Melodi menarik nafas dan mengeluarkannya mencoba menenangkan dirinya. Dokter Anas benar, dia harus bisa lebih tenang, "Bagaimana keadaannya Dok?"


Anas mengangguk, "Pasien dalam keadaan baik-baik saja karena sudah di tangani oleh orang yang tepat."


Melodi menyerngitkan dahinya bingung dengan apa maksud dari ucapan Anas.


"Beberapa Dokter pilihan dari luar datang ke sini untuk mengambil alih pasien di ruangan itu. Mereka sudah di beri izin oleh pihak rumah sakit juga, jadi kau tak perlu kuatir," kata dokter Anas dengan jelas.


Melodi memusatkan perhatiannya pada Anas, "Kenapa tiba-tiba mereka datang? Maksudnya, kenapa harus ruangan itu saja, ruangan lain juga ada kan? Pasien bukan di ruangan itu saja."


Anas mengedikkan bahunya, "Aku juga tak tau. Atasan kita yang mengkoordinir semuanya."


Melodi kembali melihat ke arah ruangan Steve dan ingin mengecek ke sana, tapi tangan lelaki itu kembali mencegatnya, "Hei kau jangan ke sana. Atasan kita bilang kamu ngak boleh ke sana."


"Kenapa? Yang lain bisa ke sana ke apa aku tidak?" Melodi komplain. Ini rasanya tak adil.


"Itu karena pihak yang mengatur kerjasama dengan rumah sakit melarang Dokter Melodi ke sana. Aku tak tau apa alasannya. Tapi itu katanya. Bahkan kau juga tak di perkenankan untuk mengetahui kondisi pasien selama masa pengobatan, barulah tahap akhir baru kau di perbolehkan untuk mengetahuinya. Itu kata atasan." Anas memperjelaskan panjang lebar.


Melodi menggeleng, "Ini tak adil. Aku harus melihatnya." Melodi melepaskan tangan Anas dan dengan cepat bergerak ke ruangan Steve.


Sep


Seorang bertubuh besar menutupi langkah Melodi. "Anda, Dokter Melodi?"


Melodi mengangguk dengan tatapan tak suka, "Iya. Biarkan saya masuk!"


"Maaf. Anda tak di perbolehkan untuk masuk. Jadi jangan mengganggu pekerjaan yang lain." Kata lelaki itu menatap Melodi dengan tegas dari balik kacamata hitamnya.


"Kenapa? Tidak ada aturan seperti itu di rumah sakit ini! Dia adalah pasien ku!" Bentak Melodi sambil berusaha menerobos masuk.


"Maaf nona. Ini sudah di atur oleh atasan anda. Jika anda tak terima itu urusan anda."


Melodi tak percaya dengan pendeskriminasian dirinya. Melodi menatap tajam lelaki itu dan pergi ke ruangan atasan Melodi.


Tok


Tok


Tok


Melodi mengetuk pintu itu. "Selamat pagi pak. Saya Melodi. Ada yang ingin saya bicarakan," kata Melodi lugas.


Lelaki yang di dalam pun merespon, "Silahkan masuk."


Melodi masuk dan mendapati atasannya sedang mengerjakan beberapa tugasnya.


"Maaf pak sebelumnya. Kenapa pasien saya yang bernama Steve di pindahkan alih tanpa saya ketahui. Dan juga kenapa saya tak bisa melihat keadaan beliau pak? Saya butuh kejelasannya, "tuntut Melodi.


Lelaki itu mendengus dan menatap Melodi sungguh. "Duduklah dahulu. Kita bicarakan dengan tenang."


Melodi pun duduk dan menunggu jawaban atasannya itu.


"Begini dokter Melodi. Keadaan pasien Steve di ujung tombak. Jadi ada seorang sahabat beliau yang sangat mengharapkan kesembuhan pasien dan menghendaki untuk mengajak kerja sama dengan rumah sakit untuk pemilihan kesehatan pasien. Kerja sama itu di bangun untuk meningkatkan kesejahteraan pasien di rumah sakit kita dan juga beliau membangun beberapa fasilitas yang terbaik di sini. Jadi kami menerimanya dengan senang hati. Namun beliau memberikan satu aturan agar anda tidak ambil peran dalam menyembuhan pasien, anda di perbolehkan untuk melihat keadaan pasien jika sudah dalam tahap akhir," papar atasannya itu dengan penuh pengertian agar Melodi mengerti.


"Siapa dia pak?" Tanya Melodi lagi. Dia penasaran dengan orang tersebut. Kenapa khusus dirinya yang tak di perbolehkan untuk tak melihat keadaan Steve.


Melodi tak mengerti apa maksud lelaki itu melakukan ini. Dan kenapa harus dia yang tak boleh mengetahui apapun di sini?


Melodi ingin marah, tapi tak mungkin dia lakukan karena percuma juga, lelaki yang di hadapannya ini pasti akan tetap diam.


Melodi bangkit berdiri. "Terima kasih atas penjelasannya pak. Saya izin keluar," akhir Melodi.


"Silahkan," ucap lelaki itu.


Melodi keluar. Di kepalanya masih terdapat segudang pertanyaan yang sama, siapa yang merupakan dalang ini semua?


***


Melodi merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Wanita itu mengambil hpnya dan melihat ke arah galeri ponselnya sekedar mereview ulang.


Melodi terus melihat gambar tiap gambar dirinya. Dan terhenti saat melihat satu foto, fotonya bersama Victor. Jika di pikir-pikir lelaki itu sama sekali tak pernah menghubunginya lagi. Apakah dia baik-baik saja? Terakhir kali berjumpa juga Victor tampak sangat marah padanya. Apakah ada omongan Melodi yang salah?


Melodi pun mencoba menelpon Victor.


Tak di jawab lelaki itu.


Melodi masih terus mencoba bahkan sampai 3 kali. Dan sekarang adalah yang ke 4.


"Apa..." jawab lelaki itu akhirnya. Namun terdengar suara Victor yang tampak aneh.


"Vic, kau tak apa?" Tanya Melodi memastikan.


"Aku? Apa pedulimu?... Huh??..." Terdengar seperti mabuk. Suaranya sangat berat dan parau.


"Vic. Jangan banyak minum! Kau-"


"DIAM!" bentak lelaki itu dan segera mematikan sambungannya.


Melodi jadi sangat kuatir. Apa yang terjadi pada Victor?


Astaga. Kenapa lelaki itu selalu bertingkah aneh-aneh?!


Melodi pun segera bangkit berdiri dan meninggalkan rumahnya menuju rumah Victor dengan terburu-buru.


Jantungnya tak karuan memikirkan hal apa yang akan terjadi pada Victor jika dia bertindak di luar batas.


Melodi menekan tombol bel di depan pagar Victor. Pagar terbuka. Kenapa belum di tutup di jam segini?


Melodi segera melajukan keretanya dan masuk saja ke dalam halaman rumah Victor,


Tok


Tok


Tok


"Vic. Buka!"


Masih tak ada jawaban.


Melodi kembali mengetuk dan lebih kuat, "Vic buka!! Buka!!"


Cletek


Pintu terbuka menampakkan sosok Victor dengan wajah sayu seperti orang mabuk.


Lelaki itu menarik tangan Melodi dan segera menutup pintu rumah dan menguncinya,


Victor menarik Melodi dan mencampakkan wanita itu di atas sofa big sizenya lalu menindih Melodi.


Cup


Victor mencium Melodi membuat Melodi terbelalak dengan deru jantung yang berpacu kencang.