My Different Wife

My Different Wife
Breng*sek



"Ergh... " Andreas mengeluh saat mendapat pelepasannya.


Sedangkan wanita yang berada dalam kunjungannya mencengkram seprai erat erat menerima pelepasan lelaki itu dengan senyuman puas.


Raya sangat mendambakan pergulatan ranjang ini. Rasanya begitu bahagia setiap kali Andreas menidurinya seakan dialah yang memiliki Andreas seutuhnya.


Andreas merebahkan tubuhnya di sebelah Raya dengan rasa lelah, pagi ini wanita ini terus menggodanya dan akhirnya membuat Andreas terbuai.


Raya menatap Andreas dengan dengan tatapan memuja, "An, apa kau menikmatinya?"


Andreas tak menjawab dan hanya tersenyum miring.


"An, jika kau menyukai ini, aku akan selalu siap melakukannya, melayanimu sampai kau puas sayang..." Raya mengelus wajah Andreas dan bergelayut di tubuh pria itu hingga berbalik menindihnya,


Andreas memegang pinggang wanita itu dan mulai meremasnya.


"An, aku ingin hubungan kita menjadi jelas. Aku ingin kau putuskan Melodi yang tak berguna itu dan beralihlah ke padaku. Kita tak perlu lagi bersembunyi dibalik layar seperti ini lagi." Bisik wanita itu sembari terus menggeliat di tubuh Andreas.


Andreas terdiam. Melodi.


Tentu dia tak akan mau melepaskan Melodi, Melodi milikinya dan selamanya akan seperti itu. Beraninya wanita ******* ini menyamakan kedudukannya dengan Melodi. Dasar tak tau diri.


Andreas segera menyingkirkan tubuh Raya kasar dan bangkit berdiri dengan menggunakan handuk kimono, "Aku mau mandi."


Sebelum dari itu Andreas mengambil dua pil sekaligus dan juga segelas air putih membawanya ke Raya dan memaksa wanita itu meminumnya.


Gleg


Wanita itu meminumnya dan menatap Andreas kecewa, selalu saja dia di berikan pil peluruh fertilisasi ini. Andreas tak ingin memiliki anak dari kandungan wanita murahan ini bukan? Dia bukan lelaki bodoh.


Andreas segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.


Setelahnya dia keluar kamar mandi dan mencampakkan handuk lainnya pada Raya, "Pakai dan segera mandi. Setelah itu kita akan langsung berangkat."


"Kita pergi bersama?" Kata Raya dengan mata berbinar. Mengharap lebih dari usaha yang dia lakukan.


"Kau gila? Kau ingin memancing prasangka orang lain hm? Jangan bodoh! Aku akan pergi terlebih dahulu dan kau menyusul setelahnya." Tekan Andreas dengan mata tajam.


Raya mendengus dan terpaksa mengikuti apa yang di katakan Andreas. Dia masih berharap agar lelaki itu segera memutuskan Melodi.


Raya segera masuk ke dalam kamar mandi. Raya mengacau kesal, apa yang sebenarnya ada di otak Andreas? Kenapa harus Melodi? Dia hanya wanita kuno, bahkan berhubungan badan saja tak mau. Bagaimana Andreas sangat terikat padanya?! Dari segi apa? Batin Raya bergemuruh panas setiap kali mengingat Melodi.


"Lihat saja, aku akan mendapatkan Andreas!" Ucap Raya yakin.


***


Rasanya Victor begitu resah dengan apa yang dia lihat tadi pagi, dia harus segera memberitahu Melodi.


Victor segera menuju rumah sakit tempat Melodi bekerja setiap harinya. Dia harus dan wajib memberitahukan kebenaran ini.


Tepat jam makan siang Victor melaju ke rumah sakit dan menuju ruangan Melodi.


Victor masuk dan mendapati Melodi masih dengan seorang klien nya. Seorang anak ibu dan anak ke kecil bersamanya. Melodi tersenyum bahagia mendengar canda tawa yang di lontarkan sang ibu mengenai anaknya itu.


Haruskah Victor mengacaukan kesenangan Melodi hari ini?


Setelah berkonsultasi Sang ibu dan akan itu keluar dan Victor pun masuk ke dalam ruangan Melodi.


"Apa apa?" Tanya Melodi yang terlihat masih tersenyum.


"Iya?"


Terdengar pintu ruangan Melodi terbuka dan menampakkan sosok yang membuat darah Victor mendidih.


Dia menatap tajam Victor dan segera menatap hangat Melodi dan berjalan ke arah Melodi, dia memeluk Melodi erat dan tersenyum, "Sayang rinduu..."


Victor berdecih mendengar itu dan segera mendekatkan dirinya menatap Melodi, "Dia selingkuh Mel. Kau tau aku memergoki dia dan seorang wanita. Mereka berpelukan sangat erat,"


Andreas segera menyelipkan rambut Melodi di telinganya dan mengusap pipi Melodi, "Aku sayang kamu, untuk apa selingkuh?"


Victor membulatkan matanya, bagaimana Andreas begitu tak sadar diri padahal sudah jelas jelas ketahuan, "Aku punya bukti." Victor menatap tajam Andreas.


Andreas terdiam namun tetap berusaha tenang sambil menyusun kata kata yang akan di jadikannya alasan.


Victor tersenyum miring dan menunjukkan foto itu, "Lihat, aku tak berbohong."


"Itu mati," kata Melodi seketika membuat Andreas yang tadinya tak melihat hp Victor beralih melihatnya dan tersenyum kecil, dia selamat.


Victor melihat hp nya dan benar saja hpnya padam total, "Tapi beneran.. Andreas selingkuh." Victor terus meyakinkan Melodi.


"Jangan mengada ada Vic, pergilah dan jangan suka cari masalah. Untuk kali ini aku memaafkan mu, tapi tidak untuk besok," kata Andreas dengan suara lembut seakan memaafkan perilaku Victor yang mencoba merusak hubungannya dengan Melodi.


Victor menganga tak percaya, "Woy gila ya?"


Andreas mengangguk dan berdiri tegak dan berjalan ke arah Victor sambil merangkulnya, "Aku akan mengantar ke luar. Kau sungguh mengacau."


Andreas menarik tubuh Victor namun segera di tepis Victor, Victor kembali melihat ke arah Melodi, "Aku akan buktikan Mel, kalau hpku sudah ku isi dan akan ku kirim foto aslinya. Mel.."


"Vic, sudahlah. Kau tak perlu mengatakan apapun, kau perlu istirahat, ku rasa kau terlalu memikirkan banyak hal," Melodi menyarankan dan mengalihkan pandangannya dari Victor kembali ke lembar diagnosa yang ada di hadapannya.


Victor tak habis pikir. Melodi sepercaya itu dengan Andreas, ini gila, tapi Melodi tampaknya sudah di butakan cinta, "Mel! Apaan?! Buka matamu Mel, dia udah bohong-"


"Vic, cukup. Lakukan saja pekerjaanmu, biar aku mengurus apa yang terjadi padaku dan jangan mencampurinya." Melodi menatap dingin Victor.


Victor terdiam dan kembali mengangguk dan bertepuk tangan, "Oh, hebat. Sulit ya menjelaskan pada orang yang sudah gelap pandangannya. Terserah." Victor pergi meninggalkan Andreas dan Melodi.


Andreas tersenyum miring singkat dan tanpak sangat bangga mendapatkan kepercayaan Melodi. Dia tak sangka ternyata memang Melodi mencintainya.


Andreas kembali pada Melodi dan memeluk wanita kepunyaannya itu, "I love you."


"Love you too."


***


Victor bekerja dengan sangat kesal dan moodnya sungguh terganggu sedari tadi pulang dari rumah sakit sampai pulang ke rumahnya.


"Melodi bodoh! Biarkan saja dia dengan si penipu itu! Dia pikir aku ini apa? Sudah bagus di beritahu malah membela si b*rengsek itu. Bodoh!"


Umpat Victor dalam mobilnya dalam perjalanan pulang.


Victor tak perduli dan kini dia langsung pulang saja, dia memblokir nomor Melodi dan juga Andreas. Biarkan saja!


Setelah sampai di rumah Victor mandi dan mengganti bajunya, merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai menutup mata. Letih dia rasakan hari ini dan semoga besok harinya lebih baik lagi.


Harapan Victor dia tak mau berjumpa dengan Melodi sampai kapanpun lagi. Titik.